Robot Penyubur Cabai Karya Mahasiswa Universitas Brawijaya Juara Internasional

Robot Penyubur Cabai Karya Mahasiswa Universitas Brawijaya Juara Internasional

Ilustrasi © Pixabay.com/Basecamp_Stock

Agrowbot, robot pertanian ramah lingkungan yang diciptakan kolaborasi mahasiswa Fakultas Teknik dan Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, mampu meningkatkan produksi cabai merah.

Mereka yakni Candra Sabdana Nugroho (Fakultas Teknik), Alvan Fajarudin (Fakultas Pertanian), Kris Wahyuningsih (Fakultas Pertanian), Iklillah Maulidiyah Warda (Fakultas Pertanian), dan Alwan Afif Fadhillah (Fakultas Pertanian).

Kelima mahasiswa ini berhasil meraih Silver Medal di ajang 2019 Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition in Thailand Inventor’s Day di Bangkok International Trade & Exhibition Centre, Thailand, 2-6 Februari 2019.

"Kami memilih ini karena ketersediaan cabai merah di Indonesia masih sangat minim (kurang). Sementara kebutuhannya cukup tinggi. Minimnya produksi cabai merah di Tanah Air bisa karena serangan hama atau kena penyakit," kata Candra Sabdana Nugroho pada Tempo.

Kolaborasi mahasiswa Fakultas Teknik dan Pertanian berhasil meraih medali perak di Bangkok, Thailand beberapa waktu lalu lewat robot pertanian, Agrowbot. Foto: Suryamalang.com
Caption

Menyinggung cara kerja Agrowbot, Candra menerangkan untuk sistem kerjanya, robot itu bisa membangkitkan medan elektromagnetik pada tanah yang bisa memicu imun atau ketahanan tanaman cabai sehingga lebih tahan penyakit dan bisa memicu percepatan fotosintesis.

Selain itu, robot juga bisa memantau suhu, kelembaban dan intensitas cahaya. Robot akan berjalan otomatis di areal pertanian dan pemilik lahan bisa memantaunya dari jauh misalkan lewat telepon genggam (HP).

“Dengan adanya penerapan teknologi ini diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi cabai merah di Indonesia dan menjadi solusi teknik budidaya yang ramah lingkungan,” beber Candra

Menurut keterangan resmi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Agrowbot dapat digunakan setiap 1 minggu sekali selama masa tanam cabai merah, untuk mendapatkan hasil yang optimal dapat digunakan sebanyak 10-12 kali selama masa tanam dengan waktu pemaparan selama 90 menit tiap penggunaan.

"Ini masih penelitian awal. Masih belum bisa diaplikasikan karena perlu pengembangan lagi, termasuk metodenya agar bisa efektif dan efisien,” ujarnya

Apabila Agrowbot diterapkan pada skala kecil (petani) maupun besar (perusahaan), diharapkan dapat membantu mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida anorganik dan meningkatkan hasil panen.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mahasiswa ITB Borong Penghargaan di Kompetisi Dunia i-CAPS dan d-CAMP di Taiwan Sebelummnya

Mahasiswa ITB Borong Penghargaan di Kompetisi Dunia i-CAPS dan d-CAMP di Taiwan

Osvaldo Haay Top Skor Sementara di SEA Games 2019 Selanjutnya

Osvaldo Haay Top Skor Sementara di SEA Games 2019

Indah Gilang  Pusparani
@indahgilang

Indah Gilang Pusparani

http://www.indahgilang.com

Indah graduated from MSc Development Administration and Planning from University College London, United Kingdom in 2015. She finished bachelor degree from International Relations from University of Indonesia in 2014, with two exchange programs in Political Science at National University of Singapore and New Media in Journalism at Ball State University, USA. She was awarded Diplomacy Award at Harvard World Model United Nations and named as Indonesian Gifted Researcher by Australian National University. She is an Editor at Bening Communication, previously worked at the Commonwealth Parliament Association UK and a diplomacy consulting firm Best Delegate LLC in USA.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.