Peran Perempuan Penulis dalam Penyebarluasan Hoaks

Peran Perempuan Penulis dalam Penyebarluasan Hoaks

Ilustrasi penyebaran hoaks

Perkembangan teknologi di zaman milenial seperti saat ini memudahkan setiap orang untuk mengakses informasi apa saja, kapan saja dan di mana saja melalui sosial media. Namun sayangnya kemudahan tersebut tak hanya berdampak positif tapi juga berdampak negatif

Sejumlah pihak tak bertanggung jawab menggunakan sosial media sebagai alat untuk menyebar berita bohong alias hoaks, yang hingga saat ini telah mencapai tahap yang memprihatinkan.

Hoaks atau berita palsu telah beredar sejak tahun 1439 saat Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak. Perkembangan teknologi informasi membuat penyebaran hoaks lebih masif dan menyeluruh.

Masih banyak masyarakat yang tidak dapat mencerna informasi dengan sepenuhnya dan benar, tetapi memiliki keinginan kuat untuk segera membagikannya dengan orang lain. Sayangnya, beberapa informasi tersebut belum akurat dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Hoaks menjadi suatu permasalahan serius yang tengah dihadapi masyarakat, media, dan pemerintah saat ini. Untuk menanggulangi hoaks, salah satu cara yang dilakukan adalah memahami terlebih dahulu bagaimana penyebaran hoaks khususnya melalui platform sosial yang banyak digunakan saat ini.

Kamu harus menjadi masyarakat yang cerdas dan cermat dalam mencerna informasi agar tidak mudah terhasut dan ikut menyebarkan hoaks. Maraknya hoaks harus segera diantisipasi bahkan kalau bisa dihentikan.

Penyebaran hoaks di masyarakat diumpamakan seperti orang yang terkena berbagai macam kuman dan bakteri, maka orang itu harus memperkuat daya tahan tubuh, agar pikirannya terhindar dari hoaks.

Hoaks sangatlah merugikan. Saat kamu mempercayai hoaks, tanpa disadari kamu menghabiskan banyak waktu dan energi untuk membahas sesuatu yang tidak perlu.

Bahkan bisa menimbulkan perpecahan karena terlalu percaya dengan hoaks. Malah kamu bisa kehilangan teman, saudara bahkan orang tua hanya karena memperdebatkan tentang hoaks yang belum tentu kebenarannya.

Saling mencaci maki, menghakimi, mengancam, bahkan melukai satu sama lain karena virus dan racun yang sama yaitu hoaks.

Untuk menghentikan hoaks harus dimulai dari diri sendiri. Kamu harus tahu dan memahami informasi tersebut terbukti kebenarannya atau tidak. Saring before sharing.

Sering kali informasi yang beredar di sosial media sengaja disebarkan atau sengaja dibuat untuk memanipulasi emosi, sehingga kamu ikut menyebarkannya lagi.

Dengan menyaring informasi yang kamu terima sebelum menyebarkannya, tentu ini akan menghambat penyebarluasan hoaks.

Informasi yang dibuat di sosial media sengaja dibuat untuk memanipulasi emosi agar disebarluaskan kembali | Foto: Pixabay.com

Jika kamu seorang penulis perempuan, kamu juga bisa berperan aktif untuk meminimalisir penyebaran hoaks. Sebagai seorang penulis perempuan, saat menulis kamu harus menggunakan data yang akurat.

Lakukan riset dan klarifikasi kepada pihak-pihak yang bersangkutan mengenai berita yang kamu tulis sebelum menyebarluaskan di media sosial milikmu.

Keberadaan penulis perempuan seharusnya mencerahkan, mengambil bagian mencegah meluasnya hoaks. Indonesia berada pada tahap darurat literasi yaitu ketika masyarakat Indonesia kurang kritis dalam membaca berita, sehingga tidak mau repot-repot mengecek ulang ke media-media lain soal kabar hoaks tersebut.

Sudah kesekian kali Indonesia dinobatkan menjadi negara yang warganya minim dalam hal minat membaca. Posisi Indonesia berada di urutan kedua terendah dari 61 negara di dunia dalam hal minat membaca. Menyedihkan bukan?

Sebagai perempuan penulis, kamu perlu membekali diri dengan ilmu pengetahuan tentang hoaks, misalnya bergabung dengan komunitas anti hoaks.

Bergabung di komunitas anti hoaks bisa lebih serius dalam memerangi hoaks dengan melakukan literasi media | Foto: Pixabay.com

Bersama komunitas, kamu bisa lebih serius ikut andil dalam penyebarluasan hoaks dengan melakukan literasi media ke sekolah sampai kampus, kemudian desa sampai kota untuk meningkatkan minat baca masyarakat, serta bahaya dan dampak hoaks bagi kehidupan sehari-hari.

Orang-orang yang rentan terpapar berita hoaks yakni orang-orang yang tidak suka membaca dan jarang mengonsumsi berita.

Ketika mereka mengetahui berita hoaks, dengan mudahnya mereka meyakini bahwa berita tersebut nyata. Mereka langsung mempercayai konten berita hoaks tersebut tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu karena enggan.

Diskusi tentang berita palsu telah memunculkan fokus baru pada literasi media secara lebih luas.

Berpikir kritis

Jadilah masyarakat yang cermat dalam menerima informasi yang ada | Foto: Pixabay.com

Berpikir kritis merupakan kunci dalam literasi media dan informasi, sehingga kamu bisa mendapatkan informasi yang faktual dan teruji kebenarannya.

Jadilah orang yang ambil bagian untuk mengendalikan persebaran berita hoaks yang semakin meluas. Jadi kamu harus memiliki keterampilan untuk menavigasi informasi yang beredar sebelum mempercayainya.

Mencari sumber pendukung

Sebelum menulis, penulis harus melakukan riset terlebih dahulu | Foto: Pixabay.com

Dalam menulis artikel, penulis harus memperkuat data yang ada dengan memasukkan sejumlah sumber pendukung.

Kamu bisa mencari tahu tentang sumber pendukung tersebut dengan browsing terlebih dahulu di internet. Dengan demikian, kamu bisa mengetahui seberapa akurat berita yang ditampilkan.

Memahami keseluruhan isi berita

Banyak berita yang beredar, adanya ketidaksinambungan antara judul dan isi | Foto: Pixabay.com

Terkadang, penulis sengaja membuat judul berita yang bombastis supaya masyarakat tergoda untuk membaca tulisannya. Namun terkadang judul yang dibuat tidak sesuai dengan konteks tulisan.

Pastikan berita yang kamu tulis tidak clickbait. Clickbait adalah ketidaksinambungan antara judul dengan artikel secara keseluruhan.

Bertanya pada ahlinya

Bertanyalah pada ahlinya, orang yang lebih paham dan mengetahui kebenaran sebuah berita | Foto: Pixabay.com

Tanyakan pada ahlinya, misalnya akademisi atau praktisi di bidang tertentu yang sesuai dengan konten berita, pustakawan, atau jurnalis. Biasanya mereka lebih paham dengan isu yang beredar di masyarakat dan mengetahui kebenarannya.

Jadilah perempuan penulis yang cerdas. Seorang penulis mempunyai tanggung jawab moral terhadap tulisannya. Bijaklah dalam menulis, dan jadilah pembaca yang selektif dalam menelaah isi berita, jangan mudah terpancing.

Apabila masing-masing individu menerapkannya, maka tidak ada lagi kekacauan yang disebabkan oleh adanya penyebaran berita palsu atau hoaks.

Jadikan Indonesia negara yang bebas hoaks demi perdamaian dan kerukunan seluruh masyarakat Indonesia!

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi83%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Batik Air Luncurkan Penerbangan Langsung Samarinda ke Bali dan Yogyakarta Sebelummnya

Batik Air Luncurkan Penerbangan Langsung Samarinda ke Bali dan Yogyakarta

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal? Selanjutnya

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal?

2 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Kalau mendapatkan pesan berantai/berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sebaiknya cukup sampai di kita, tak perlu disebarkan

  • Afin yulia

    Setuju dengan part "jadilah pembaca yang selektif". Gimana pun juga kitalah penentunya agar tidak terpapar arus hoaks.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.