Maraknya Cyberbullying, Mahasiswa UM Temukan Motif Tindakan Cyberbullying  

Maraknya Cyberbullying, Mahasiswa UM Temukan Motif Tindakan Cyberbullying  
info gambar utama

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang melakukan penelitian mengenai motif-motif cyberbullying pada remaja. Dilatarbelakangi oleh banyaknya cyberbullying pada akhir-akhir ini dan dampanya semakin meningkat, membuat Nadya dkk khawatir akan kondisi psikologis dari para remaja yang ada di Indonesia khususnya di Malang Raya.

Cyberbullying adalah tindak penindasan di dunia maya yang ditujukan kepada orang lain dengan mengirim atau mengunggah materi yang berbahaya dan dapat berbentuk sebuah penghinaan bagi seseorang yang dilakukan secara sengaja maunpun tidak sengaja, (biasa dilakukan karena bercanda) biasa dilakukan dengan membuat kata-kata atau memposting aib orang lain.

Data yang diperoleh UNICEF pada tahun 2016 sebanyak 41-50 persen remaja di Indonesia dalam rentang usia 13 sampai 15 tahun pernah mengalami tindakan cyberbullying.

Selain itu, bahkan menurut hasil riset terbaru yang dilakukan oleh APJII menunjukkan bahwa 49 persen pengguna internet di Indonesia pernah menjadi sasaran bullying di media sosial atau lebih tepanya pernah menjadi korban dari keganasan cyberbullying baik yang dilakukan oleh orang terdekatnya maupun oleh netizen Indonesia yang sudah sangat terkenal keaktifannya di media sosial.

Kasus cyberbullying termasuk dalam kategori tinggi di mana hampir setengah populasi remaja di Indonesia pernah mengalami cyberbullying. Menurut ahli, kasus cyberbullying terus meningkat dikarenakan karakteristik media sosial yang memungkinkan pengguna bertukar informasi secara cepat dan fitur yang memungkinkan pelaku untuk menyembunyikan identitas serta belum adanya kepastian hukum terkait cyberbullying.

Dampak yang ditimbulkan oleh tindakan cyberbullying pada korban antara lain depresi, kecemasan, ketidaknyamanan, prestasi di sekolah menurun, tidak mau bergaul dengan teman-teman sebaya, menghindar dari lingkungan sosial atau lebih sering cenderung ke perilaku anti sosial karena minder dengan dirinya sendiri, dan adanya upaya untuk melakukan tindakan bunuh diri dari beberapa kasus yang ada.

Berbekal kekhawatiran tersebut mahasiswa BK UM pada tahun 2018 mengajukan proposal penelitian mereka yang berjudul “Motif-Motif Cyberbullying Remaja (Mixed Study Tentang Pola Komunikasi Sosial Media Remaja Malang Raya)” lolos didanai Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian.

Penelitian tersebut mengambil obyek remaja Malang Raya, yang dilakukan dengan pengambilan sampel dari tiga SMA sebagai representasi dari Malang Raya yaitu SMAN 8 Malang mewakili area Kota Malang, SMA Negeri 1 Batu mewakili area Kota Batu, dan SMA Negeri 1 Kepanjen mewakili Kabupaten Malang.

Penelitian yang dilakukan menggunakan metode mixed study sehingga data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dengan teknik instrumen kuesioner atau angket yang disebar pada 30 persen jumlah siswa kelas 10 dan 11, kemudian diperdalam dengan penelitian kualitatif dengan FGD (Focus Grup Discussion) atau diskusi kelompok terarah yang akan dilakukan di setiap sekolah.

Penggunaan metode mixed study dalam penelitian ini memiliki alasan yaitu dengan lengkapnya data dan metode yang digunakan, diharapkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini benar-benar akurat, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai acuan bagi pengembangan penanganan korban maupun pelaku tindakan cyberbullying di sekolah.

Tim penelitian ini diketuai oleh Nadya Yaniar Nafis yang beranggotakan Devi Eriska Sari dan Nur Mega Aris Saputra.

Ketiga peneliti tersebut merupakan mahasiswa Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang tersebut melakukan penelitian dibimbing langsung oleh Dr. Muslihati, S.Ag,. M.Pd. Ide penelitian ini muncul dari meningkatnya kasus tentang cyberbullying pada remaja saat ini.

Penelitian ini menghasilkan buku tentang Motif-motif Cyberbullying yang dapat memberikan informasi terkait cyberbullying kepada pembaca. Selain itu juga menghasilkan model intervensi prevensi dan kurasi cyberbullying berupa model intervensi kurasi dan prevensi atau RPLBK (Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal) untuk diserahkan kepada konselor sekolah sebagai pedoman untuk memberikan layanan kepada siswa.

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dipresentasikan pada ajang seminar nasional, internasional serta Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS 32) yang akan dilaksanakan di Bali pada akhir Agustus 2019. Sehingga dapat menjadi referensi dan ajang bertukar pemikiran diantara peneliti lainnya.


Catatan kaki: Mahasiswa UM, Motif Cyberbullying, Penelitian, PKM-PSH, Cyberbullying

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NS
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini