Torro Margens: Ketika Sang Uka-Uka Tutup Usia

Torro Margens: Ketika Sang Uka-Uka Tutup Usia

Torro Margens di iklan SNICKERS © YouTube Madpop

Sorotan matanya tajam, dengan raut muka garang. Badannya tinggi besar dengan rambut ikal terurai. Sebuah perawakan yang sangat “antagonis”, sesuai peran-peran yang kerap dimainkan Torro Margens di perfilman Indonesia.

Sutoro Margono nama aslinya, tapi publik lebih mengenalnya dengan nama panggung Torro Margens. Dengan suara serak dan beratnya, beliau bisa dibilang terlahir alami untuk menjadi spesialis aktor antagonis.

Sangat sulit memang mencari perbandingan kualitas aktor-aktor antagonis lainnya dengan seorang Torro Margens. Aura antagonis bahkan sudah terpancar kuat dalam dirinya, tanpa perlu bersuara maupun bergerak sekalipun. Mungkin hanya Ray Sahetapy yang bisa mendekati level antagonis Torro.

Namun siapa sangka, Torro ternyata tidak langsung terlahir sebagai aktor jempolan.

Dulunya beliau adalah pekerja kantoran di Jakarta. Torro yang lahir di Pemalang, Jawa Tengah, tanggal 5 Juli 1950, merantau ke ibu kota di tahun 1970-an. Beliau kemudian melakoni debut sebagai aktor di tahun 1974, saat membintangi film Neraka Perempuan.

Debutnya berlangsung mulus, tapi tak langsung membuatnya beralih profesi. Kala itu Torro sempat kembali ke pekerjaannya sebagai pegawai kantor, lantaran mendapat tawaran sebagai penerjemah. Akan tetapi karena tidak betah Torro tak lama kemudian memutuskan kembali ke dunia seni peran.

Bisa dikatakan keputusan Torro saat itu sangat berani. Sebab di era tersebut berkarier sebagai pemain film belum bisa dijadikan pekerjaan utama. Untuk mencukupi kebutuhan harian, Torro pun tak segan untuk mencari pekerjaan sampingan seperti mengecat trotoar.

“Setelah keluar (dari kantor), saya mulai lagi dari nol. Siang syuting film, malam hari saya pernah ngecat trotoar untuk menyambung hidup,” ucapnya, seperti dikutip dari Tirto.

Sebuah kerja keras yang tidak mengkhianati hasilnya. Dengan beragam upaya tersebut, Torro muda akhirnya sukses mengepakkan sayapnya di dunia perfilman Indonesia, dan hingga kini terus menjadi ikon aktor antagonis Indonesia.

Deretan film-film ternama Tanah Air pernah dibintanginya. Si Buta dari Goa Hantu (1977), Sirkuit Kemelut (1980), Ken Arok-Ken Dedes (1983), Tutur Tinular III (1992), Si Kabayan Mencari Jodoh (1994), 9 Naga (2006), Tendangan dari Langit (2011), dan yang terbaru Love for Sale (2018).

Torro Margens di segmen Uka-Uka | Foto: Kabar Makassar
Torro Margens di segmen Uka-Uka | Foto: Kabar Makassar

Ketika Uka-Uka tutup usia

Tak hanya membintangi film, Torro Margens juga populer berkat acara Gentayangan di TPI awal tahun 2000-an. Dengan ucapan “Uka-Uka” yang merupakan akronim dari Uji Keberanian dan Uji Kebenaran, Torro memandu segmen untuk menguji nyali peserta di sebuah tempat yang diyakini dihuni banyak makhluk halus.

Karakternya di acara Gentayangan terlihat sangat alami dan sangat mendalam pembawaannya. Torro yang dengan perawakan khas aktor antagonisnya, dengan natural menjadi sosok dengan kesan seram di acara mistis. Cocoklogi.

Berkat Torro pula, Gentayangan dapat bersaing ketat dengan para kompetitornya seperti Dunia Lain, Percaya Ga Percaya, Ekspedisi Alam Gaib, dan Pemburu Hantu. Kariernya sebagai pemandu segmen Uka-Uka terus berlanjut hingga program Gentayangan ditutup karena semakin sepi penonton.

***

Dini hari ini (4/1) kabar duka itu datang menyelimuti langit dunia perfilman Indonesia. Aktor kawakan, seorang tokoh antagonis alami, bintang iklan yang ikut mempopulerkan kalimat "Lu rese kalo lagi laper", dan pria yang lekat dengan ucapan “Uka-Uka”, yakni Torro Margens, menghembuskan napas terakhirnya di usia 68 tahun.

Sebelum meninggal Torro sempat menjalani syuting film di Yogyakarta. Menurut keterangan anaknya, Toma Margens, sepulang dari syuting sang ayah muntah darah dan dirawat di rumah sakit selama 4-5 hari. Namun kondisinya terus memburuk, dan menjadi kritis sekitar pukul 11 malam kemarin (3/1).

“Iya sepulang syuting di Jogja terus anfal, muntah darah. Terus diurusin sama kru sana, empat hari atau lima hari tuh di RS. Jam 8 malam langsung dibawa ke rumah sakit. Terus di rumah sakit muntah darah dua kali. Darahnya sudah enggak kayak darah, kayak ati ayam gitu. Baru sekarang nih tahu dia masuk ke rumah sakit jam 9, jam 10 malam, jam 11 dikabarin kritis, jam 1 udah meninggal,” terangnya pada detikHOT.

Selamat jalan Torro Margens, seorang aktor antagonis dengan kepribadian romantis. Deretan karyamu akan terus kami kenang, dan semoga mendapat tempat terbaik di sisiNya.


Sumber: Mojok.co, detikHOT, Tirto.id, Solopos

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih50%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DreadOut: Nuansa Mencekam di Gim dan Filmnya Sebelummnya

DreadOut: Nuansa Mencekam di Gim dan Filmnya

Selandia Baru yang Jatuh Cinta dengan Kopi Instan Indonesia Selanjutnya

Selandia Baru yang Jatuh Cinta dengan Kopi Instan Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.