Pesan Keharmonisan dari Dua Etnis di Sumatra Barat

Pesan Keharmonisan dari Dua Etnis di Sumatra Barat

© Dok. Penulis

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki keberagaman. Keberagaman mulai dari suku bangsa, kebudayaan, agama, bahasa dan lainnya.

Keberagaman bukanlah menjadi perbedaan dan pertikaian, namun menjadikan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki kekuatan, persatuan dan kebanggaan dalam keharmonisan keberagaman.

Provinsi Sumatra Barat daerah yang terletak di pantai barat Pulau Sumatra merupakan rumah bagi salah satu keberagaman tersebut. Daerah ini didiami oleh masyarakat beretnis Minang, Mentawai, Mandailing, Tionghoa, Jawa, India, Nias, Batak dan etnis lainnya.

Keberadaan etnis ini memiliki sejarah dan cerita yang panjang mengisi keberagaman di Sumatra Barat. Dalam kehidupan sehari-hari, masing-masing etnis ini hidup berdampingan dalam keharmonisan.

Keharmonisan ini terjaga sudah sejak lama hingga saat ini, tanpa adanya pergesekan. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan antar-etnis yang menyebar hampir di seluruh Sumatra Barat.

Salah satu kota yang memiliki keragaman antar-etnis yang terdapat di Sumatra Barat adalah Kota Padang. Sejarah ibu kota provinsi Sumatra Barat ini tidak lepas dari kedatangan orang-orang asing dan etnis lainnya yang kemudian menetap dan turut membangun kota Padang, di samping diaspora masyarakat luhak/darek1 Minangkabau.

Kawasan yang pertama kali berdiri di Kota Padang tepatnya berada dikawasan pinggiran selatan batang2 arau. Jejak ini yang kemudian kita kenal saat ini menjadi kota tua Padang di mana masih terdapat sisa sejarah cikal bakal lahir dan kejayaan Kota Padang.

Jejak lain dari kawasan Batang Arau yang menjadi pusat pertumbuhan awal kota Padang sebagai kota pelabuhan adalah jejak keharmonisan dan keragaman etnis di Kota Padang.

Kawasan ini didiami oleh masyarakat dari berbagai etnis, di antaranya Minang, Tionghoa, Nias dan India. Pertumbuhan kota Padang yang semakin berkembang hingga menjadi sebuah ibu kota provinsi juga seiring tumbuhnya keharmonisan keberagaman etnis.

Hal ini telah terjadi sejak lama hingga dapat dilihat hingga saat ini bentuk keharmonisan, interaksi, dan sosial dari keberagaman etnis di Kota Padang yang mewakili keharmonisan keberagaman etnis di Sumatera Barat. Salah satunya ditandai dengan Kampung Tionghoa, Kampung Jawa, Kampung Nias dan Kampung Keling.

Kawasan Kota Tua Batang Arau, Muaro, Padang | Foto: Dok. Penulis

Salah satu keharmonisan etnis Minang dan Tionghoa yang utamanya berada di Kawasan Kota Tua Batang Arau, atau masyarakat luas lebih mengenal kawasan Pondok sebagai kawasan masyarakat Tionghoa.

Dalam laporan Program Pascasarjana Doktor Fakultas Komunikasi, Universitas Padjajaran, Bandung, bisa dirangkai dengan sangat apik oleh penulisnya Riniwaty Makmur, yang memiliki nama Tionghoa Mak Yie Nie.

Kisah sejarah dengan sebagian besar cerita yang sangat personal dikisahkan dalam buku berjudul Orang Padang Tionghoa, Dima Bumi Dipijak, Disinan Langik Dijunjuang yang mana falsafah ini merupakan salah satu falsafah orang Minang.

Buku ini sebenarnya merupakan materi laporan penelitian penulis yang menceritakan bagaimana masyarakat Tionghoa di Padang mempunyai kekhasan dalam konstruksi kehidupan sosial mereka jika dibandingkan dengan di tempat lain dalam 22 judul yang terbagi dalam lima tema besar.

Selain itu dapat dilihat kisah keharmonisan itu dari cerita salah seorang Tionghoa Padang kepada penulis yang saat ini bermukim di Australia.

Tjiptadinata Efendi seorang Tionghoa Asal Padang menjelaskan bahwa kehidupan Tionghoa dan Minang sangatlah harmonis. Tjiptadinata Effendi adalah sosok Tionghoa yang juga penulis, motivator, pendiri Yayasan Waskita Reiki, dan Ketua Asosiasi Reiki Indonesia.

Pria kelahiran Padang tahun 1943 ini merupakan seorang Tionghoa Padang semenjak lahir hingga dewasa. Beliau menjelaskan sangat bangga menjadi bagian dan berasal dari Sumatra Barat, tempat keharmonisan dan kebersamaan yang tetap terjaga dalam perbedaan.

Beliau menjelaskan Orang Tionghoa Padang, sejak kecil berbahasa Minang, bahkan dalam pembicaraan antar-anggota keluarga, tidak menggunakan bahasa Mandarin.

Berbeda dengan etnis Tionghoa yang lahir di Riau dan Medan, rata rata masih bisa berbahasa Mandarin atau Hokkien. Sudah banyak terjadi asimilasi ,yakni pernikahan antara orang Minang dan Tionghoa.

Jadi perbedaan dalam segala keberagaman ,bukan halangan untuk menjalin persahabatan, bahkan kekeluargaan.

Keharmonisan yang telah terjaga dan masih dapat dilihat hingga saat ini di Sumatra Barat salah satunya etnis Tionghoa dan Minangkabau pada tanggal 6 – 7 Juni 2019, diwujudkan dalam sebuah festival budaya dan kuliner.

Mengangkat makanan dari kedua etnis yang berbahan sama yaitu ketan. Kuliner khas Tionghoa yang diangkat adalah Bakcang Ayam, sedangkan kuliner Minang yang diangkat adalah Lamang Baluo yang diwujudkan Festival 10.000 Bakcang Ayam dan Lamang Baluo.

Panitia Festival 10.000 Bakcang Ayam dan Lamang Baluo ini terdiri dari HBT, HTT, PSKP Santo Yusuf, Kongsi, dan keluarga Tionghoa yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang.

Festival ini menjadi salah satu wujud simbolik keharmonisan etnis Tionghoa dan Minangkabau yang berada di Kota Padang sejak lama.

Kegiatan ini diinisasi oleh sekelompok masyarakat Tionghoa Padang yang ingin mengenang kehidupan dan masa kecil, hingga masa sekolah sebagai Tionghoa Padang.

Selain itu ide dan gagasan ini juga sebagai bentuk panggilan hati keinginan dan kontribusi masyarakat Tionghoa Padang untuk membangun Kota Padang.

Bakcang merupakan makanan khas Tiongkok yang berbahan dasar Ketan. Makanan ini dibuat dari beras ketan sebagai lapisan luar, daging, jamur, udang kecil, seledri, dan jahe sebagai isi. Ada juga yang menambahkan kuning telur asin.

Untuk perasa biasanya ditambahkan sedikit garam, gula, merica, penyedap makanan, kecap, dan sedikit minyak nabati. Tentunya yang tidak kalah penting adalah daun pembungkus dan tali pengikat.

Daun biasanya dipilih daun bambu panjang dan lebar yang harus dimasak terlebih dahulu untuk detoksifikasi. Bakcang biasanya diikat berbentuk limas segitiga.

Bakcang sendiri dalam masyarakat Tionghoa memiliki sejarah panjang yang berawal dari seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya, banyak memberikan ide untuk memajukan negara bersatu. Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada pengusirannya.

Ia yang sedih karena kecemasannya akan masa depan negara kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai. Ini tercatat dalam buku sejarah Shi Ji.

Lalu menurut legenda, ia melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang merasa sedih kemudian mencari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri.

Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai, mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang sekarang.

Festival Peh Cun sendiri diperingati tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2.300 tahun, dihitung dari masa Dinasti Zhou.

Replika Perahu Naga sebagai tempat bakcang yang sangat terasa Tionghoa | Foto: Dok. Penulis

Lamang Baluo merupakan makanan khas Minang yang juga berbahan dasar ketan. Makanan ini berisi parutan kelapa tua yang dicampur gula merah.

Lamang baluo hampir sama dengan cara memasak lamang pada umumnya, hanya saja sebelum beras ketan dimasukan ke dalam bambu, harus ada kayu ukuran kecil dimasukan ke dalam bambu itu.

Tujuan kayu itu, nantinya sebagai tempat untuk memasukan luo-nya ke dalam lamang yang hampir matang dipanggang.

Dalam masyarakat Minangkabau Lamang Baluo merupakan salah satu makanan warisan tradisi nenek Moyang Minangkabau. Makanan ini masih dapat ditemui sebagai kuliner jajajan hingga pelaksanaan hari besar seperti perayaan Idul Fitri.

Replika Pedati Kerbau sebagai tempat Lamang Baluo yang sangat terasa Minang | Foto: Dok. Penulis

Dalam laporan kegiatan yang disampaikan oleh Ketua Panitia, Alam Gunawan, menyampaikan terwujudnya Festival Bakcang Ayam dan Lamang Baluo yang lahir dari ide serta panggilan jiwa.

Festival ini juga beriringan dengan momen Festival Peh Cun di antaranya makan bakcang yang jatuh setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan kalender Cina, yang tahun ini bertepatan pada tanggal 7 Juni 2019.

Beiringan dengan hal tersebut, pelaksanaan ini tepat pada momen Idulfitri 1440 H yang dirayakan oleh umat muslim seluruh dunia, utamanya masyarakat Kota Padang yang beragama muslim.

Selain itu keunikan dari festival ini menghadirkan makanan dari dua etnis yang berbeda namun berbahan dasar sama yaitu ketan.

Kata Sambutan Oleh Panitia Yang Disampaikan Oleh Ketua Panitia, Alam Gunawan | Foto: Dok. Penulis
Simbolik Keharmonisan Minangkabau dan Tionghoa | Foto: Dok. Penulis

Festival yang dilaksanakan di kawasan kota tua Padang mulai dari Jembatan Siti Nurbaya hingga Klenteng lama ini sebagai lokasi awal tumbuhnya Kota Padang dan kawasan keberagaman etnis di Kota Padang. Festival ini diisi dengan berbagai kegiatan dari dua etnis yang berbeda.

Diantaranya festival kuliner makanan Tionghoa dan Minang, tarian Minang Nyanyian Nusantara, Barongsai dan Naga, Gambang, Musik Minang, Kolaborasi Parade Budaya Tionghoa dan Minang, Musik Gamad, peragaan busana baju Minang dan Tionghoa, Flashmob, Dance, dan Drumband.

Terlaksananya kegiatan ini dengan baik dan sukses berkat inisiasi oleh sekelompok masyarakat Tionghoa, juga didukung penuh oleh pemerintah yakni Kementerian Pariwisata yang diwakili oleh Raseno Arya asal Sumatera Barat.

Selain itu juga ada andil dari Pemerintah Provinsi Sumatra Barat, Pemerintah Kota Padang, dan pendukung acara yang terlibat sebagai sponsor sebagai bentuk keharmonisan, kerja sama dan kontribusi yang baik dalam pembangunan.

Sambutan Dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Yang Diwakili Oleh Staf Kemenpar Bapak Raseno Arya | Foto: Dok. Penulis

Dalam kata sambutannya, Raseno Arya selaku Staf Kementerian Pariwisata menyampaikan seharusnya juga diberikan penghargaan rekor toleransi untuk Sumatra Barat yang saling menghargai dan memahami dalam kehidupan.

Seiring dengan hal tersebut, gubernur Sumatera Barat dan wali kota Padang menyampaikan pelaksanaan kegiatan ini merupakan wujud keharmonisan, kebersamaan, gotong royong, dan persatuan di Sumatera Barat umumnya dan Padang khususnya.

Bahkan gubernur menyampaikan masyarakat Tionghoa di Kota Padang sendiri sangat fasih berbahasa Minang, sehingga dapat terlihat jelas telah terjadi adaptasi dengan kata lain masyarakat Tionghoa di Sumatera Barat menjunjung falsafah “Dima Bumi Dipijak, Disitu Langik Dijunjuang” yang juga merupakan filosofi masyarakat Minangkabau.

Festival Bakcang Ayam di Kota Padang sendiri juga memecahkan dua rekor dunia Indonesia, yaitu Bakcang Ayam dan Lamang Baluo terbanyak dengan jumlah 10 ribu.

Bakcang Ayam dan Lamang Baluo ditempatkan pada tempat masing–masing sesuai simbol dari kedua etnis.

Bakcang ditempatkan pada perahu berkepala naga sebagai simbol etnis Tionghoa, sedangkan lamang baluo ditempatkan pada replika pedati kerbau sebagai simbol etnis Minang. Bakcang Ayam dan Lamang Baluo ini kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Festival 10.000 Bakcang Ayam dan Lamang Baluo memecahkan dua rekor MURI | Foto: Dok. Penulis

Kegiatan ini disambut hangat oleh masyarakat Kota Padang. Hal ini terlihat dengan ramainya masyarakat memadati kota tua Batang Arau dalam rangka festival Bakcang Ayam dan Lamang Baluo.

Acara ini juga menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat Kota Padang khususnya dan Sumatera Barat umumnya, karena merupakan momen langka dan momen kebersamaan yang telah terjalin lama antar-etnis, salah satunya etnis Minang dan etnis Tionghoa.

Keharmonisan serta antusiasme warga dalam festival 10.000 Bakcang Ayam dan Lamang Baluo | Foto: Dok. Penulis

Pelaksanaan Festival 10.000 Bakcang Ayam dan Lamang Baluo merupakan bukti simbolik dari keharmonisan antar-etnis di Sumatera Barat.

Kegiatan ini juga merupakan solusi dalam membangkitan ekonomi dan mendukung pariwisata di Kota Padang serta Sumatera Barat, yang diharapkan mampu menjadi kalender event tahunan sebagai bentuk semangat gotong royong, kebersamaan, persatuan dan menarik destinasi kunjungan.

Hal ini sangat diharapkan oleh panitia yang turut didukung Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Pemerintah Kota Padang.

Sebuah pesan keharmonisan dan persatuan keberagaman Indonesia disampaikan melalui dua etnis, dua momen, dan dua makanan khas etnis di Kota Padang serta Sumatera Barat, Basamo Mako Manjadi dalam keberagaman untuk kekuatan bersama.

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

4 Destinasi Alternatif di Jayapura, Papua Sebelummnya

4 Destinasi Alternatif di Jayapura, Papua

Osvaldo Haay di Ambang Rekor Top Skor SEA Games 2019 Selanjutnya

Osvaldo Haay di Ambang Rekor Top Skor SEA Games 2019

Asro Sikumbang Minangkabau
@svarnadwipa8nusantara

Asro Sikumbang Minangkabau

Freelance, Historian, Humanism, Entrepreneurship, Ambitious, Mysterious, Love Indonesia Explore Indonesia Proud Indonesia

1 Komentar

  • Tjiptadinata Effendi

    Komentar sedang dimoderasi

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.