Bersahabat dengan Hoaks

Bersahabat dengan Hoaks

© Dok. Penulis

Apa yang terbayang oleh anda jika mendengar kata perempuan?

Umumnya langsung terbayang kecantikan, kecerewetan, penampilan, suara yang nyaring, atau aroma parfum yang kadang menyengat. Begitulah biasanya bila mendengar kata perempuan.

Belum lagi mendengar kata hoaks, yang terlintas adalah berita maupun informasi yang simpang siur, dan asalnya tidak ada yang tahu. Bahkan pertanggungjawaban atas kebenaran berita hoaks sangat kecil.

Apalagi bila berita hoaks sampai di telinga seorang perempuan. Bagaimana seorang perempuan menanggapi berita hoaks?

Mari kita diskusi, dan ini hanyalah pendapat yang berasal dari beberapa pengamatan penulis yang mempunyai beberapa grup WhatsApp, juga sebagai anggota sebuah komunitas yang beranggotakan para perempuan.

Grup WhatsApp, yang saat ini sedang mewabah karena penggunanya yang semakin meningkat dan menjadi salah satu media sosial terpopuler.

Seperti yang disampaikan oleh Indari Mastuti pada saat memberikan pengantar kelas BOW atau disebut sebagai Bimbingan Optimasi WhatsApp.

Indari Mastuti mengutip dari Firma riset App Annie mencatat, pada akhir September 2018 lalu jumlah pengguna aktif bulanan (monthly active user/MAU) WhatsApp sudah melampaui Facebook.

Dalam 24 bulan terhitung mulai Januari 2017, pertumbuhan pengguna WhatsApp mencapai 30 persen, sementara Facebook hanya 20 persen.

Pada surat kabar Solopos, tercatat bahwa tingkat literasi perempuan di dunia termasuk tinggi. Indonesia sampai di angka 94 persen pada 14 Mei 2019. Artinya, melek literasi perempuan ikut andil sebagai pengguna aktif di media sosial.

Permasalahannya, bagaimana agar melek literasi para perempuan di grup WhatsApp bisa optimal dan efektif untuk hidup lebih baik? Itulah ajakan seorang pebisnis sekaligus penulis, Indari Mastuti, dalam menyikapi tingginya tingkat pengguna aktif sosial media pada perempuan.

Selain itu, ada cara lain agar para perempuan mampu mengadang bombardir hoaks yang beredar dengan meningkatkan aktivitas membaca dan dilanjutkan dengan menulis. Membaca dengan cara yang kreatif juga cerdas. Bagaimana perempuan mau membaca dengan cerdas?

Atasi hoaks dengan cerdas membaca

Perempuan memang suka ngerumpi dibandingkan menulis atau membaca. Membaca pun lebih ke hal penting dan disuka atau sesuai minatnya. Hal yang dibaca cenderung berupa pesan singkat, atau pesan penting dari anak atau keluarga.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, dalam artian mengutamakan kepentingan keluarga. Namun menjadi beda bagi para perempuan yang telah melekat dengan media sosial, berjejaring tanpa kenal waktu dan tempat.

Tidak jarang kita mendengar berita, anak dibiarkan terpapar ponsel karena memang mencontoh orang tuanya. Ada berita balita sampai celaka, karena terlewat dari pemantauan disebabkan pengasuh asyik berjejaring di media sosial.

Sebenarnya, peristiwa tersebut tidak perlu terjadi apabila kita cerdas dalam berjejaring di dunia maya. Apalagi peran perempuan nantinya sebagai seorang ibu, dan peran ini merupakan kodrat sebagai seorang perempuan yang berperan sebagai ibu sekaligus pendidik, pengasuh, pengayom bagi anak-anaknya kelak.

Hoaks semakin merajalela membelah samudera lautan informasi di dunia maya. Oleh karena itu, wahai perempuan, cerdaslah dalam memilih atau menggunakan informasi yang disajikan melalui media sosial.

Siapa saja yang bisa terpengaruh oleh hoaks? Perlu kiranya dipahami bagaimana menerima dan menanggapi beredarnya sebuah informasi. Terutama informasi yang berkembang di dunia maya. Inilah saatnya, para perempuan mau membaca dengan cerdas.

Lihatlah di sekitar kita. Mulai dari balita, tukang sayur, penarik becak, sampai manula bermain ponsel. Umumnya mereka sudah mulai asyik membaca dan berasa dunia milik sendiri, ditandai dengan senyum-senyum sendiri, bahkan sampai tertawa lepas sendirian.

Jika sedang menerima panggilan pun bisa berbicara sampai berlama-lama, dan keras. Itulah pertanda sudah semakin banyak dan berkembang budaya baca di masyarakat kita. Meski yang dibaca hanya status di sosial media melalui telepon pintar.

Belum lagi mereka yang menggunakan headset di telinga dengan berjoget seolah menari mengikuti alunan musik lewat telinganya, meski sedang berada di jalanan. Inilah yang harus diperhatikan, dan dicarikan solusi.

Bagi para emak, perempuan, ibu-ibu, khususnya perempuan yang berpredikat perempuan penulis, berita hoaks bisa jadi sahabat malahan berbuah manfaat?

Hoaks bisa jadi sahabat ketika disikapi sebagai pembelajaran hidup. Hoaks akan menjadi manfaat ketika dicerna dan "dimasak" menjadi sajian tulisan bermakna. Bagaimana caranya?

Sekali membaca, diamkan.

Cek dan cek dengan media sosial lainnya.

Cek dengan sumber berita yang lebih update atau media cetak lainnya.

Cek juga dari sumber yang berkompeten. Misalnya berita tentang meletusnya gunung berapi, mestinya tidak dikeluarkan oleh sumber selain BMKG. Lebih jauh lagi cek tanggal dan waktu pemberitaan. Terkadang, dalam grup ada yang asal share tanpa melihat waktu yang tercantum dalam berita.

Cek ke ahlinya. Sebaiknya kita mempunyai banyak teman, saudara yang sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Pemanfaatan media sosial tidak sekadar untuk memenuhi hasrat bergurau, ngobrol tanpa tujuan, namun sebaiknya berjejaring dengan tujuan pengembangan diri atau penambah wawasan pengetahuan.

Itulah beberapa tahapan yang semestinya dipahami oleh para perempuan dalam berjejaring di dunia maya. Apalagi beberapa penipuan juga melalui media sosial yang dapat menjerumuskan seseorang, bisa dikarenakan salah memilih teman di dunia maya, atau berselancar tanpa ada tujuan.

Jadilah perempuan yang tidak mudah percaya atas beredarnya berita hoaks. Perempuan cerdas, perempuan yang mau membaca dengan cermat, dan memiliki wawasan luas karena membaca.

Apalagi bagi seorang perempuan yang penulis. Menyaring informasi merupakan hal utama menuju penulis berkualitas. Sampaikan informasi yang terbaik, bukan informasi yang terpopuler di media sosial.

Perempuan penulis selayaknya paham bagaimana membaca hoaks yang beredar, kenali sumber informasinya, baik cetak maupun digital. Tambahkan "bumbu informasi" agar menjadi sajian lezat, layak dikonsumsi secara sehat sebagai informasi manfaat yang dapat menambah wawasan pengetahuan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi Sebelummnya

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu Selanjutnya

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu

tri hardiningtyas
@trihardi285

tri hardiningtyas

2 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Kalau mendapatkan pesan berantai/berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sebaiknya cukup sampai di kita, tak perlu disebarkan

  • Rohyati Sofjan

    Ya, bersahabat dengan hoaks adalah cara dari sekian cara untuk mengatasinya. Jadikan hoaks sebagai pelajaran untuk waspada pada hoaks sendiri.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.