Mereka Diam karena Buku

Mereka Diam karena Buku

Ilustrasi membaca

*Diangkat dari kisah Ibu Siti Mahfuzo, S.Pd. dalam Buku Kroniknya

Hari ini adalah hari Rabu, tanggal 4 April 2018. Saya akan berkisah tentang dua hari yang lalu, hari Senin dan Selasa, di mana pada kedua hari itu saya mendapatkan pengalaman baru yang unik.

Saya merupakan guru di SD 14 Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan. Sekolah ini baru saya tempati di awal tahun 2018.

Menjadi guru di sekolah baru tentunya menuai banyak tantangan. Meski menjadi guru adalah profesi yang sudah bertahun-tahun saya jalani, tetap saja perlu adaptasi ketika bertemu lingkungan yang baru.

Tantangan awal di sekolah ini adalah kondisi murid yang kerap kali ribut ketika belajar. Anak-anak belum bisa menjadi pendengar yang baik, sehingga kerap abai terhadap guru yang menerangkan atau berceramah.

Saya terkadang membandingkan kelas yang saya ampu dengan kelas lain yang begitu tenang. Bulan-bulan pertama, saya masih kewalahan dengan kondisi anak.

Hingga pada suatu saat, perubahan pun datang. Hari Senin dan Selasa tanggal 2-3 April menjadi catatan sejarah bahwa kondisi anak yang kita inginkan kelak akan berubah jika kita bersabar dan berusaha.

Pada awal April 2018, buku tema untuk kelas V sudah sampai di sekolah. Alhasil, pada hari Senin dan Selasa di pekan pertama April, terbesit dalam pikiran saya untuk menerapkan perlakuan yang baru kepada anak-anak.

Saya bagikan buku tema kepada mereka satu demi satu, kemudian anak-anak kelas VB saya tugaskan untuk membaca buku, mengamati isinya, serta menjawab soal-soal yang terdapat di dalam buku.

Ternyata, dengan aktivitas itu mereka dapat lebih memusatkan perhatian. Mereka dapat lebih fokus dalam belajar setelah diberi buku. Rupanya, beginilah yang mereka inginkan. Ternyata, mereka bisa diam karena buku.

Saya amat bahagia ketika ada perubahan di dalam kebiasaan mereka. Dimulai dari diberikan buku, anak-anak pun dapat lebih semangat ketika belajar. Sejak ada buku, mereka pun dapat lebih fokus ketika pembelajaran.

Semoga saja, anak-anak tidak hanya terbiasa menulis tapi juga suatu saat nanti seluruhnya mampu menjadi pendengar yang baik. Sebab kemampuan menulis dan mendengar dalam pembelajaran adalah kompetensi yang baik untuk dicapai secara bersamaan.


Sumber: Diramu dari buku kronik Ibu Siti Mahfuzo, S.Pd

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Warisan Berharga untuk Anak Bangsa Sebelummnya

Warisan Berharga untuk Anak Bangsa

Asrinya Bandara Hijau Pertama di Indonesia Selanjutnya

Asrinya Bandara Hijau Pertama di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.