Berkah Tinggalkan Sawit, Warga Desa Teluk Nikmati Hasil Jambu Madu Deli

Berkah Tinggalkan Sawit, Warga Desa Teluk Nikmati Hasil Jambu Madu Deli

Jambu madu Deli super milik Pak Udin yang ranum dan manis © Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia

  • Desa Teluk, Langkat, dulu penuh sawit. Pada 1995, warga mulai beralih menanam jambu madu, yang belakangan mereka beri nama jambu madu Deli. Kini, desa ini jadi salah satu pusat jambu madu dengan produk dikirim ke berbagai kota di Indonesia.
  • Dulu, mereka kesulitan air bersih. Kekeringan sering melanda desa. Persediaan air bawah tanah berkurang, tanah kering, kebutuhan sehari-hari akan air membuat aparatur desa dan warga berpikir keras mengatasi ini. Setelah sebagian besar beralih tak tanam sawit, warga merasakan sendiri betapa pasokan air bersih tak sulit lagi.
  • Petani Udin, jadi motor yang mengawali ganti kebun sawit jadi kebun jambu madu. Setelah melihat hasil menggiurkan, warga pun ikut beralih tanam jambu madu Deli.
  • Setidaknya, lebh dari 400 kilogram setiap hari jambu keluar dari Desa Teluk ini. Jumlah itu di luar pengiriman ke Jakarta. Ada juga agen-agen kecil datang ke desa untuk membeli langsung.

Siang itu, awal Mei 2019. Matahari begitu terik. Udin bersama warga dari Desa Teluk, Kecamatan Sicanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sedang berada di ladang.

Lahan seluas rata-rata dua rante di Desa Teluk ini, ditanami warga dengan jambu madu. Sepanjang mata memandang, pohon jambu berjajar rapi dengan buah terbungkus agar terhindar hama atau pemangsa yang merusak kualitas.

Sebelum 1995, wilayah ini dipenuhi perkebunan sawit. Meskipun pendapatan mereka lumayan baik, namun timbul masalah baru, di Desak Teluk ini, acap kali mengalami kekeringan, pasokan air mereka menipis.

Persediaan air bawah tanah berkurang, tanah kering, kebutuhan sehari-hari akan air membuat aparatur desa dan warga berpikir keras mengatasi ini.

Sadar air merupakan keperluan mutlak, warga desa memutuskan berhenti berkebun sawit, dan beralih ke tanaman palawija. Namun pendapatan jauh menurun. Meski begitu, warga tetap berkomitmen untuk tidak lagi berkebun sawit karena menyadari betul tumbuhan ini rakus akan air.

Udin, salah satu warga Lorong Puskesmas, Dusun Pajak, Desa Teluk, Langkat, yang berani membuat perubahan usaha pertanian dengan menanam lahan seluas empat rante dengan jambu madu. Bibit dia tanam di lahan yang sempat gersang karena sawit. Perlahan namun pasti, apa yang dia lakukan berbuah hasil baik.

Delapan bulan, dia bekerja keras membangun mimpi dengan jambu. Bibit dia dapat dari sahabat. Teringat sebuah Kerajaan Deli, hingga nama jambu madu ini disisipkan nama Deli.

Kala panen, Udin beranjak dari rumah yang tak jauh dari ladang jambu madu. Dia ambil keranjang dan mulai memetik satu persatu. Kualitas jambu di ladangnya cukup baik. Dia pun optimis, modal awal Rp2 juta pasti kembali.

“Menanam jambu ini mudah. Awalnya, saja yang sulit karena kita perlu pupuk, bibit, dan banyak lagi termasuk perawatan tanaman. Hanya menunggu delapan bulan, selebihnya, kita akan terus merasakan manis uang dari jambu madu Deli ini, ” katanya, saat berbincang dengan saya. Udin tampak membersihkan pohon jambunya.

Perlahan tetapi pasti, mimpi Udin jadi kenyataan. Jambu Deli mulai menunjukkan hasil. Satu persatu agen dari Kota Pangkalan Susu, Langkat datang ke ladang. Mereka membeli jambu cukup banyak.

Jambu madu Deli berada di tingkat distributor lokal dibeli dari petani jambu di Desa Teluk, Langkat | Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia

Setiap hari, berkarung-karung wadah bermuatan jambu terjual. Hasil mulai terasa. Hasil kebun mampu menyekolahkan anak-anak hingga ke perguruan tinggi, bahkan ada kuliah di Jawa, dengan biaya cukup mahal.

Melihat kesuksesan Udin, masyarakat di Desa Teluk, mulai tertarik. Mereka berdatangan, berdiskusi dan berbagi ilmu satu sama lain, bagaimana menghasilkan jambu manis dan ranum.

Udin tak pernah pelit ilmu. Bersama dengan Yayasan Bina Keterampilan Pedesaan (Bitra) Indonesia, dia berbagi. Niat mengembangkan pertanian jambu, dia tuangkan dengan membentuk satu kelompok kecil di desanya. Sampai sekarang, Udin jadi panutan.

Dengan cara tak biasa, jambu ada gelar sendiri, yaitu, jambu madu Deli super. Super, sebuah sebutan bagi jambu yang berkualitas baik, tanpa ada kerusakan, rasa semanis madu.

Kabar jambu madu Deli dari Desa Teluk, tersiar ke seantero negeri. Distributor dari berbagai provinsi berdatangan, mulai dari Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, sampai Bengkulu. Suatu ketika, salah satu distributor asal Aceh yang baru pulang dari Desa Teluk, meminta Udin mebungkus buat makan di pesawat.

Di pesawat, si distributor membagikan jambu pada pramugari, dan penumpang yang duduk di sebelah dan belakang bangkunya. Sampailah ke seorang pengusaha Jakarta.

Sang distributor jambu dari Desa Teluk, ketiban durian runtuh, karena sang pengusaha tertarik membeli dalam jumlah besar. Udin pun berkala mengirimkan jambu ke Jakarta.

Dari tangan sang pengusaha, jambu dari Desa Teluk, Langkat ini sampai ekspor hingga ke Tiongkok dan Hong Kong.

“Saya sempat merasakan bagaimana setiap hari kewalahan menyiapkan stok jambu yang akan ekspor ke Hong Kong. Dia dibantu beberapa pekerja lokal,” katanya. Sayangnya, jambu terbang ke luar negeri harus berhenti karena harga cargo naik.

“Sekarang kami hanya bermain di tingkat lokal. Ada beberapa distributor dari sejumlah provinsi yang memesan. Itu baik sekali,” kata Udin.

Bisnis jambu madu Deli ini jadi salah satu primadona di Langkat. Kalau pagi hari datang ke sana, akan terdengar tegur sapa dari orang lalu lalang dari kebun membawa jambu. Buah dijual ke distributor lokal, yang akan mengirimkan ke berbagai kota.

Roda ekonomi di Desa Teluk, yang sempat tergerus karena sawit, kini bergeliat kembali. Data Pemerintah Langkat, 80% masyarakat di Desa Teluk, kini berkebun jambu madu Deli.

Sebagian masih ada yang bertahan di perkebunan sawit, meski separuh lahan juga sudah ditanami jambu.

“Di sini selain bertani jambu, warga ada tanam merica, padi, dan kakao. Ada yang bertahan di sawit walau jumlah tak banyak.”

“Yang jelas, saat warga menanam sawit, pasokan air hancur di desa nih. Sumur harus ditambah pipa ke bawah, sekarang sudah tidak lagi, ” kata Udin.

Hepi Indra Santika, distributor lokal jambu Deli di Desa Teluk, mengatakan, setiap hari mereka tak pernah berhenti mengirimkan jambu ke berbagai kota di Indonesia.

Setidaknya, lebh dari 400 kilogram setiap hari jambu keluar dari Desa Teluk ini. Jumlah itu di luar pengiriman ke Jakarta. Ada juga agen-agen kecil datang ke desa untuk membeli langsung.

Agen kecil yang datang langsung ke sana, jambu Deli ukuran biasa atau kecil dibandrol Rp13.000-Rp14.000 per kilogram. Di pasaran jual Rp22.000 per kilogram. Jambu madu super, Rp24.000, dan di pasaran bisa Rp45.000-Rp55.000 per kilogram.

“Jadi kalau harga cargo gak mahal biasa jambu kami dikirim ke Singapur, Hong Kong dan Malaysia melalui Jakarta. Harus buah super ya, besar-besar.”

Jambu madu Deli super milik Pak Udin yang ranum dan manis | Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia

Rusdiana, Ketua Badan pengurus Yayasan Bitra Indonesia mengatakan, mereka bekerja dengan 147 kelompok masyarakat di 16 kabupaten kota di dua provinsi yaitu Sumut dan Aceh. Salah satu dampingan mereka, petani jambu di Desa Teluk, Sicanggang, Langkat ini.

Di desa ini, katanya, ada mendampingi 250-an petani dengan luasan lahan 20 hektar. Di lahan ini, setahun bisa empat kali panen. Sekali panen menghasilkan sekitar 250 ton jambu.

Diana bilang, Bitra memberdayakan petani dari sisi penguatan kelompok supaya para petani tak tercerai berai. Mereka bergabung dalam kelompok, mengelola pemasaran produk berkelompok. “Sekarang ini, model pemasaran sendiri-sendiri terlihat banyak sekali rantai pemasaran, mulai dari petani jambu, agen pemasaran tingkat desa, ke agen besar baru ke ekspor. Jadi didorong pemasaran langsung supaya selisih harga jual cukup ini bisa untuk petani.”

Bitra berusaha menguatkan keorganisasian petani supaya berkelompok bisa mengelola pemasaran jambu hingga dari sisi harga lebih menguntungkan petani. “Diajari bagaimana menghitung biaya produksi jambu mulai dari menanam, memupuk sampai pada produksi.”

Bitra juga mendorong, petani jambu di Desa Teluk dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sesuai amanah Undang-undang Desa.

Keuntungan dari BUMDes, katanya, agar mata rantai pemasaran terputus. Kalau kelola individu, katanya, mata rantai panjang dan berpotensi petani mendapatkan harga jambu tak layak, malah agen yang untung besar.

“Jadi kalau selama ini dari petani, lalu ke agen kecil di desa harga beda, ke agen lebih besar lebih berbeda lagi harganya, distributor besar dapat untung dua kali lipat. Dengan BUMDes bisa memangkas itu semua.”

Selain itu, katanya, pemasaran online melalui media sosial , juga membantu penjualan menembus wilayah lain yang belum tersentuh. Konsep ini, katanya, juga akan dikembangkan hingga ke depan muncul konsep perdagangan lebih canggih lagi.

Jambu madu Deli super warna merah ini bisa dijual Rp24 ribu per kg di tingkat distributor lokal dan Rp45 ribu-Rp50 ribu per kg di pasaran | Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia


Sumber: Ditulis oleh Ayat S Karokaro dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga12%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang35%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi29%
Pilih TerpukauTerpukau24%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Melihat Proses Pembuatan Cokelat di Cau Sebelummnya

Melihat Proses Pembuatan Cokelat di Cau

Merayakan Keberagaman dengan Jamuan dari Hutan Selanjutnya

Merayakan Keberagaman dengan Jamuan dari Hutan

0 Komentar

Beri Komentar