Kelas Inspirasi Musi Rawas dan Masyarakat yang Menginspirasi

Kelas Inspirasi Musi Rawas dan Masyarakat yang Menginspirasi

@ Dok. Qistianap

"Aku harus mengakui bahwa pelaksanaan Kelas Inspirasi Musi Rawas #2 di Dusun Panglero bercampur dengan keringat masyarakat dusunku. Aku katakan dusunku, karena Panglero telah kuanggap rumah."

Pelaksanaan Kelas Inspirasi pada 18 Maret 2019 sebenarnya bertepatan dengan pesta di dusun pada 15-16 Maret 2019. Meskipun beda sehari, tetap saja itu cukup menguras tenaga, terutama bagiku.

Awalnya aku mengira bahwa Kelas Inspirasi tak akan mendapatkan bantuan dari masyarakat karena mereka telah kelelahan melaksanakan pesta. Namun nyatanya?

Pesta hingga menuju Hari Inpirasi

Pesta (bisa resepsi pernikahan, khitanan, selamatan rumah) merupakan hiburan akbar di dusunku karena kepanitiaannya melibatkan seluruh warga dusun.

Momen persiapan acara ini aku jadikan tempat untuk mulai sounding pelaksanaan Kelas Inspirasi. sekaligus permohonan maafku karena tak dapat mengikuti persiapan secara maksimal.

Ternyata, respon mereka sangat luar biasa. Siap mendukung meskipun tenaga terkuras untuk pesta. Akhirnya aku izin keluar desa untuk persiapan Kelas Inspirasi di kabupaten.

Pun sehari sebelum pelaksanaan pesta, aku izin lagi untuk tidak mengajar karena ingin mengabadikan momen masak-masak. Terlebih karena yang mengadakan pesta adalah bapak angkatku di dusun.

Namun, beberapa warga marah karena aku tak mengajar. Mereka justru lebih senang jika aku tak membantu mereka demi mengajar anak-anaknya di sekolah. Wow, sebuah insight baru bagiku. Sebegitu mendukungnya terhadap pendidikan anak mereka.

Pesta dilaksanakan sehari semalam. Minggu pagi selepas pesta, aku langsung keluar seorang diri menggunakan sepeda motor untuk menjemput relawan inspirator dan dokumentator.

Saat aku keluar, guru-guru dan anak-anak sibuk membersihkan sekolah untuk menyambut kedatangan tamu. Beberapa warga juga turut membantu. Minggu yang melelahkan rasanya. Setelah sehari semalam dihajar organ tunggal, paginya harus bersih-bersih sekolah.

Rencana Kelas Inspirasi adalah menuju Panglero menggunakan mobil transportasi pinjaman dari perusahaan. Meskipun menggunakan mobil lapangan, aku tetap saja was-was.

Kekhawatiran ini aku sampaikan pada warga beberapa hari sebelumnya. Ternyata mereka menawarkan transportasi cadangan untuk mendukung Kelas Inspirasi.

Sembari menunggu kedatangan relawan inspirator, di dusun telah bersiap 8 motor beserta pengemudinya. Hal ini disiapkan karena beberapa titik jalan tergenang lumpur yang cukup dalam.

Tak jarang mobil terhambat di titik tersebut. Rencananya adalah, apabila rombongan kami terhambat, aku menelpon, dan jemputan akan datang. Pokoknya segala cara dilakukan agar Kelas Inspirasi sukses!

Alhamdulillah mobil bisa sampai ke Panglero dengan selamat.

Namun, lagi-lagi aku merepotkan warga dusun. Aku memohon izin untuk menginapkan relawan di dua tempat berbeda. Memisahkan laki-laki dan perempuan tentunya.

Perlu aku sampaikan, jauh-jauh hari aku telah berpesan kepada dua warga dusun agar tak usah menyiapkan apapun.

Relawan akan makan apa yang mereka makan, mandi di tempat mereka mandi, dan tidur di tempat mereka tidur. Kenyataannya? Mana mungkin begitu.

Di rumah laki-laki, bapak kepala keluarga telah menguras drum untuk mandi, meminjam mesin pompa untuk menyedot air dari sumur, meminta ibu keluarga agar memancing untuk lauk makan, dan membersihkan rumah. Lalu yang paling keren adalah membeli sarung bantal baru. Aku terharu. Luluh.

Di rumah perempuan, mereka telah menyiapkan instalasi kabel listrik untuk genset pinjaman, membersihkan rumah, dan membeli bola lampu baru. Sungguh persiapan yang mulia.

Hari Inspirasi Kelas Inspirasi

Di luar dugaan, menjelang pelaksanaan Kelas Inspirasi, banyak warga yang bertanya apakah mereka diundang. Aku pun mengatakan bahwa mereka tidak wajib untuk datang, tapi apabila ingin ikut menonton boleh-boleh saja.

Hasilnya? Ada beberapa warga yang meluangkan waktu untuk menonton bahkan membantuku mempersiapkan peralatan dan acara.

Hari itu aku bercerita bahwa kedatanganku di Panglero terlambat karena mobil transportasi terlambat menjemput kami selama satu jam. Aku pun juga menyampaikan bahwa kepulangan kami tak boleh terlambat.

Hal ini sebenarnya tak dapat kukendalikan, karena melibatkan pihak eksternal, yaitu perusahaan yang mobil beserta pengemudinya kami pinjam.

Ternyata, salah satu warga menawarkan bahwa ia yang menelpon karyawan perusahaannya.

Ngomong bae ke perusahaan jemput kagek jangan terlambat ujarku. (Bilang saja ke perusahaan nanti jangan terlambat jemputnya kataku)," kata salah satu warga.

Kusampaikan hal itu ke perusahaan, karena aku ‘menjual’ nama salah satu warga dengan maksud sebagai back-up, alhamdulillah dijemput tepat waktu oleh pihak perusahaan.

Aku tidak akan banyak bercerita tentang pelaksanaan Kelas Inspirasi. Titik beratnya adalah betapa kerennya masyarakat di Panglero yang selalu mendukung kegiatan pendidikan anak-anaknya.

Masih banyak lagi kekerenan-kekerenan yang belum sempat diceritakan. Tunggu saja ya!

*Ditulis oleh Alief Wicaksono, Pengajar Muda XVI Kab. Musi Rawas.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Toleransi dalam Semangkuk Soto Sebelummnya

Toleransi dalam Semangkuk Soto

7.000 km Jalur Baru Kereta Api Akan Dibangun hingga 2030 Selanjutnya

7.000 km Jalur Baru Kereta Api Akan Dibangun hingga 2030

0 Komentar

Beri Komentar