Asyiknya Trekking di World Heritage di Kaki Gunung Batukaru

Asyiknya Trekking di World Heritage di Kaki Gunung Batukaru

Rehat di rumah warga. Sebuah Jineng, bangunan kayu yang berfungsi menaruh hasil panen dan bibit di rumah warga, para petani | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

  • Trekking atau jalan kaki menyusuri alam, termasuk persawahan di kaki Gunung Batukaru yang mengeksplorasi semua indera.
  • Perjalanan ini menyapa semua tumbuhan yang dilalui, menyentuh, mengunyah rasa, dan membaui aromanya.
  • Sebagian besar tanaman berkhasiat, tak hanya sumber pangan juga tanaman obat
  • Lanskap persawahan dan subak di world heritage site Jatiluwih makin terancam

Hamparan sawah mengapit jalan setapak di Desa Penatahan, Penebel, Tabanan, Bali. Motor listrik melaju senyap. Hanya suara lonjakan ban saat beradu dengan jalan berlubang atau berkerikil. Motor tanpa polusi suara tak membangunkan ular sawah dan capung.

Ketut Karmina, pria petani ini tengah mengawasi padinya. Ia menanam padi beras merah dan beras ketan. “Saya tidak tanam palawija karena air di sini lancar tiap tahun,” ujarnya riang. Dua jenis padi yang ditanam juga berusia panjang, 4-6 bulan.

Sawah Karmina adalah titik start perjalanan trekking bersama grup Bali Silent Retreat, sebuah fasilitas menikmati kesunyian di kawasan ini dengan yoga dan berinteraksi dengan alam. Sekitar pukul 09.00 pada Kamis (24/4/2019) lalu sejumlah turis sudah berkumpul di titik ini.

Turis melihat padi di Jatiluwih, Tabanan, Bali | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Sang Ketut Rai Wibawa, seorang pria muda menuntun anjing juga sudah siap memandu. Ia tak mengenakan alas kaki, bertopi jerami, dengan rambut gondrong. Ia menenteng tas karung sebagai wadah sampah yang akan dipungut sepanjang perjalanan.

Tanpa aba-aba khusus, ia langsung memimpin perjalanan trekking pagi ini di kaki gunung Batukaru, sebuah pegunungan di Bali yang masih hijau, sawah dan hutan desa. Ada sejumlah hutan dengan larangan memburu dan menebang hutan. Sanksinya cukup berat, secara sosial dan ritual. Juga ada kawasan word heritage, kawasan subak Jatiluwih yang sudah ditetapkan oleh UNESCO, badan PBB bidang kebudayaan, namun kini menghadapi banyak ancaman.

Sangtu, panggilan Ketut Rai tak mengumbar kata world heritage untuk mendeskripsikan keistimewaan area ini. Ia berjalan perlahan menyusuri persawahan, padi-padi beras merah yang mulai merunduk karena makin banyak tumbuh biji. Mengajak peserta trekking menyentuh dan mengamati tanaman perdu, tumbuhan liar di pematang, dan rerumputan yang dilewati.

Seonggok sisa benih padi yang mulai mengering, sisa dari musim tanam, membuatnya berhenti. Ia berkisah, rumpun padi ini adalah teman tidur yang setia di masa lalu. Sisa batang padi dimasukkan ke kain, lalu dijarit jadi bantal. Aroma sawah sudah jadi teman sejak kecil. Tak ada yang terbuang dari praktik pertanian di masa lalu, tradisi non sintetik dan kimia.

Sangtu menunjuk seorang perempuan petani yang sedang menanam bibit padi. Petani ini menanam dengan membungkuk ke arah gunung. Mundur perlahan, menggunaan langkah kaki sebagai jarak antar benih. Matahari pagi menghangatkan sebagian tubuhnya di sisi timur, tapi tak sampai menyilaukan.

Sangtu, pemandu yang informatif kepada wisatawan peserta trekking untuk mengeksplorasi semua tanaman yang ditemui sepanjang perjalanan | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Tanaman Obat

Rombongan trekking ini berhenti di sebuah bangunan kecil sederhana di tengah sawah. Bale-bale peristirahatan dengan tugu persembahyangan petani di pojok timur laut. Sangtu memetik sebuah rumpun, ia memberi potongan-potongan remahnya pada kami semua untuk dieksplorasi aroma dan teksturnya.

Perjalanan ini adalah penjelejahan indera, tak hanya kaki dan tangan. Mengecap rasa daun, menghirup aromanya, dan meraba teksturnya. Dari belasan pohon dan rumpun yang tumbuh sekitar pematang sawah, jalan setapak kampung, dan depan rumah warga, terbanyak adalah tanaman obat. Ternyata hampir semua gejala seperti batuk, sakit tenggorokan, flu, gatal, dan nyeri sudah ada obatnya di alam. Bahkan di area yang tak didesain khusus untuk area tanaman obat menyusuri sebagian Dusun Mongan dan Piling Kawan, dua kampung yang dilewati jalur trekking ini.

Pohon kelapa di pinggir sawah juga membuat perjalanan terhenti. Sangtu berkisah tentang 3 tahapan daur hidup kelapa, dari kecil, remaja, sampai tua yang semuanya sangat berguna untuk obat, makanan sehat, dan sarana ritual. Mengonsumsi air dan daging buahnya sudah jadi makan siang yang berenergi.

Beberapa buah pohon kakao menjulang di pinggir jalan setapak. Buah dan batangnya sudah dihinggapi hama, tak terawat karena sudah tak dipangkas. Buah dengan daging berwarna putih dan berbiji ini menjadi komoditas mahal sebagai bahan baku cokelat, namun yang diolah jadi bubuk bahan baku cokelat hanya bijinya.

Di bawahnya ketela rambat dan keladi tumbuh subur. Ketela, dari daun sampai umbinya juga sehat untuk badan dan berguna saat sakit. Misalnya mengobati bengkak, radang, dan zat kekebalan tubuh.

Setelah melewati pemukiman, jalan setapak kembali menuju hamparan persawahan yang dibuat berundak-undak atau serupa labirin. Permukaannya lebih tinggi dari pemukiman dan kebun. Dari sini bisa melihat laut dan titik kecil patung Garuda Wisnu Kencana. Sambil mendengar bambu berputar dan memperdengarkan suara merdu dari lubang-lubang di bilah bambunya. Turis pecinta yoga ini mulai berpose, menyampaikan hormat pada alam dengan bahasa tubuh.

Rehat di rumah warga. Sebuah Jineng, bangunan kayu yang berfungsi menaruh hasil panen dan bibit di rumah warga, para petani | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Kearifan Lokal

Setelah berjalan dan membahas aneka tanaman liar hingga sekitar dua kilometer, mentari mulai meninggi dan keringat mengucur. Sangtu mempersilakan rehat di sebuah rumah sederhana. Sebuah jineng, istilah lokal untuk tempat penyimpanan hasil panen menyambut di halaman rumah. Di bawah wadah jineng, ada bale untuk duduk. Sebuah nampan berisi pisang dan keladi rebus terhidang. Namun tak ada siapa pun di rumahnya.

“Silakan masuk dan duduk santai, tuan rumahnya sedang sembahyang di pura,” ajak Sangtu dalam bahasa Inggris, menyambut keheranan para peserta trekking. Pemilik rumah adalah Jro Mangku, pengelola pura dan petani di kampung. Ia tinggal di rumah kecil di tengah kebun ini hanya berdua dengan istrinya.

Dapurnya dibagi dua area, tempat kompor gas dan kayu bakar. Hanya sedikit alat dapur, piring, gelas, dan panci. Semua berfungsi, tak ada barang yang berlebihan dan tak berguna.

Saat rehat menikmati keladi rebus, pisang, teh, dan kopi yang dibuat sendiri di dapur, Sangtu memperkenalkan konsep rumah tradisional Bali dan tradisinya. Salah satu yang menarik dan jadi bahasan adalah menanam ari-ari di halaman rumah. Di rumah Jro Mangku sedikitnya terlihat ada 2 lokasi penanaman ari-ari yang ditandai dengan batu hitam besar.

Saat di dalam perut ibu, bayi mendapat makanan dari ari-ari. Setelah lahir, dengan menanamnya di tanah diwadahi kelapa dan benda lain kita terkoneksi dengan ibu pertiwi. Sangtu menjelaskan filosofi ini sebagai sebuah hubungan harmonis yang dijalin sejak baru lahir, antara manusia dan alam.

Ada sejumlah cara “menanam” ari-ari di Bali, sesuai desa dan tradisinya. Bahkan di Desa Bayung Gede, Kabupaten Bangli, ari-ari bayi baru lahir ini digantung dalam sebuah batok kelapa di kuburan khusus atau Setra Ari-Ari. Batok kelapa ini digantung pada pada ranting pohon bukak.

Perjalanan kembali ke garis start pun masih ditemani kisah-kisah tanaman dan apa saja yang ditemui. Trekking di kaki bukit yang menyehatkan jiwa dan raga.

Wisata trekking melalui sawah padi beras merah di persawahan kaki Gunung Batukaru, Tabanan. Pesawahan dan sistem subak di Tabanan itu telah ditetapkan UNESCO jadi warisan budaya dunia (world heritage) | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia


Sumber: Ditulis oleh Luh De Suriyani dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

World Dance Day ke-13 di Surakarta Sebelummnya

World Dance Day ke-13 di Surakarta

Merayakan Keberagaman dengan Jamuan dari Hutan Selanjutnya

Merayakan Keberagaman dengan Jamuan dari Hutan

0 Komentar

Beri Komentar