Perempuan Penulis dan Pentingnya Berkomunitas

Perempuan Penulis dan Pentingnya Berkomunitas

© Pixabay

Menulis merupakan sebuah aktivitas yang sangat menyenangkan. Menuangkan isi kepala berupa kegundahan, kegelisahan, keresahan, rasa bahagia, serta harapan dalam untaian kalimat tidak saja menyenangkan, tetapi juga akan lebih menentramkan.

Tak heran, bila menulis juga bisa menjadi terapi bagi mereka yang sedang terperangkap dalam belitan masalah.

Menulis sangat direkomedasikan untuk para perempuan. Mengapa demikian? Secara umum, perempuan lebih mudah mengalami stres dibanding kaum lelaki.

Banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya, di antaranya adalah faktor hormonal, rutinitas yang monoton, peran ganda sebagai IRT dan berkarier di luar, atau perubahan hidup yang mendadak seperti ditinggal pasangan, dan sebagainya.

Selain itu, perempuan memang ditakdirkan sebagai makhluk “cerewet”. Dalam sehari, perempuan bisa mengeluarkan sekitar 20 ribu kata, sementara kaum lelaki hanya 7 ribu kata per hari.

Tentu saja, kemampuan ini sayang jika disia-siakan hanya dengan ngobrol ngalor ngidul tak tentu arah atau hanya memilih diam dan memendam semua rasa. Akan lebih bermanfaat jika ribuan kata tersebut kemudian disalurkan menjadi beragam tulisan menarik dan bermanfaat.

Saya pribadi sangat yakin, setiap perempuan memiliki cerita maupun pengalaman yang sangat menarik untuk dituliskan dan dibagi kepada perempuan-perempuan lain.

"Menulis? Tetapi, aku tidak bisa menulis."

Mungkin jawaban itu yang pertama kali terbersit ketika anjuran menulis ditawarkan kepada para perempuan. Tentu saja, jawaban ini tidak 100 % benar.

Setiap perempuan, InsyaAllah bisa menulis (selama tidak buta aksara tentunya). Bukankah dalam kesehariannya, perempuan selalu berhadapan dengan tulisan? Terlebih, di zaman milenial ini.

Banyak kita dapati perempuan-perempuan yang menulis status di media sosial yang mengungkapkan rasa sedih maupun gembiranya. Nah, ini merupakan modal awal sebelum lebih jauh memasuki dunia tulis menulis.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mempermudah langkah seorang perempuan menjadi penulis adalah bergabung dalam komunitas kepenulisan. Lalu, apa sajakah yang bisa diperoleh seorang perempuan dalam komunitas kepenulisan tersebut? Berikut beberapa uraiannya.

Menambah teman

Sebagai makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain, perempuan juga butuh untuk berteman. Dengan berkomunitas, baik secara online maupun offline, menambah pertemanan akan lebih mudah dilakukan.

Hubungan pertemanan yang terjalin juga akan lebih luas cakupannya. Bahkan, bisa dari Sabang sampau Merauke atau juga merambah sampai ke negeri-negeri lain yang jauh.

Menambah ilmu dan membuka wawasan

Bergabung dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama di dunia kepenulisan tidak saja sangat menyenangkan, tetapi juga bermanfaat.

Di komunitas tersebut biasanya terdapat banyak anggota yang telah lama berjibaku di dunia kepenulisan. Dari mereka, kita yang pemula, bisa belajar banyak hal seputar dunia kepenulisan.

Bukan hanya itu yang bisa didapatkan dalam sebuah komunitas kepenulisan. Teman-teman penulis banyak juga yang tidak hanya jago menulis, tetapi juga memiliki pengetahuan lain maupun profesi lain.

Misalnya, teman komunitas yang memiliki anak, dari mereka kita bisa belajar tentang parenting, teman komunitas yang religius, dari mereka kita bisa mendapatkan pencerahan akan ilmu agama, dan banyak lagi.

Bukankah semua itu tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga dapat membuka wawasan kita?

Menjadi sumber ide, informasi, dan penghasilan

Biasanya, dalam sebuah komunitas menulis, diadakan program-program yang dapat meningkatkan skill para anggotanya. Di antara program yang biasa dilakukan seperti bedah karya, menulis bareng dengan tema yang telah ditentukan maupun tema bebas, menggali ide, dan sebagainya.

Nah, dari kegiatan ini, selain kita bisa belajar juga bisa mendapatkan ide-ide tulisan yang menarik untuk digarap.

Selain itu, biasanya sebuah komunitas juga membagikan informasi-informasi penting seputar dunia penerbitan, info lomba, maupun job-job terkait dengan menulis.

Asyik banget, kan? Kita bisa mendapatkan ilmu dan informasi sekaligus peluang menambah penghasilan.

Menambah pengalaman

Sering kali, sebuah komunitas mendapatkan undangan untuk menghadiri launching produk, pembukaan toko maupun cabang usaha, meng-endorse, dan sebagainya.

Tentu saja, undangan ini akan diteruskan kepada para anggota komunitas. Jika tertarik, silakan mendaftar dan ikut bersama dalam program tersebut.

Tentu saja, hal ini akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman bisa bertemu dengan anggota komunitas yang selama ini hanya bisa dilakukan secara online ataupun mendapatkan pengalaman menulis kegiatan tersebut atau me-review sebuah produk.

Pengalaman yang sangat menyenangkan, bukan?

Sarana membangun kepribadian yang lebih baik

Dalam berkomunitas, otomatis kita akan berhadapan dan bergaul dengan orang banyak. Dalam berinteraksi kita dituntut untuk memiliki adab, etika, serta kepribadian yang baik agar bisa diterima anggota komunitas yang lain.

Tentu saja, kita tidak ingin dicap negatif dan dijauhi teman-teman komunitas hanya karena kepribadian kita yang tidak asyik, bukan?

Demikianlah beberapa manfaat bergabung bersama komunitas menulis. Saat ini, banyak sekali komunitas menulis online yang bisa diikuti perempuan yang tertarik dengan dunia kepenulisan.

Sebut saja ada Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), Joeragan Artikel (JA), Blogger Perempuan, Kumpulan Emak-Emak Blogger, dan banyak lagi.

Banyaknya komunitas menulis untuk perempuan ini semakin membuka kesempatan menjadi seorang penulis. Tinggal kita sendiri, akankah memanfaatkan semua itu atau membiarkannya berlalu begitu saja.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Sang Pemalu pun Harus Keluar dari Tempurung Sebelummnya

Sang Pemalu pun Harus Keluar dari Tempurung

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu? Selanjutnya

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu?

Haeriah Syamsuddin
@haeriah

Haeriah Syamsuddin

1 Komentar

  • Siti Nur Maftuhah

    Betul banget, menulis itu dapat sebagai terapi untuk para perempuan. Minimal sebagai tempat curhat.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.