Kuliner Khas Pekalongan yang Penuh Cerita

Kuliner Khas Pekalongan yang Penuh Cerita

Pemandangan Pekalongan © Budi Susanto/Tribbunews

Mengeksplor kuliner Indonesia memang tidak akan pernah habis. Kali ini mari mampir mengulas makanan khas Pekalongan. Pekalongan sendiri merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah.

Pekalongan juga dikenal dengan kerajinan batiknya hingga masuk dalam jaringan kota kreatif UNESCO, dan masuk dalam kategori crafts & folk art. Pembuatan batik Pekalongan dengan kain sutra, sunwash dan bahan katun.

Selain itu tentunya Pekalongan memiliki kuliner khas yang unik dan patut untuk dicoba, antara lain kluban bothok, pindang tetel, nasi megono, dan soto tauto.

Mari kita ulas satu-satu.

Kluban Bothok

Bisa disebut sebagai salad khas Pekalongan. Kluban merupakan urapan yang terdiri dari kacang panjang, toge, kol, bayam atau kangkung dengan bumbu yang terdiri dari cabe, terasi, dan garam atau biasa disebut dengan mboksiyah (Lombok, terasi, uyah dalam Bahasa Jawa).

Tambahan kencur dan berpadu dengan parutan kelapa, sedangkan bothok terdiri dari sayur lodeh yang berisi tahu dan bonkrek dengan tambahan santan encer. sebagai topping ditambahkan sambal gula jawa.

Kluban Bothok | Sumber: Thia Soediro

Kluban bothok biasanya disajikan dengan dipincuk menggunakan daun pisang atau di atas piring. Biasanya dijadikan bekal untuk para petani ketika bekerja di sawah. Masyarakat dan wisatawan pun menyukai sajian ini. Jangan lupa mampir untuk mencicipi kluban bothok.

Pindang Tetel

Memiliki warna yang serupa dengan rawon dan berasal dari desa Ambokembang, Kedungwuni, Pekalongan. Walaupun bernama pindang, bukan berarti terbuat dari ikan pindang yang biasa kita dengar.

Melainkan berasal dari tetelan daging iga sapi. Selain daging iga sapi juga bagian sandung lamur yakni bagian daging sapi yang berasal dari bagian dada bawah sekitar ketiak juga ada kikil sapi.

Ternyata pindang tetel merupakan akronim dari Paling Enak Daging Tetel. Biasanya disaikan dengan lontong dan nasi ataupun dicampur dengan kluban. Selain itu ditambah dengan kerupuk merah yang digoreng dengan pasir atau disebut dengan kerupuk usek.

Pindang Tetel | Sumber: Winny Kitchen/Cookpad

Krupuk tersebut kemudian diremas dan dimasukkan ke dalam mangkok. Remahan kerupu tersebut disiram dengan kuah dan ditambahkan sambal.

Kluwak menjadi bumbu yang tidak boleh ketinggalan, karena bumbu tersebut yang membuat warna pindang tetel menjadi hitam. Berawal dari masyarkat Ambokembang yang ingin memanfaatkan kluwek sebagai hasil bumi dari daerah mereka.

Setelah mencobanya dengan tempe dan tahu ternyata cita rasa nya tidak terlalu enak. Akhirnya dicoba dengan daging sapi yang dipotng kecil-kecil atau ditetel. Hingga kemudian dinamakan pindang tetel atau paling enak daging tetel.

Nasi megono atau sego megono

Identik dengan urapan nangka muda yang dicacah dan dimasak dengan parutan kelapa. Disajikan bersama mendoan atau tempe kemuil. Lauk seperti cumi, baceman, kikil dan iwak pe tau ikan pe menjadi lauk pendamping yang bisa dipilih.

Nasi megono | Sumber: Travelingyuk.com

Menjadi bagian dari budaya keraton Yogyakarta dan sebagai hidangan yang masuk pada ritual Upacara Bekakak yaitu pemberian sesaji yang dilakukan oleh wilayah lain, tapi masih dalam kekuasaan Mataram Kuno termasuk Pekalongan.

Dulu nasi megono dibentuk seperti nasi tumpeng, dengan pendamping gudangan, goria atau nangka muda dan urap nangka muda yang dicacah atau urapan cecek. Tidak lupa dibumbui dengan parutan kelapa beserta rempah. Bumbu spesial yang ada pada nasi megono adalah kecombrang.

Pada acara festival nasi megono juga selalu disajikan dengan berbentuk gunungan dan menjadi rebutan warga yang ingin menyantapnya.

Nasi megono | Sumber: Resepmedia.com

Soto tauto

Tidak terlalu berbeda dengan soto pada umumnya. Bedanya adalah dengan adanya tambahan tauco dalam bumbunya.

Tauco sendiri merupakan hasil fermentasi dari kedelai khas Tiongkok. Sebagai hasil dari perpaduan budaya Indonesia dan Cina. Proses pembuatan sendiri bisa menghabiskan waktu satu hari satu malam.

Soto Tauto | Sumber: Fabian Januarius Kuwado/Kompas.com

Terkadang tersedia tauto daging dan tauto ayam, disajikan bersama nasi putih dengan usus dan kulit ayam yang digoreng. Soto berisi bihun, toge, dan potongan kol yang dicampur dalam mangkok, ditambahkan jeroan sapi atau daging ayam, kerupuk kulit dan daun bawang agar lebih sedap.

Bagaimana? Penuh cerita dan patut untuk dicoba bukan? Jangan lupa untuk mencicipi makanan di atas jika berkunjung ke Pekalongan.

Catatan Kaki: travelingyuk.com | cintapekalongan.com | cintapekalongan.com | pekalongankab.go.id | pekalonganisme.com | detik.com | pegipegi.com | kompasiana.com

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli33%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Saat Laut dijaga dengan Muro, Ikan-Ikan pun Datang Kembali ke Lamatokan Sebelummnya

Saat Laut dijaga dengan Muro, Ikan-Ikan pun Datang Kembali ke Lamatokan

Sudah Pernahkah ke Pantai Nglambor? Selanjutnya

Sudah Pernahkah ke Pantai Nglambor?

Kendita Agustin M.A
@kenditaagustin

Kendita Agustin M.A

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.