Inilah Rupa Batavia, Kota Terpenting di Asia Tenggara, Empat Abad Lalu

Inilah Rupa Batavia, Kota Terpenting di Asia Tenggara, Empat Abad Lalu

Batavia 1627 © Rob Tuytel/Westfries Museum

Jan Pieterszoon Coen ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal VOC pada pertengahan 1618. Coen sudah mempersiapkan diri untuk untuk menguasai Jayakarta yang merupakan salah satu bandar dagang paling sibuk di Kepulauan Nusantara kala itu. Coen melihat potensi Jayakarta sebagai kota pesisir yang ramai dan lokasinya strategis. Jayakarta, dalam pandangan Coen, cocok dijadikan sebagai pusat kegiatan VOC yang sebelumnya ada di Maluku.

Nama Jayakarta memang sudah masyhur sebelumnya. Tempat ini sebelumnya bernama Sunda Kelapa dan berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Kerajaan ini merupakan kerajaan Sunda yang berpusat di Bogor, dan eksis hingga 1579 Masehi.

Dan rencana itu akhirnya dilaksanakan. Tepat pada pada 30 Mei 1619, VOC mengerahkan rinbuan pasukannya untuk merebut kota pelabuhan ramai milik Kesultanan Banten itu, dan akbhirnya berhasil. Jayakarta kini dibawah kekuasaan VOC.

Setelahnya, Coen lalu mengganti nama kota itu menjadi Batavia sekaligus menetapkannya sebagai pusat pemerintahan VOC di Nusantara. Tanggal 4 Maret 1621, nama Batavia dikukuhkan. Pemerintah daerahnya pun dibentuk. Sejak saat itu, Batavia resmi menjadi pusat kekuasaan VOC. Dari sinilah Belanda mengendalikan Nusantara hingga berabad-abad lamanya. Kota ini kelak menjelma menjadi salah satu kota terpenting di Asia Tenggara.

Kita tentu sering mengira-ngira, seperti apa wajah Batavia kala itu? Kota baru bentukan penjajah Belanda dalam wujud VOC itu.

Beruntung, Museum Westfries di kota Hoorn (kota kelahiran Jan Pieterszoon Coen) di Belanda baru saja mengadakan pameran yang menghidupkan Batavia melalui Virtual Reality. Pameran VR ini dibuat untuk memperingati 400 tahun sejak Batavia didirikan, dan akan dibuka mulai 30 Mei 2019 hingga 5 Juni 2020.

Dalam pameran ‘Batavia 1627 VR" peta tertua Batavia digunakan sebagai dasar, bersama dengan teknik realitas virtual terbaru untuk menghidupkan Batavia pada tahun 1627. Yuk kita lihat.

Bangunan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu | dagjeweg.nl
Bangunan di Pulau Onrust, Kep Seribu | Dahjeweg.nl

Garis langit Batavia | Rob Tuytel/Westfries Museum

Pusat Kota Batavia | Rob Tuytel/Westfries Museum
Batavia, dibangun di sisi Sungai Ciliwung | Rob Tuytel/Westfries Museum
Batavia dari pantai | Rob Tuytel/Westfries Museum
Bangunan-bangunan khas Eropa di Batavia | Rob Tuytel/Westfries Museum

Kota baru | Rob Tuytel/Westfries Museum

Sumber : Tirto.id | National Geographic Indonesia| Westfries Museum | Sejarah-Nusantara.com

Pilih BanggaBangga17%
Pilih SedihSedih8%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli6%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau60%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pesan Keharmonisan dari Dua Etnis di Sumatra Barat Sebelummnya

Pesan Keharmonisan dari Dua Etnis di Sumatra Barat

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal? Selanjutnya

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal?

1 Komentar

  • Yuda

    Yg bikin animasi keren bet.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.