Perempuan Penulis dan Hoaks di Sekitarnya

Perempuan Penulis dan Hoaks di Sekitarnya
info gambar utama

Banyak di antara kita yang sudah tidak asing lagi dan sering mendengar kata "hoaks". Menurut kbbi.kemdikbud.go.id, hoaks adalah berita bohong. Kebohongan sebuah berita yang tergolong hoaks di antaranya karena tidak memiliki sumber yang jelas serta mengandung informasi yang menyesatkan.

Sayangnya, di era ini, banyak sekali berita yang sekilas terlihat benar, tetapi ketika diteliti lebih lanjut ternyata tergolong berita hoaks. Akibatnya, banyak yang kemudian salah mengambil langkah.

Alih-alih bermaksud menebarkan kebaikan dengan membagikan berita hoaks tersebut, yang terjadi justru sebaliknya. Maksud baik tersebut malah menjadi bagian dari penyebaran berita hoaks yang menyesatkan.

Tentu saja, tindakan ini tidak benar dan harus segera dihentikan. Berita hoaks yang menyebar tidak saja mengandung kebohongan, tetapi juga bisa berdampak negatif.

Lihat saja, betapa banyaknya keributan, perselisihan, bahkan melayangnya nyawa secara sia-sia hanya karena berita hoaks yang terlanjur diyakini kebenarannya.

Salah satu kalangan yang paling mudah terkecoh dengan berita hoaks adalah perempuan. Sebagai makhluk yang lebih dominan mengutamakan perasaan, kaum perempuan sering kali mudah terbawa emosi.

Akibatnya, ketika menemukan berita yang dirasakannya harus diketahui orang banyak, tanpa pikir panjang ia akan menyebarkannya, bahkan menjadikannya sebagai topik hangat yang akan senantiasa dibahas dalam forum maupun komunitas yang diikutinya.

Tidak hanya itu, terkadang, meski telah diingatkan, si pembawa berita tersebut akan tetap dalam keyakinannya dan bersikeras bahwa berita yang dibawanya adalah benar adanya.

Lalu bagaimana menghadapi situasi seperti ini? Tak ada jalan lain selain lebih waspada dan teliti serta bijaksana ketika mendapati sebuah berita. Jangan mudah terkecoh, meski berita tersebut dikemas dalam tampilan yang begitu indah.

Untuk itu, kenali dan pastikan kebenaran sebuah berita sebelum tangan kita menyebarluaskannya ke tempat lain. Sekiranya berita itu benar dan bermanfaat, silakan dibagikan sebanyak-banyaknya. Sebaliknya, jika tidak, cukuplah berita itu berhenti sampai di sini.

Menangkal berita hoaks

Tentu saja, berita hoaks harus ditangkal. Lalu bagaimana cara mengetahui apakah sebuah berita itu termasuk hoaks atau tidak? Nah, berikut ini ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Jangan mudah menyebarkan berita

Saring sebelum sharing, pastikan kebenaran berita sebelum menyebarkannya. Demikian hal yang harus dipegang sebelum ikut menyebarkan sebuah berita yang sampai pada kita.

Jangan hanya karena ingin disebut sebagai orang yang pertama menyebarkan “kebaikan”, kita kemudian terburu-buru ikut menyebarkan sebuah berita.

Bersikaplah kritis ketika sebuah berita sampai pada kita. Telitilah terlebih dahulu kebenaran berita yang ada. Bahkan, dalam keadaan tertentu, bisa jadi sikap tidak peduli menjadi satu tameng yang ampuh untuk menangkal hoaks.

Bukan apa-apa, terkadang karena suka atau benci dengan berita yang ada, kita pun terlepas dari rasionalitas. Perasaan pun lebih dikedepankan daripada logika. Kalau sudah begini, bisa runyam, bukan?

Waspadai judul berita yang provokatif

Kekuatan sebuah artikel biasanya terletak pada judulnya. Nah, hal ini membuat orang sering kali menempatkan judul yang sensasional demi menarik minat pembacanya. Padahal, bisa jadi antara judul dan isi justru bertolak belakang. Judulnya menyebut A, tetapi isinya tentang B.

Oleh karena itu, ketika menemukan sebuah berita dengan judul yang sensasional, bahkan bernada provokatif, berhati-hatilah. Sebelum memercayai isi berita tersebut, carilah referensi berita sejenis yang berasal dari media resmi.

Setelah itu bandingkanlah, apakah berita tersebut sama atau berbeda. Dengan demikian, kita dapat mengetahui keabsahan sebuah berita.

Perhatikan alamat situsweb pembuat berita

Langkah berikutnya adalah memperhatikan alamat dari situs yang membuat berita tersebut. Langkah ini ditempuh karena saat ini banyak sekali situsweb yang mengklaim sebagai situs berita.

Padahal, yang terverifikasi menurut Dewan Pers Indonesia tak sebanyak yang ada. Jadi, ada sekitar 43.000 situsweb berita, sementara yang terverifikasi hanya sekitar 300.

Sangat tidak seimbang, bukan? Keberadaan situs yang tidak jelas tersebut menjadi salah satu hal yang berpotensi sebagai penyebar hoaks.

Periksa keaslian foto atau video

Sebuah berita yang menyertakan foto/gambar atau video memang lebih menarik dibanding yang hanya melulu memaparkan tulisan. Bahkan, kehadiran foto atau video bisa menjadi penguat akan kebenaran berita tersebut. Tak heran, bila banyak berita yang disajikan bersama dengan gambar atau video.

Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para penyebar hoaks. Alhasil, ketika diteliti, ternyata antara foto atau video dengan berita yang disajikan tidak ada korelasinya sama sekali. Foto atau video dicomot dari tempat lain dan ditampilkan seolah-olah merupakan bagian dari berita hoaks yang disebarkan.

Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengetahui sebuah berita adalah hoaks atau bukan adalah dengan memeriksa keaslian foto atau gambar. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengeceknya melalui mesin pencarian Google.

Bergabung bersama komunitas anti hoaks

Untuk menanggulangi masalah hoaks yang cukup meresahkan ini, telah banyak komunitas yang dibentuk di media sosial. Secara berkala, komunitas ini mengadakan diskusi, saling berbagi informasi dan tips seputar berita hoaks.

Grup-grup komunitas ini biasanya dibuka untuk umum agar semakin banyak masyarakat yang cerdas dan sadar sebelum mengunyah atau justru memuntahkan berita hoaks yang sampai padanya.

Peranan perempuan penulis dalam memberantas hoaks

Pada bagian awal telah disebutkan bahwa kaum perempuan merupakan sasaran empuk penyebaran berita hoaks. Atas dasar perasaan suka atau benci yang berlebih, kaum perempuan menjadi lebih mudah memainkan jemarinya untuk kemudian ikut menyebarkan berita yang sampai padanya. Saring sebelum sharing-pun menjadi hal yang dinomorduakan.

Oleh karena itu, sebagai seorang perempuan penulis, sudah sewajarnya bila kita ikut mengambil peran dalam pemberantasan berita hoaks. Tentu, kita sudah tahu betapa sebuah berita hoaks tidak hanya merugikan, tetapi juga bisa menjadi sangat berbahaya.

Jangan sampai semangat untuk menyebarkan kebaikan yang tidak didasari ilmu menjadikan kita menulis hal-hal yang termasuk dalam kategori hoaks. Untuk itu, lakukan langkah-langkah di atas sebelum menulis atau menyebarkan sebuah berita.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita, terutama para perempuan penulis. Tetaplah menulis dan menyebarkan kebaikan lewat untaian kalimat yang indah dan bermakna.

Berhati-hatilah dengan hoaks agar tulisan kita tidak disalahgunakan dan dijadikan sebagai bahan untuk mengadu domba serta memecah belah anak bangsa.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HS
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini