Sineas Indonesia Berkarya di International Student Short Film Festival 2019

Sineas Indonesia Berkarya di International Student Short Film Festival 2019

Para sineas dari berbagai negara yang berpartisipasi dalam International Student Short Film Festival 2019 © Irhamni Rofiun Mahmud

Mengonsep, mengomunikasikan, serta mengeksekusi sebuah ide kreatif adalah sebuah proses yang tak bisa dilepaskan begitu saja dari niat kuat, semangat, juga kerja sama yang solid antarelemennya.

Begitu pula di dalam sebuah pembuatan karya berupa gambar bergerak. Irhamni Rofiun Mahmud, mahasiswa S3 Jurusan Hukum Islam di Universitas Ezzitouna Tunisia, bersama timnya berhasil membuktikan kelihaian mereka dalam memanajemen setiap tantangan yang ada untuk setidaknnya berhasil menorehkan prestasi di kancah internasional.

The 3rb Festival International du Court-Metrage Estudiantin (FICME) tahun ini kembali digelar oleh Pusat Kebudayaan Nabeul dan Pusat Kegiatan Universitas, di bawah naungan Kantor Pekerjaan Akademik wilayah Utara dan Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah Tunisia.

Bekerja sama dengan organisasi publik dan swasta, panitia FICME berhasil menghadirkan tamu-tamu kehormatan, serta partisipan dari berbagai belahan dunia, di antaranya Uni Emirat Arab, Sudan, Maroko, Aljazair, Irak, Bahrain, Palestina, Yordania, Senegal, Lebanon, Iran, Mesir, Prancis, Austria, Kamerun, Indonesia, Kolombia, Jerman, Italia, Malta, Rumania, Rusia, Spanyol dan Tunisia.

Festival ini terbuka untuk semua genre yakni dokumenter, fiksi/dokum-fiksi, juga animasi. Dari keseluruhan 120 film yang masuk ke dalam tahap seleksi ketat, hanya ada 40 film yang terpilih.

Ada 28 sineas muda dari 24 negara yang berpartisipasi dalam agenda FICME 2019 kali ini, tak terkecuali perwakilan dari Indonesia.

"Dalam pembuatan film pendek yang berjudul The Diversity is Beautiful, saya bekerjasama dengan Fakh Islamic School di Bekasi. Film yang berhasil membawa saya mewakili Indonesia dalam FICME 2019 ini menceritakan tentang sebuah upaya untuk menghormati keberagaman dalam persatuan yang selayaknya dilakukan oleh seluruh manusia di muka bumi," terang pemuda yang akrab disapa Iam itu.

"Perlu diketahui, dalam kompetisi ini juri profesional yang dipilih oleh manajemen festival telah menetapkan kriteria yang diperlukan untuk memungkinkan film dapat ditampilkan dalam versi asli yang diberi teks terjemahan dalam bahasa Prancis, Inggris atau Arab untuk durasi maksimum 30 menit," imbuhnya.

Suasana presentasi kepada 3 dari 7 dewan hakim Festival Film Pendek Pelajar Internasional 2019
Suasana presentasi kepada 3 dari 7 dewan hakim Festival Film Pendek Pelajar Internasional 2019 © Irhamni Rofiun Mahmud

Menurut pemuda yang sebentar lagi akan resmi dikukuhkan sebagai Koordinator Kawasan Timur Tengah–Afrika (Timtengka) periode 2019/2020 di PPI Dunia ini, acara FICME 2019 diselengarakan selama empat hari, dimulai pada tanggal 23 hingga 26 Juni 2019.

Dalam agenda tersebut juga diadakan workshop perfilman dengan berbagai tema yang meliputi writing scripts, shooting and directing, serta editing and mixing.

Dalam workshop tersebut, para peserta yang hadir dimentori langsung oleh para seniman dan pakar dalam dunia sinematografi dan perfilman Tunisia, di antaranya ada Kammoun Ons, Sardi Naceur, Ismail Sami, Hajiri Mouna, dan Djellaili Hakima.

Selain workshop dan kegiatan serius lainnya, para peserta yang hadir dalam agenda ini juga diajak mengunjungi beberapa tempat wisata.

Tak lupa, pada acara ini Iam sebagai perwakilan dari Indonesia juga memiliki misi sampingan untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke para peserta dan juri.

Di beberapa kesempatan, Iam membagikan udeng khas daerah Jawa Barat. Tak lupa, ia juga menceritakan arti filosofis dari udeng yang ia bagikan. Menurutnya (usai berkonsultasi dengan Puspita Ayu Permatasari), Konsultan Heritage and Tourism di Kementerian Pariwisata RI), udeng bisa dimaknai tentang kehidupan yang harus selalu menjaga harmonisasi antara diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, juga Tuhan.

Oleh karena itu, berbagai suku memiliki desain udeng yang beda-beda di tiap daerah, meski tujuannya tetap untuk menjadi pemersatu.

Iam, saat diwawancara oleh salah satu media Tunisia
Iam saat diwawancara oleh salah satu media Tunisia © Irhamni Rofiun Mahmud

"Thank you for your participation as a delegation of Indonesia in this FICME 2019," ujar Hedi Snoussi, selaku Direktur/representatif dari manajemen FICME 2019, yang memang secara kebetulan Iam selalu hadir hampir di setiap gelaran FICME.

Bahkan, pada edisi pertama FICME di tahun 2017, delegasi Indonesia berhasil mendapatkan dua award sekaligus yaitu, Best Soundtrack dan Best Short Film Produced Among Festival.

Anak muda Indonesia telah membuktikan karya positif mereka di tanah rantau, jadi kapan kalian menyusul?

Pilih BanggaBangga17%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau17%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Inilah Hasil Pemanfaatan Sampah Plastik di Pekanbaru! Sebelummnya

Inilah Hasil Pemanfaatan Sampah Plastik di Pekanbaru!

Pelajaran Berharga Bangsa: Meninggalnya "Rudy" BJ Habibie Selanjutnya

Pelajaran Berharga Bangsa: Meninggalnya "Rudy" BJ Habibie

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.