Kisah Zul, Tukang Parkir di Duri yang Ternyata Lulusan Sarjana

Kisah Zul, Tukang Parkir di Duri yang Ternyata Lulusan Sarjana
info gambar utama

Pria berkepala plontos itu masih berdiri tegak walau hari sudah terik. Hanya dengan dipayungi topi, ia mengatur parkir di seputar Jalan Mawar Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Tubuhnya yang penuh keringat dan matahari menyengat tak membuat pria 43 tahun itu patah semangat. Dia Zulkarnain, pria yang akrab disapa Bang Zul itu sudah melakoni kerjaannya sebagai juru parkir sejak 5 tahun terakhir.

Siapa sangka, perawakannya yang sederhana ternyata lulusan Sarjana Muda. Selain menjadi juru parkir, ternyata dia juga staf honorer di salah satu SD Negeri di 'Kota Minyak' Duri, Kabupaten Bengkalis.

Sehari-hari, sepulang bertugas di sekolah, menggunakan motor Supra rakitan lama, ia langsung bergegas meluncur ke lokasi yang menjadi tempat mangkal mengatur kendaraan berbaris. Ramah dan bersahaja, itulah perawakannya.

Pria beranak satu itu bekerja jadi juru parkir dari pukul 12.00 hingga 23.00 WIB. Ia pun harus sigap dalam menjalani roda kehidupan. Hal itu tak jadi soal baginya, selama bisa memenuhi kebutuhan keluarga dengan rejeki halal.

Ia mengaku, sejak kecil sudah terbiasa hidup keras dan mandiri. "Saat masih SD sudah ditinggal orang tua mendahului, jadi bagaimanapun itu menjadi motivasi untuk melangkah maju," kata Zul yang lekat dengan kacamata hitam di kepala.

Zul, si tukang parkir yang gigih. Dia merangkap sebagai staff honorer di SD Negeri 08 Mandau, Bengkalis
info gambar

Lantas, ia pun berbagi kisah lika-liku pengalaman hidupnya. Berawal dari kerasnya kehidupan semasa kecil yang tidak terbilang bahagia, membuatnya mandiri dengan prinsip kerja yang ulet.

Diceritakan dia, semasa kecil, saat ekonomi lemah orang tuanya meninggal dunia. Itu saat ia masih mengeyam pendidikan tingkat SD dan ketepatan saat Ujian Nasional (dulu Ebtanas).

"Menjadi memori pilu yang sangat membekas. Masa transisi, masa sedih bagi kami," kata dia.

Selepas ditinggal orang tuanya, mereka adik-beradik memulai berkiprah mencari sumber penghidupan untuk membantu ekonomi keluarga.

"Dulu waktu kecil di Dumai, saya bantu-bantu kerja, nyemir sepatu dan mengisi garam ke karung di tepi pantai Dumai. Itu yang saya lakoni sejak belia," kenang Zul.

Walau demikian, Zul tidak mau meraup hasil duniawi dari jalur 'kiri'. Prinsipnya berpegang teguh pada kerja yang halal. Tanpa gengsi, tanpa menyusahkan orang lain, tidak mengganggu keamanan dan tidak menimbulkan kerusuhan.

Kemudian, setelah setamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Dumai. Ia pun mangadu nasib menjadi pegawai kontrak PT. Telkom. Dia pun diterima sebagai petugas kebersihan, tahun 1997.

Masa-masa itu dilakoninya sambil kuliah untuk menggapai asa. Tiga tahun berlalu, Zul naik Cas dan dimutasi ke Duri bertugas mengurusi Wartel (Warung Telekomunikasi). Lambat laun, wartel semakin redup diterpa produksi ponsel yang semakin canggih. Zul pun berhenti dari pekerjaannya.

"Tahun 2010 saya berhenti di PT. Telkom, tapi sejak 2007 saya sudah nyambi-nyambi kerjaan lain, yaitu menjadi Tata Usaha Sekolah di Duri," akunya.

Dari kehidupannya, ia juga menerapkan Pepatah lama, 'Sedia payung sebelum hujan'. "Sebelum kena pecat sediakan pekerjaan lain," ungkap Zul, sumringah.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/wp-content/uploads/images/source/panjisyuhada/20192006IMG20190619090847-01.jpg
info gambar

Pendidikan yang dienyam Zul tidak terbilang rendah, karena dirinya berhasil menyandang status sarjana muda (D-III) dari pahit getirnya kehidupan yang dijalani. Ia lulus dari salah satu sekolah tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer di Dumai, Riau, tahun 2004 silam.

Namun, nasibnya tak seberuntung sarjana seangkatannya yang kebanyakan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS/ASN) dan Karyawan Perusahaan Migas.

Dia pun tak patah arang untuk menjemput asanya, dan ia memilih peruntungannya dengan menjadi petugas parkir.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/wp-content/uploads/images/source/panjisyuhada/20192006IMG20190619090847-01.jpg
info gambar

Dari hasil kerja sebagai juru parkir dan staf honorer sekolah, dia meraup pundi-pundi rupiah yang terbilang cukup memenuhi hidup. Tapi bukan untuk gaya hidup.

Masa-masa sulit dilalui, menjadi pelajaran hidup yang sangat berarti baginya. Lantas, ia mengharap agar kisahnya dapat menjadi motivasi bagi pemuda-pemudi yang masih mencari jati diri tanpa gengsi.

"Jangan patah semangat, selalu ada jalan jika ada kemauan, tanpa gengsi," pesannya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PS
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini