Menanti Senja di Bukit Merese, Kuta Mandalika

Menanti Senja di Bukit Merese, Kuta Mandalika

Wisatawan Mancanegara terlihat menikmati panorama alam saat matahari perlahan menuju peraduan © Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

  • Bukit Merese, Desa Kuta Lombok, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, merupakan salah satu destinasi wisata di kawasan wisata Mandalika Nusa Tenggara Barat (NTB).
  • Matahari tenggelam jadi momen yang dinanti di perbukita Merese, terutama dekat tebing bukit diatas pantai Tanjung Bongo dengan air laut berwarna biru kemerah-merahan karena pantulan matahari.
  • Perbukitan Merese masuk di Lombok wilayah Selatan yang dulu rekat dengan stereotip rawan terjadinya aksi begal. Tetapi seiring makin ramainya daerah tersebut, makin menghilang pula tingkat kejahatan
  • Warga berharap kondisi alamiah Bukit Merese tetap dipertahankan seiring makin ramainya wisatawan.

Matahari perlahan turun menuju peraduan. Bayangan bebatuan mulai terlihat memanjang beriringan dengan bayangan para wisatawan yang datang menyaksikan matahari tenggelam. Warna langit pelan-pelan menuju kemerahan menanda senja mulai datang menyapa di perbukitan Merese, Desa Kuta Lombok, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Seorang penggembala, menggiring puluhan kerbau peliharaanya menuruni bukit berselimut rumput hijau nan luas.Warga yang bermukim di sekitar menyebutnya bukit Merese, atau bukit merisik yang berarti gundul.

Disebut gundul karena dibukit itu hampir tidak ada tegakan pohon sama sekali. Hal ini membuat peternak lokal memanfaatkan tempat tersebut untuk dijadikan tempat menggembala sapi, kambing, atau kerbau.

Di akhir musim hujan, seperti pada bulan Februari-April rumput yang menyelimuti permukaan bukit tetap terlihat hijau segar.

Beragam pengunjung yang datang ke bukit Merese, dari wisatawan Lokal, Nasional maupun Mancanegara | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia
Wisatawan Mancanegara terlihat menikmati panorama alam saat matahari perlahan menuju peraduan | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Berpadu Kearifan Lokal

Menginjak petang, sekawanan kerbau tanpa tali ikat berjalan beriringan turun ke bawah untuk kembali ke kandang.

Gelap mulai datang menyelimuti. Menanda hari akan berganti malam.

Dalam perjalanan sekawanan kerbau berpapasan dengan pengunjung, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Beberapa di antara mereka berhenti sejenak untuk mengabadikan momen tersebut menggunakan ponsel.

Suasana tersebut menjadi hal yang unik. Semacam atraksi wisata tersendiri di bukit yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika. Di kawasan ini tempat wisata masih berpadu dengan kearifan warga lokal yang beraktifitas normal.

Terpaan sinar matahari sore yang perlahan tenggelam membuat pengunjung mulai berbondong-bondong mendekat ke tebing bukit yang menjorok ke barat. Persis dibawahnya merupakan pantai Tanjung Bongo dengan air laut berwarna biru kemerah-merahan karena pantulan matahari.

Tak ingin melewatkan momen itu, sejumlah pengunjung berfoto dengan sejumlah gaya. Ada yang berswafoto, berpose dengan gaya “follow me to”, hingga gaya foto ala romantic couple.

Mereka terlihat antusias mengabadikan matahari tenggelam, tak terkecuali oleh Irwan Suharto, wisatawan asal Makassar itu juga ikut larut dalam menikmati keindahan dari Bukit Merese. Ia menyempatkan berwisata backpacker ke Lombok sebelum melanjutkan studinya di Malang.

“Disini cukup komplit ya, ada padang rumput dan hamparan laut yang luas, terus bisa melihat sunset sekaligus sunrise dari bukit ini,” ujar Irwan.

Di bukit Merese, peternak lokal masih memanfaatkan tempat wisata itu untuk penggembalaan sapi, kambing maupun kerbau | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia
Saat hari mulai petang, sejumlah pengunjung berjalan turun untuk kembali pulang | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Akses Menuju ke Merese

Bukit Merese merupakan bukit yang berada di kawasan Wisata Mandalika. Di kawasan ini terdapat sejumlah wisata, yang paling dikenal di daerah ini terlebih dahulu yaitu pantai Kuta.

Untuk melakukan perjalanan ke tempat ini, pengunjung tidak terlalu bingung. Tempat ini cukup familiar di kalangan wisatawan maupun masyarakat sekitar.

Jika wisatawan datang dari Kota Mataram, perjalanan dua jam dengan menggunakan kendaraan bermotor. Sementara dari Bandara Internasional Lombok hanya berjarak kurang lebih 45 menit perjalanan.

Jalanan yang sudah beraspal membuat mudah akses menuju ke sini. Berbeda dengan dahulu, dengan dibukanya kawasan Wisata Mandalika membuat akses menuju Bukit Merese sangat aman dilalui.

Hal ini diungkapkan oleh Herman, seorang warga Desa Kuta yang juga berkecimpung di usaha pariwisata. Dia mengatakan, dulu di Lombok wilayah Selatan rekat dengan stereotip rawan terjadinya aksi begal.

Kini dengan berkembangnya pariwisata membuat warga mulai menyadariakan potensi ekonomi di daerah ini.“Sepuluh tahun yang lalu, kawasan sini masih sangat sepi. Itu yang membuat pelaku-pelaku kejahatan itu mudah untuk berbuat jahat. Tapi sekarang sudah ramai, perilaku jahat perlahan hilang”, kenang Herman.

Di sepanjang perjalanan menuju Bukit Merese, pengunjung akan disuguhi dengan ragam aktifitas penduduk lokal. Kebanyakan aktifitasnya yaitu bercocok tanam, nelayan dan peternak kerbau. Jadi, jangan heran jika diperjalanan sering kali dijumpai kerbau berjalan di jalur aspal. Selain itu, juga panorama pemandangan pantai, perkebunan dan juga sebagian rumah tradisional yang dibiarkan cukup menarik untuk diabadikan.

Untuk mengunjungi Bukit Merse pengunjung hanya perlu membayar uang parkir sejumlah Rp5.000. Kemudian pengunjung perlu berjalan kaki kurang lebih 5 menit untuk hingga diatas Bukit.

Dua wisatawan mendekat ke tebing bukit Merese sebelah barat, persis dibawahnya merupakan pantai Tanjung Bongo dengan laut biru kemerah-merahan karena pantulan matahari | Foto : Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia
Sejumlah wisatawan beraktifitas dengan latar belakang “sunset” di Bukit merese | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Dibiarkan Alami

Keindahan Bukit Merese masih sangat alami. Keindahan ini membuat banyak didatangi wisatawan. Umumnya, mereka memang melakukan perjalanan satu paket dengan menikmati pantai-pantai di kawasan Lombok Selatan, dari pantai Kuta hingga pantai Tanjung An.

Rombongan wisatawan mancanegara yang datang dari Bali sehari menikmati Wisata Mandalika. Setelah itu kembali lagi ke Bali. Wisatsawan mancanegara yang datang cukup beragam, ada yang dari Spanyol, Australia, India, dan Jepang.

“Sabtu, Minggu biasanya ramai sekali. Pasca gempa di Lombok Utara kemarin mempengaruhi kedatangan pengunjung. Beberapa waktu lalu menurun drastis,” ungkap Herman.

Namun seiring berjalanya waktu tempat wisata Merese kini mulai ramai kembali. Dengan ramainya kawasan ini Herman berharap kealamian wisata di Bukit Merese dan sekitarnya tetap dipertahankan.

“Saya wanti-wanti jangan sampai seperti di kawasan Pantai Kuta Lombok. Karena sudah mulai banyak pembangunan di sana yang mempengaruhi kualitas pasir. Tidak lagi putih sebagaimana aslinya tapi bercampur dengan pasir hitam karena pembangunan bangunan permanen,” harap Herman.


Catatan kaki: Ditulis oleh Falahi Mubarok dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kupang-Dili Kini Terhubungan Penerbangan Langsung Sebelummnya

Kupang-Dili Kini Terhubungan Penerbangan Langsung

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang Selanjutnya

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.