Menti Gentar, Orang Rimba dari Makekal Ilir ini tampak begitu bersemangat dengan biji-biji jernang yang ada di tangannya. Dia bersama 28 Orang Rimba yang berasal dari 11 kelompok Orang Rimba yang ada di Taman Nasional Bukit Duabelas dan tiga kelompok Orang Rimba di Jalan Lintas Bungo, Pemenang dan Sarolangun sedang mengikuti Pelatihan Budidaya dan Pengelolaan Pasca Panen Hasil Hutan Bukan Kayu yang diadakan KKI WARSI di Jambi.

Pelatihan ini meliputi kegiatan pembelajaran pengawetan rotan dan budidaya jernang. Kedua jenis tanaman ini sangat dekat dengan kehidupan Orang Rimba. Sejak dahulu Orang Rimba menggantungkan hidupnya dengan berburu dan mengambil hasil hutan diantaranya damar, rotan dan jernang. Dulunya mereka membarter jernang dengan kain dan makanan.

Jernang (Dhaemorhop draco) yang memiliki nilai jual yang tinggi, tumbuh merambat di hutan tropis di ketinggian sekitar 800 mdpl. Hutan dataran rendah Jambi yang merupakan juga rumah bagi oang Rimba merupakan tempat yang cocok untuk tumbuh jernang. Dahulu Orang Rimba mudah menemukan rumpun jernang dan memanen buahnya dalam dua kali setahun.

Seperti rotan, jernang tumbuh bisa tumbuh setinggi 25 meter mengikuti pohon inangnya. Berkurangnya pepohonan di dalam hutan akibat berbagai aktivitas baik penebangan maupun alih fungsi hutan menyebabkan keberadaan jernang juga semakin sedikit.

“Dulu kami punya padang jernang (seperti kebun Orang Rimba). Namun seiring dengan menyempitnya wilayah hidup Orang Rimba, kami kesulitan mendapatkan jernang. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit dan tentu saja tidak semua dari kami bisa mendapatkannya,” jelas Menti.

Awalnya mereka sepenuhnya bergantung pada hutan dan tidak mengenal teknik budidaya. Namun menyempitnya ruang hidup karena pembukaan hutan, membuat mereka semakin sulit mengakses hutan sebagai sumber penghidupannya. Meski sudah mengenal hompongan yang ditanami dengan karet, namun hompongan menjadi benteng pertahanan mereka menjaga wilayahnya.

Menyempitnya hutan, membuat Temenggung Tarib mempelopori hompongan dipinggir kawasan hutan dengan batas desa. Sebelum ada hompongan, orang luar rimba bisa dengan leluasa mengambil kayu dan berladang.

Budidaya Jernang

Minimnya pengetahuan dan kemampuan Orang Rimba terkait budidaya ini membuat Erinaldi, Spesialis Ekonomi Hijau KKI WARSI mengenalkan budidaya Jernang yang dapat dipahami dengan cara yang amat sederhana. “Perlu ada teknik budidaya yang sederhana sehingga Orang Rimba bisa memahaminya, dan itu perlu diramu dari berbagai literatur yang ada,” jelasnya.

Jernang tumbuh alami di hutan, namun membutuhkan waktu lama. Saat ini ketersediaan jernang makin tidak memadai, sementara populasi Orang Rimba semakin berkembang.

Budidaya juga sulit dilakukan, karena getah jernang diambil dari buah muda, sehingga sulit mendapatkan buah masak sebagai sumber benih. Pertumbuhan kecambah sekitar enam bulan juga membuat budidaya jernang tidak menarik.

Biji jernang yang nantinya diolah untuk diambil resinnya, menjadi salah satu tumpuan hidup Orang Rimba Jambi | Foto: KKI Warsi

Ada langkah mempercepat pertumbuhan kecambah dalam budidaya jernang, yaitu memisahkan biji dari buah dan dibersihkan. Kemudian mata kecambah dalam biji dicongkel dan direndam sekitar 30 menit. Biji lalu dimasukkan ke plastik bening yang kedap udara. Hasil ujicoba menunjukkan polybag kedap udara dengan pasokan air mempercepat tumbuhnya kecambah.

“Biasanya kecambah akan tumbuh 3-7 hari, lalu dipindahkan ke kotak plastik yang berisi kapas basah dan ditutup. Dan biarkan sampai akar tumbuh, biasanya satu bulan batag dan bakal daun telah tumbuh. Enam bulan hingga setahun, bibit jernang di polybag dipindahkan ke padang jernang yang sudah disiapkan,” jelas Erinaldi.

Tanaman jernang muda sangat digemari monyet, babi dan hewan besar lainnya yang memakan umbut jernang yang rasanya sangat manis. Setelah dipindah ke padang jernang, bibit harus dipagari.

Kelompok Orang Rimba, peserta pelatihan budidaya jernang yang diselenggarakan oleh KKI Warsi, Jambi | Foto: KKI Warsi

Dengan pelatihan ini, diharapkan Orang Rimba mandiri membudidayakan jernang, sebagai tumpuan ekonominya. Biasanya dari satu rumpun jernang, Orang Rimba bisa mendapatkan hasil satu karung buah jernang yang diolah menghasilkan 1,5 kg resin dengan harga sekitar Rp 2,5 juta per kilo gram.

Menjalin Kebersamaan di dalam Komunitas Orang Rimba

Dalam pelatihan tersebut, tiga kelompok Orang Rimba dari Jalan Lintas Bungo, Pemenang dan Sarolangun berharap saudara mereka sesama Orang Rimba yang hidup di Taman Nasional Bukit Duabelas bisa memberikan bibit jernang kepada mereka. Karena sekitar 1.600 Orang Rimba yang hidup di sepanjang jalan lintas, hidup dan bekerja sebagai buruh tebas di kebun-kebun perusahaan sawit. Bahkan menjadi pemulung dan dan belas kasihan masyarakat. Mereka terkepung dan tidak memiliki ruang hidup.

“Kalau kawan-kawan Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas masih senang bisa menanam jernang. Ada bibitnya. Kalau kami yang di jalan lintas ini tidak ada lagi jernangnya. Adanya kebun-kebun sawit,” kata Badai, salah satu kelompok Orang Rimba di Jalan Lintas Bungo.

Melihat kondisi itu, 11 Kelompok Orang Rimba yang ada di kawasan taman nasional bersepakat memberikan bibit jernang bagi kelompok Orang Rimba di jalan lintas. Bahkan kelompok Kedundung Muda dan Makekal Hulu menyepakati dua buah wilayah yang akan dijadikan sebagai padang jernang, sekaligus menjadi sumber benih.

“Kita di Kedundung Muda, menetapkan wilayah Sako Lembing sebagai kawasan Padang Jernang dan Sako Ta’Tan di Makekel Hulu juga untuk sumber benih jernang ini,” tambah Temenggung Grip yang merupakan ketua kelompok Kedundung Muda.


Sumber: Ditulis oleh Elviza Diana dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu