Filosofi Rampak Kendang Ramadhan di Banyuwangi

Filosofi Rampak Kendang Ramadhan di Banyuwangi

Para Pemain Kendang Menyatukan Irama Sebelum Penampilan © Agus Santoso

Perkumpulan seniman kendang di Banyuwangi mengisi kegiatan bulan Ramadan dengan menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Dimulai pukul 16.00 WIB, 60 seniman kendang yang secara bersama-sama menabuh kendang dan dipimpin satu orang dalam formasi setengah lingkaran.

Pagelaran tersebut berlangsung di Ruang Taman Hijau (RTH) Maron, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

"Rampak Kendang ini hadir bukan hanya untuk menu tontonan saja, tetapi menghasilkan makna yang tersirat dalam alat musik kendang," jelas Ketua Panitia Rampak Kendang Ramadan, Gus Lukman Hadi Abdillah, saat diwawancarai jatimnow.com, di sela-sela acara, Sabtu (11/5).

Sosok pemimpin yang mampu berharmoni dan bersinergi dengan semua elemen dan lapisan masyarakat, menjadi inspirasi pesan dari tabuhan Rampak Kendang, yang sejatinya juga sebagai simbol hubungan sosok pemimpin dengan warga masyarakatnya.

Penampilan kesenian di Banyuwangi memang sudah banyak. Namun, dalam Rampak Kendang ini juga menampilkan tradisi dan simbolik sebagai filosofi.

Rampak Kendang tidak hanya sekedar menjadi media, tetapi produk budaya lokal tersebut memiliki makna yang luar biasa.

"Pesan positif yang kita sampaikan agar masyarakat Banyuwangi harus mampu melahirkan kembali pemimpin-pemimpin yang mampu duduk bersama senantiasa bermusyawarah dan senantiasa berkerja sama," ujarnya.

Ke depannya, Rampak Kendang akan terus memeriahkan bulan Ramadan. Rampak Kendang ini, juga akan tampil dari satu tempat ke tempat lainnya.

"Kita nanti lokasi penampilannya berpindah-pindah, dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya. Agar seluruh masyarakat Kabupaten Banyuwangi mengenal Rampak Kendang," jelasnya.

Lukman berharap, Rampak Kendang akan terus berkembang di Banyuwangi agar bukan hanya mengedepankan konsumsi tontonan saja, tetapi juga filosofi dari sebuah pertunjukan.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Mengenal Rusa Terbesar di Alam Liar Indonesia Sebelummnya

Mengenal Rusa Terbesar di Alam Liar Indonesia

7.000 km Jalur Baru Kereta Api Akan Dibangun hingga 2030 Selanjutnya

7.000 km Jalur Baru Kereta Api Akan Dibangun hingga 2030

0 Komentar

Beri Komentar