Wahai Perempuan Penulis, Tinggalkan Hoaks!

Wahai Perempuan Penulis, Tinggalkan Hoaks!

© Dok. Penulis

Setelah berkomitmen menjadi penulis dengan tulisan berkualitas dan bergabung dalam komunitas penulis, saya lebih berhati-hati dalam menulis di media sosial.

Apabila sebelum mengikuti komunitas menulis saya sering menulis dengan materi bebas, kadang-kadang berisi keluhan (tapi tidak menyinggung orang lain), kini tidak lagi.

Bergabung di komunitas sering diingatkan teman-teman untuk menulis yang baik-baik saja untuk menjaga nama baik sebagai penulis yang bisa dipercaya.

Saya mulai berpikir, kalau saya menulis lalu saya bagikan di Facebook, tentu ada yang membaca tulisan saya.

Oleh karena tulisan saya dibaca orang lain, maka saya harus menulis sesuatu yang bermanfaat, bukan sekadar menulis sampah yang tidak bermanfaat, apalagi membagikan tulisan orang lain yang kebenarannya masih diragukan. Saya tidak ingin mempertaruhkan nama baik hanya karna menulis asal-asalan.

Demikian pula saya lebih nyaman membaca tulisan orang lain yang isinya mengandung manfaat, tidak berisi sampah. Sebisa mungkin apa yang saya baca bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya tidak mau membuang-buang waktu untuk membaca tulisan yang tidak bermanfaat, bersifat provokatif, apalagi berita tidak benar alias hoaks. Bila saya membaca tulisan orang lain yang kebenarannya masih diragukan, biasanya hanya saya baca sambil lalu.

Zaman sekarang ada media sosial maupun media cetak. Agar dimuat di media cetak, tulisan saya harus berkualitas dan memenuhi syarat dan ketentuan dari media cetak yang saya tuju.

Butuh perjuangan panjang dan harus sabar bersaing dengan penulis lain. Berbeda dengan menulis di media sosial, saya bisa lebih leluasa membagikan tulisan baik di Facebook, Instagram, blog, WhatsApp, dan Twitter.

Baik di media cetak maupun media sosial, bila tulisan saya membuka peluang pro dan kontra pasti ada orang lain yang menanggapi tulisan tersebut. Untuk tulisan yang tayang di media cetak, biasanya bila ada kekeliruan, akan ada ralat di kemudian hari.

Namun di media sosial, orang semakin cerdas, tulisan yang saya bagikan bisa disimpan, disebarluaskan lagi, dan disunting sesuai keperluan.

Tulisan yang saya unggah di media sosial, beberapa waktu yang akan datang masih bisa dicari asal tidak dihapus. Entah itu tulisan baik atau buruk, saya sudah meninggalkan jejak digital.

Oleh sebab itu saya harus selektif dalam membagikan tulisan. Bila membuat berita, yang saya tulis adalah sesuatu yang benar, bukan berita bohong alias hoaks. Saya meninggalkan hoaks dan menyampaikan sesuatu yang bermanfaat.

Menyampaikan berita bohong alias hoaks, bisa menimbulkan fitnah. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Hoaks dampaknya luar biasa. Dalam waktu singkat, hoaks akan menyebar dengan cepat seperti virus.

Beberapa tahun ini saya berlangganan koran lokal. Bagi saya media cetak ditulis oleh wartawan, warga, penulis, kontributor, dan lain-lain dengan penuh tanggung jawab.

Semua tulisan yang dimuat di koran, dipertanggungjawabkan oleh penulis. Menurut saya tulisan di media cetak jauh dari hoaks. Seandainya ada berita yang tidak benar dan diprotes oleh pembaca, penulis harus mampu menunjukkan bukti keakuratan tulisannya.

Dengan membaca tulisan di media cetak dan online, saya mendapatkan informasi secara seimbang. Bila dari media sosial saya mendapatkan berita tidak benar alias hoaks, sumbernya tidak bisa dipercaya, bagi saya cukup berita tersebut berhenti di saya. Apabila berita tersebut ada tautannya, maka saya akan membuka alamat tersebut.

Nah, sebagai seorang perempuan penulis, saya memiliki harapan untuk saya pribadi dan perempuan penulis lainnya agar menulis sesuatu yang bermanfaat (tidak nyampah, curhat, berkeluh kesah), mencintai dunia literasi, gemar membaca buku-buku, memanfaatkan media cetak, menerbitkan buku, bijak menggunakan media sosial, menyampaikan berita yang benar, dan tidak menyampaikan berita hoaks.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Wara-Wiri, Kendaraan Ikonik Jakarta Fair 2019 Sebelummnya

Wara-Wiri, Kendaraan Ikonik Jakarta Fair 2019

Yogyakarta Gamelan Festival 2019 "New Gamelan" Siap Digelar Selanjutnya

Yogyakarta Gamelan Festival 2019 "New Gamelan" Siap Digelar

6 Komentar

  • Afin yulia

    Saring sebelum sharing ya, Mbak, agar tidak banyak yang tersesat karena kita ikut-ikutan menyebarkan hoaks.

    • Noer Ima Kaltsum

      Betul. Sebagai penulis harus bijak dan cerdas.

  • Gitaria Eka

    Setuju, saat saya menulis untuk dipublikasikan ke publik juga dipilah, ini pantas tidak ya dikonsumsi umum. Kalaupun curhat, biasanya hanya tersirat saja.

    • Noer Ima Kaltsum

      Tidak terlalu over curhat, ya Mbak. Hehe

  • Reyne Raea

    Hehehe, kalau saya suka menulis curhat. Karena saya belajar menulis dari curhat. Tapi insha Allah, curhat saya bermanfaat dengan mengedepankan penulisan yang baik dan benar. Dan tentunya, menjauhi hoax 😊

    • Noer Ima Kaltsum

      Asal curhatnya bukan sekadar nyampah, Mbak. Hehe

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.