Inilah Beberapa "Sumbangan" Kata Bahasa Indonesia untuk Bahasa Inggris

Inilah Beberapa "Sumbangan" Kata Bahasa Indonesia untuk Bahasa Inggris

Ilustrasi kota kecil di Inggris © unsplash.com

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa 9 dari 10 kata dalam bahasa Indonesia adalah sumbangan dari bahasa asing. Tapi kita tak perlu lantas minder, karena ternyata kata-kata bahasa Indonesia kita juga ternyata menyumbang banyak kata untuk kamus bahasa Inggris, Oxford. Ada bermacam kata, mulai nama makanan, tumbuhan, hewan, hingga budaya dan busana tradisional yang diserap oleh bahasa Inggris dan masuk ke kamus Oxford. seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia, ada lebih dari 10 kata yang benar-benar ditulis dan diucapkan sesuai seperti aslinya.

Misalnya,..Batik. Meski juga diakui oleh Malaysia, Oxford menyatakan bahwa batik sebagai produk budaya Jawa. Dalam kamus Oxford, batik tetap ditulis seperti asli. Tertulis dalam kamus, arti batik adalah metode (aslinya digunakan di Jawa) memproduksi desain berwarna di atas tekstil dengan mencelupkannya, setelah pertama mengaplikasikan lilin ke bagian yang akan dibiarkan tak tercelup. Arti kedua, pakaian yang dicelup menggunakan metode batik.

Selain itu, masih ada kata ikat. Oxford menulis, definisi kata itu adalah kain yang dibuat dengan teknik dekoratif Indonesia, dilengkungkan atau dimasukkan lungsin atau keduanya, dan dicelup warna sebelum ditenun. Bukan hanya di bidang fesyen, kata Indonesia juga menyerbu kamus Oxford perkara makanan. Lihat saja satai, sambal, tempeh, dan rambutan. Keempatnya bisa ditemukan dengan arti sama seperti maknanya dalam bahasa Indonesia.

Menurut Oxford, satai adalah makanan Indonesia dan Malaysia yang terdiri atas potongan kecil daging yang dipanggang dan ditusuk, disajikan dengan saus pedas yang mengandung kacang. Sementara sambal, diartikan sebagai makan kesukaan atau perangsang nafsu yang dibuat dengan sayur, buah, atau pedas-pedasan. Tempeh merupakan makanan Indonesia yang dibuat dengan menggoreng kacang kedelai yang difermentasi.

Sedangkan rambutan, adalah buah tropis merah seukuran plum dengan duri lunak dan agak asam. Selain itu, Indonesia juga masih punya kata durian di kamus Oxford. Artinya, buah tropis oval berduri yang terdiri atas daging lembek yang seperti krim. Durian juga dijelaskan beraroma busuk, tapi rasanya bernilai tinggi.

Budaya tradisional pun menyumbang untuk kamus Oxford. Gamelan diartikan sebagai alat musik instrumen tradisional di Jawa dan Bali, termasuk banyak instrumen perkusi perunggu. Masih ada pula kata parang, yang diartikan sebagai golok yang berasal dari Melayu. Dari kawanan binatang, salah satu sumbangan adalah orangutan.

Di kamus mana pun, hewan primata itu tetap disebut sesuai nama aslinya. Oxford mendefinisikannya sebagai kera soliter besar dengan rambut merah panjang, lengan panjang, tangan dan kaki melipat, dan asli Kalimantan serta Sumatera. Jika kata-kata itu belum membuat Anda terkejut, masih ada dugong. Kata yang sering menjadi bahan ejekan di Indonesia itu ada di kamus Oxford, dan diambil dari kata duyung.

Artinya adalah sapi laut di pesisir Samudera Hindia dari timur Afrika sampai utara Australia.

(Sumber : http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150305150326-241-36990/serbuan-kata-indonesia-dalam-kamus-oxford/)

Pilih BanggaBangga66%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang10%
Pilih Tak PeduliTak Peduli6%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi7%
Pilih TerpukauTerpukau9%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Taklukkan Puluhan Negara, Busana Asal Jember Juara di Karnaval Internasional Sebelummnya

Taklukkan Puluhan Negara, Busana Asal Jember Juara di Karnaval Internasional

Inilah 6 Tokoh yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional 2019 Selanjutnya

Inilah 6 Tokoh yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

1 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.