Beberapa hari terakhir ini, media-media seluruh dunia menyiarkan secara luas keberhasilan China mendaratkan pesawat ruang angkasa tanpa awak Chang'e-4 di sisi jauh Bulan (sering juga disebut sebagai 'Sisi Gelap Bulan'), dalam pendaratan pertama yang pernah dilakukan di bagian Bulan yang tak pernah tampak dari Bumi itu. Pada 3 Januari 2019 lalu, wahana penjelajah Chang'e-4 mendarat di lembah Aitken di Kutub Selatan Bulan dengan membawa serta instrumen untuk merumuskan geologi kawasan, serta melakukan percobaan biologi.

Pendaratan itu merupakan 'tonggak penting dalam eksplorasi ruang angkasa China bahkan dunia, karena ini merupakan kali pertama sebuah pesawat mendarat di sisi jauh Bulan yang belum pernah dijelajahi. Misi-misi sebelumnya yang dilakukan Amerika dan Rusia dilakukan di sisi Bulan yang menghadap Bumi.

Chang'E 4 di Sisi Gelap Bulan } gadgets360cdn.com
Chang'E 4 di Sisi Gelap Bulan } gadgets360cdn.com

China memang tergolong ‘pendatang baru’ di bidang eksplorasi ruang angkasa. Baru pada tahun 2003 mereka mengirim astronot pertamanya ke orbit, untuk menjadi negara ketiga yang melakukannya, setelah Uni Soviet dan AS.

Sejak tahun 2003, China telah melakukan lima misi berawak sebelumnya dan berhasil mendaratkan pesawat penyelidik di bulan. China tergolong sangat cepat mengejar ketertinggalannya dalam bidang eksplorasi luar angkasa. Tahun 80-an, mungkin tak ada yang akan mengira bahwa China akan menjadi negara yang begitu maju dalam berbagai bidang seperti sekarang ini.

Shenzen, kota 'baru' yang tumbuh cepat | atimes.com
Shenzen, kota 'baru' yang tumbuh cepat | atimes.com

Pertumbuhan ekonomi China yang sangat cepat dalam 3 dekade terakhir telah membuat negeri Middle Kingdom (Kerajaan Tengah) tersebut mempunyai punya banyak ruang untuk melakukan berbagai hal, termasuk membangun kemampuan mengeksplorasi angkasa.

Meski begitu, kini kita sering mendengar bagaimana pertumbuhan ekonomi China yang mulai melambat, tak lagi 2 digit seperti sebelum-sebelumnya. Ada yang khawatir negeri ini akan terperangkap dalam middle-income trap (jebakan kelas menengah).

Jebakan Kelas Menengah (JKM) ini seringkali didiskusikan, namun seringkali salah dimengerti. JKM sebenarnya adalah hilangnya momentum pertumbuhan ekonomi sebuah negara berkembang, dan pertumbuhan ekonomi melambat dan stagnan, dan tak mampu naik kelas menjadi negara yang maju. Seringkali, negara ini kehilangan momentum di saat-saat kritisnya.

Mobil listrik LeEco, made in China | kinja-img.com
Mobil listrik LeEco, made in China | kinja-img.com

Banyak negara berkembang di Amerika Latin dan Asia Tenggara memulai membangun ekonominya pada akhir 50-an. Namun, banyak dari mereka gagal menjadi negara dengan pendapatan tinggi, baik karena pertumbuhannya bertumpu pada ekspor produk produk primer, maupun karena proses industrialisasi mereka terjebak pada sustitusi ekspor yang terlalu lama, sehingga mereka gagal membuat transisi yang sukses menjadi negara yang berorientasi ekspor.

Filipina adalah satu kasus yang bisa dikemukakan dan menjadi bahan pembelajaran. Inilah negara pertama yang memulai proses industrialisasi pada awal 50-an, namun setelahnya, Filipina bergerak lambat dan terjebak menjadi negara dengan pendepatan menengah ke bawah selama setengah abad.

Populasi besar, perlu rencana besar | Business Insider
Populasi besar, perlu rencana besar | Business Insider

Dalam laporan Bank Dunia, dari sekitar 100 negara berpendapatan menengah pada tahun 1960, hanya 13 negara (hampir semuanya negara yang relativ kecil atau sedang) telah menjadi negara berpendapatan tinggi sebelum tahun 2008. Di Asia Timur kita mengenal Jepang dan 4 "little dragon" yakni Korsel, Taiwan, Hongkong, dan Singapore, yang berhasil melewati masa-masa kritis Jebakan Kelas Menengah dan menjadi negara kaya. Mereka adalah negara-negara yang sukses bertransisi dari substitusi impor menjadi orientasi ekspor.

Bagaimana dengan China ?

China adalah salah satu contoh negara yang seringkali diperdebatkan terkait dengan Jebakan Kelas Menengah. Setiap kali pertumbuhan ekonominya melambat, selalu saja orang menganggap bahwa negara tersebut akan terjebak dalam JKM. Bahkan baru-baru ini, Menkeu-nya Lou Jiwei menyatakan bahwa kemungkinan China masuk Jebakan Kelas Menengah lebih besar dari 50%. Pemerintah China seolah sengaja menyampaikan ancaman Jebakan Kelas Menengah tersbeut untuk mengingatkan rakyatnya berbagai macam hambatan dan tantangan yang tengah China hadapi.

Benarkah China akan masuk dalam Jebakan Kelas Menengah?

Mari kita awali dengan menganalisa PDB negara tersebut. Pada tahun 2015, pendapatan perkapita China adalah $8,300 (bandingkan dengan AS $56,000 atau Singapura $53,000).

Untuk negara dengan populasi besar, memang cukup sulit untuk mencapai pendapatan perkapita yang tinggi (padahal China sudah tumbuh sangat tinggi dalam 3 dekade terakhir). Negara-negara seperti China, India, atau Indonesia akan menemui banyak tantangan dalam mengatasi jebakan kelas menengah.

Robotisasi China, sedang berlangsung | The Stack
Robotisasi China, sedang berlangsung | The Stack

Pertanyaannya sekarang adalah, berapa lama yang dibutuhkan China untuk menjadi negara berpendapatan tinggi? Jawabannya adalah tergantung dari berapa cepat China menumbuhkan kembali ekonominya. Perlambatan ekonomi China memang sedang terjadi, dan rasanya akan terus berlangsung.

Namun benarkah ekonomi China begitu lambat? Atau apakah perlambatan tersebut sengaja "dibesar-besarkan" oleh media?

Sebenarnya, mereka tidak tumbuh selambat yang selama ini kita bayangkan. Mereka 'terlihat' lambat karena selama ini kita mengenal China tumbuh begitu cepat. Tahun 2018, mereka diperkirakan (angka pastinya belum dirilis) 'hanya' tumbuh 6.5 %, dan itu adalah pertumbuhan ekonomi yang tergolong tinggi di dunia saat ini, terutama di negara dengan ekonomi besar seperti China.

Made in China 2025 | kingstar.com
Made in China 2025 | kingstar.com

Presiden China menyatakan bahwa pertumbuhan China memang akan dijaga tetap sedang (tidak tinggi seperti sebelumnya), dan inilah "the New Normal". Pemerintah China berkali-kali menyatakan bahwa mereka punya banyak rencana dan sumber daya yang cukup untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil.

Dan untuk menjaga pertumbuhannya tetap kuat dan stabil, China memang harus menggunakan sumber daya yang ada untuk menumbuhkan ekonomi yang disertai dengan inovasi dan mengembangkan teknologi, dan juga mempercepat restrukturisasi industri.

Dan mereka sedang melakukan hal tersebut.

China telah secara cepat mengembangkan berbagai riset dan develpment yang mencapai 2.1% dari PDB(AS mencapai 2.8%). Selama beberapa tahun terakhir, China adalah negara dengan paten dan penemuan terbanyak di dunia. Pada tahun 2017, ada 1.37 juta hak paten yang diajukan!

China juga sudah menjadi rumah bagi para ilmuwan yang begutu banyak, sekitar 3.5 juta ilmuwan bidang sains dan teknologi aktif melakukan kegiatan R&D. Dengan 8 juta lulusan perguruan tinggi tiap tahun ke dalam dunia sains, industri yang makin besar dan maju, China memang sedang menyiapkan diri, dan sepertinya on-track menghasilkan penambahan produktifitas untuk mendukung pertumbuhan ekonominya di masa depan.

Di bidang restrukturisasi industri, China juga melangkah maju dengan slogan "Made in China 2025", sebuah masterplan (yang mirip dengan "Industry 4"-nya Jerman di masa lalu), untuk mendorong manufaktur yang intensif. Hal ini ditujukan untuk secara fundamental mentransformasikan sektor manufaktur China dari raksasa global bidang volume dan output barang, menjadi kekuatan manufaktur utama di dunia dalam hal kualiytas dan high-tech. Slogan kunci industri manufaktur China akan berubah dari 'made in China" menjadi "Created in China", yang berfokus pada 10 sektor, teknologi, robotik, pesawat besar, dan bioteknologi.

China pun tanpa gentar menghadapi tantangan AS untuk perang dagang. Rasanya, tak ada negara yang secara terang-terangan berani ‘melawan’ sang adikuasa, kecuali sang Kerajaan Tengah ini.

Mereka toh sudah mempersiapkan diri dari A to Z.

Pesawat C919 made in China, pertama | CCTV USA
Pesawat C919 made in China, pertama | CCTV USA

Dengan berbagai investasi, rencana aksi, dan hal-hal yang sudah mereka lakukan kini, termasuk mendaratkan Chang'E ke sisi gelap bulan, akan menyiapkan China tak hanya mampu mengatasi Jebakan Kelas Menengah, namun bahkan akan mampu menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi pada 2030.

Kesimpulannya, China berbeda dari negara-negara lain yang sebelumnya gagal melewati masa krisis Jebakan Kelas Menengah. Mereka telah menyiapkan diri, tak hanya untuk sekarang, tapi untuk puluhan tahun ke depan.

Bagaimana Indonesia?

Sumber :

Worldbank.org

Straitstimes.com

Businessinsider.com

CCTV.com

Wipo.org

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu