Surakarta dan Solo, Podo Ora Yo?

Surakarta dan Solo, Podo Ora Yo?

Pemandangan kota Surakarta © Maulana Surya/Antara

Pertanyaan itu sering terlintas di benak banyak orang, tapi hanya segelintir mengetahui jawabannya. Surakarta dan Solo, dua nama untuk satu kota, yang sedang berulang tahun ke-273 tahun ini, ternyata memiliki sejarah panjang.

Sejarah ini menyangkut tentang bagaimana kota Surakarta terbentuk, dan bagaimana nama Solo mulai muncul. Keduanya saling berkaitan, dalam sejarah masa lampau kota yang memiliki slogan The Spirit of Java ini.

Cerita bermula dari Kraton Kartosuro yang mendapat serbuan dari pemberontak kerajaan Mataram. Dikarenakan serbuan dahsyat itu, Kraton Kartosuro langsung hancur lebur porak poranda. Alhasil, Pakubuwono II memerintahkan beberapa orang untuk memilih tempat didirikannya pusat pemerintahan kerajaan baru.

Setelah orang-orang utusan raja tersebut berkelana, akhirnya didapat tiga usulan desa, yaitu desa Kadipala, desa Sala, dan desa Sana Sewu. Atas usulan dari Tumenggung Hanggawangsa, Pakubuwono II lalu menetapkan pilihan ke Sala, dan menamai daerah tersebut menjadi Surakarta Hadiningrat.

Kejadian itu berlangsung pada tanggal 17 Februari 1745, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Surakarta. Lalu bagaimana ceritanya bisa berubah nama jadi Solo?

Ini tak lepas dari kebiasaan kesalahan pelafalan orang-orang Belanda, yang melafalkan Sala jadi Solo, persis seperti Batavia yang menjadi Betawi. Nama Solo tersebut kemudian digunakan sampai sekarang, bersamaan dengan Surakarta. Solo kerap dipakai untuk penyebutan di bahasa sehari-hari, sedangkan Surakarta untuk penyebutan nama secara formal.

Jadi Kawan GNFI sekarang sudah tahu kan sekarang bedanya nama Surakarta dan Solo? Ternyata memang podo wae (sama saja), hanya berbeda di sejarah kemunculan namanya.

Selamat ulang tahun ya, kota Surakarta! Sugeng ambal warso!


Sumber: GeoNusantara, surakarta.pro

Pilih BanggaBangga38%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang19%
Pilih Tak PeduliTak Peduli12%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau27%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Semarang Ibu Kota Kartun Indonesia, Kok Bisa? Sebelummnya

Semarang Ibu Kota Kartun Indonesia, Kok Bisa?

Potret Penulis Perempuan Indonesia Selanjutnya

Potret Penulis Perempuan Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.