Surakarta dan Solo, Podo Ora Yo?

Surakarta dan Solo, Podo Ora Yo?

Pemandangan kota Surakarta © Maulana Surya/Antara

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Pertanyaan itu sering terlintas di benak banyak orang, tapi hanya segelintir mengetahui jawabannya. Surakarta dan Solo, dua nama untuk satu kota, yang sedang berulang tahun ke-273 tahun ini, ternyata memiliki sejarah panjang.

Sejarah ini menyangkut tentang bagaimana kota Surakarta terbentuk, dan bagaimana nama Solo mulai muncul. Keduanya saling berkaitan, dalam sejarah masa lampau kota yang memiliki slogan The Spirit of Java ini.

Cerita bermula dari Kraton Kartosuro yang mendapat serbuan dari pemberontak kerajaan Mataram. Dikarenakan serbuan dahsyat itu, Kraton Kartosuro langsung hancur lebur porak poranda. Alhasil, Pakubuwono II memerintahkan beberapa orang untuk memilih tempat didirikannya pusat pemerintahan kerajaan baru.

Setelah orang-orang utusan raja tersebut berkelana, akhirnya didapat tiga usulan desa, yaitu desa Kadipala, desa Sala, dan desa Sana Sewu. Atas usulan dari Tumenggung Hanggawangsa, Pakubuwono II lalu menetapkan pilihan ke Sala, dan menamai daerah tersebut menjadi Surakarta Hadiningrat.

Kejadian itu berlangsung pada tanggal 17 Februari 1745, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Surakarta. Lalu bagaimana ceritanya bisa berubah nama jadi Solo?

Ini tak lepas dari kebiasaan kesalahan pelafalan orang-orang Belanda, yang melafalkan Sala jadi Solo, persis seperti Batavia yang menjadi Betawi. Nama Solo tersebut kemudian digunakan sampai sekarang, bersamaan dengan Surakarta. Solo kerap dipakai untuk penyebutan di bahasa sehari-hari, sedangkan Surakarta untuk penyebutan nama secara formal.

Jadi Kawan GNFI sekarang sudah tahu kan sekarang bedanya nama Surakarta dan Solo? Ternyata memang podo wae (sama saja), hanya berbeda di sejarah kemunculan namanya.

Selamat ulang tahun ya, kota Surakarta! Sugeng ambal warso!


Sumber: GeoNusantara, surakarta.pro

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga39%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang21%
Pilih Tak PeduliTak Peduli9%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau21%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Semarang Ibu Kota Kartun Indonesia, Kok Bisa? Sebelummnya

Semarang Ibu Kota Kartun Indonesia, Kok Bisa?

Sejarah Hari Ini (7 Juli 1977) - Museum Bahari, Tempat Memamerkan Kemaritiman Indonesia Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (7 Juli 1977) - Museum Bahari, Tempat Memamerkan Kemaritiman Indonesia

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

0 Komentar

  • ayu

    Komentar telah dihapus oleh Admin

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.