Perempuan Menulis Indonesia

Perempuan Menulis Indonesia
info gambar utama

Perlu waktu beberapa lama saya memikirkan ide tulisan untuk tema terakhir Nulis Bareng IIDN ini. Setelah beberapa lama, saya memilih untuk menelusuri riwayat dua perempuan penulis di Indonesia, RA Kartini dan S.K. Trimurti.

Dua penulis beda zaman yang menyuarankan gagasan pembebasan perempuan. Dua penulis yang melampaui zamannya dan sering disebut sebagai pemberontak karena mendobrak hal-hal tabu dan kesenjangan gender, sehingga atas jasa merekalah kaum perempuan di Indonesia menikmati kebebasan berekspresi seperti sekarang.

Meski keduanya hidup di tahun berbeda, namun keduanya memiliki beberapa persamaan. Sama-sama berasal dari golongan priyayi yang resah melihat kehidupan kaum perempuan yang dinomorduakan (second sex), sama-sama mengenyam pendidikan saat sebagian besar perempuan belum bisa menikmatinya, gandrung dengan bacaan, cerdas, menguasai bahasa asing, visioner, dan sama-sama berjuang melalui penanya.

Jamak diketahui, pandangan-pandangan dan pemikiran R.A.Kartini tertuang dalam surat-suratnya yang ditujukan kepada sahabat-sahabatnya seperti, Ny. Abendanon dan Estelle Zeehandelaar di Batavia.

Surat Kartini yang berisi tentang keinginannya untuk bisa bersekolah di Belanda menjadi perhatian serius pemerintah Belanda, sehingga mengirim seorang utusan, Van Kol, datang ke Jepara.

Sayang, sang ayah tidak mengizinkan Kartini bersekolah ke Batavia. Kumpulan surat-surat tersebut kemudian dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht pada tahun 1911 di Belanda dan kemudian Balai Pustaka menerbitkan dalam bahasa Melayu dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, beberapa tahun setelah Kartini meninggal.

Dalam hal pendidikan, S.K. Trimurti memiliki nasib yang berbeda dengan Kartini. Terlahir sebagai anak seorang wedana, ia yang lahir pada tahun 1921 lebih memiliki kesempatan untuk belajar, hingga meneruskan kariernya sebagai guru di sekolah Meisjesschool di Banyumas. Namun arus zaman saat itu membawanya ke dunia politik pergerakan nasional.

Indonesia yang kala itu masih dalam penjajahan Belanda memunculkan orang seperti Bung Karno yang menyalakan api semangat anti kolonialisme di setiap pidato-pidatonya.

Banyak anak-anak muda yang mengidolakan Soekarno muda, tak terkecuali S.K. Trimurti yang saat itu masih memakai nama aslinya, Surastri Karma. Merasa akan lebih punya peran jika terlibat dalam pergerakan nasional, S.K. Trimurti memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai guru dan bergabung dengan Partindo.

Perempuan yang di kemudian hari menikah dengan pengetik teks proklamasi, Sayuti Melik, ini menggunakan tulisan sebagai media perjuangannya. Melalui tulisan-tulisan di surat kabar maupun pamflet, ide dan pandangan-pandangan kritisnya tersebar.

Semangatnya guna membuka pandangan dan pikiran rakyat Indonesia untuk berjuang merebut kemerdekaan bangsanya membuat ibu pemberani ini menjadi salah satu orang yang dianggap berbahaya oleh penjajah, baik Belanda ataupun Jepang.

Gerak-geriknya pun terus diawasi oleh intelijen pemerintah kolonial. S.K. Trimurti berulang kali harus masuk penjara karena tulisannya. Bahkan, sempat dalam kondisi sedang menyusui pun harus menjadi tahanan sehingga anaknya ikut dipenjara. Walaupun begitu, wartawati tangguh ini tetap konsisten dan teguh pada pendiriannya.

Perjuangan S.K.Trimurti untuk Indonesia merdeka ini mengilhami AJI (Aliansi Jurnalis Independen) mengabadikan nama S.K.Trimurti sebagai anugerah atau penghargaan dengan nama S.K. Trimurti Award.

Anugerah ini bertujuan untuk melestarikan semangat dan prinsip perjuangan penulis perempuan Indonesia mengenai kebebasan berekspresi dan memperjuangan hak kaum tertindas, utamanya perempuan.

Membaca kisah perjalanan hidup dan karya kepenulisan dua perempuan luar biasa di atas, membawa saya pada lamunan tentang bagaimana dua perempuan itu melampaui zamannya.

Masa sulit yang diakibatkan oleh penjajahan tak menghalangi mereka untuk menunjukkan keberanian keluar dari zona nyaman sebagai keluarga ningrat.

Melalui tulisan, dua perempuan beda generasi ini menyampaikan gagasan yang tajam, kritis dan mampu menginspirasi banyak orang. Meski begitu, ternyata ibu Trimurti sempat dihinggapi rasa takut dan tidak percaya diri saat menulis. Ia merasa tidak mampu dan tidak pantas untuk menulis di media seperti Fikiran Rakjat.

Bung Karno sebagai mentornya terus mendorong agar mampu melampaui rasa takutnya. Lalu muncullah tulisan-tulisannya yang bernas di banyak koran dan majalah waktu itu.

Kisah Kartini dan S.K. Trimurti ini sudah selayaknya menjadi cermin bagi para penulis perempuan masa sekarang. Melampaui ketakutan dan mau keluar dari zona nyaman untuk melakukan sesuatu yang, mungkin sekali, berdampak lebih luas melalui tulisan.

Jika sekarang masih nyaman dengan menulis di blog pribadi maupun status di media sosial, mungkin tiba saatnya menantang diri sendiri lebih berani untuk bisa menulis artikel di media massa atau mengikuti kegiatan menulis bersama seperti program yang diinisiasi IIDN dan Good News from Indonesia ini. Atau bisa juga menerbitkan buku tentang tema apapun yang dikuasai.

Sebuah ide yang ditulis, keluar, dan dibaca banyak orang tidak akan pernah diketahui memantul ke mana saja dan dampaknya seperti apa. Bisa jadi sebuah tulisan itu selesai hanya sebagai bacaan namun bisa pula menggerakan sesuatu yang lebih besar. Mari menulis bersama untuk Indonesia yang lebih baik.


Catatan kaki: Intisari | ekspresionline | wikipedia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

EW
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini