Menyelisik Perkembangan Komunikasi di Indonesia

Menyelisik Perkembangan Komunikasi di Indonesia
info gambar utama

Komunikasi, secarah harfiah komunikasi adalah proses yang mana dilakukan seseorang atau beberapa orang yang terbentuk dalam kelompok, organisasi, dan masyarakat guna menciptakan dan mengolah informasi dengan tujuan dapat terhubung dengan lingkungan sekitar dan orang lain.

Komunikasi modern di Indonesia sudah berkembang sejak zaman Belanda. Sebut saja media cetak hingga komunikasi genggam yang mudah didapatkan saat ini.

Tentunya, komunikasi khususnya media tidak berjalan dengan mudah di Indonesia, karena keterbatasan biaya dan jangkauan wilayah yang begitu luas. Namun, bagaimana sejarah perkembangan komunikasi di Indonesia hingga sekarang? Yuk simak.

Koran lawas | Foto: Soekapoera
info gambar

Surat kabar

Salah satu media penyampai berita tertua di dunia ini sudah ada sejak 200 tahun lalu. Sejak berkembang pesat pada abad ke-17, popularitas surat kabar dibawa oleh masyarakat Eropa yang kala itu datang ke Indonesia.

Mesin pencetak surat kabar milik Johann Gutenberg yang dibawa oleh kaum Erpa nampaknya membawa banyak perubahan besar bagi komunikasi di Indonesia.

Pada tahun 1740-an, media cetak berbahasa Belanda mulai beredar di Indonesia dengan pembaca dari kalangan orang-orang Eropa. Saat itu, konten yang diterbitkan hanya kehidupan dan berita tentang orang-orang Eropa yang tinggal di Indonesia.

Memasuki tahun 1800-an, surat kabar dalam bahasa Belanda mulai diambil alih dan diterbitkan dalam bahasa melayu oleh Slompret Melajoe di Semarang kala itu.

Pada pertengahan abad 18, surat kabar mulai banyak diterbitkan dalam bahasa Melayu dan mendominasi pasar pers kala itu. Perkembangannya terlihat dari pekerja pers yang banyak dari kalangan Eropa mulai digantikan oleh pribumi dan beberapa peranakan Tionghoa.

Kantor-kantor penerbitan juga banyak bermunculan di kota-kota besar yang tersebar di Indonesia, seperti Surabaya (Soerabajasch Advertantiebland), Makasar (Celebes Courant dan Makassarsch Handelsbland), Semarang (Semarangsche Advertetiebland dan De Semarangsche Courant), dan Padang (Soematra Courant, Padang Handeslsbland, serta Bentara Melajoe).

Dari zaman penjajahan Jepang hingga kemerdekaan, surat kabar mulai beralih dalam penulisan bahasa Jepang, namun hal itu tidak berlangsung lama sejak kemerdekaan Indonesia dideklarasikan. Surat kabar Indonesia berlangsung dari orde lama hingga zaman reformasi.

Telegraf | Foto: litteraturfestival.no
info gambar

Telegraf

Media komunikasi telegraf atau telegram ini muncul di Indonesia pada Oktober 1856 yang kala itu mengirimkan pesan ke Buitenzorg (Bogor) dari Batavia (Jakarta).

Sejatinya, alat ini digunakan untuk mengirimkan dan penerim pesan dengan jarak yang jauh. Pesan ini hanya berisi singkat melalui mesih telegraf, atau saaat ini kita mengenal dengan SMS. Telegram kini sudah resmi ditutup oleh pihak Telkom Indonesia sejak 2009 lalu.

Telepon zaman dulu | Foto: TurboSquid
info gambar

Telepon

Perkembangan telepon di Indonesia dimulai saat akhir 1800-an, oleh perusahaan swasta yang membentang dari Gambir hingga Tanjung Priok di Jakarta, dan kemudian mulai didirikan cabang di kota lain seperti Surabaya dan Semarang.

Untuk kepentingan pemerataan, dibuatlah post telepon pertama yang bernama Telegraaf en Telefoon Dienst pada awal 1900-an. Jaringan telepon tu menggunakan baterai dan kawat lokal yang terpasang di atas permukaan tanah, yang mengakibatkan gangguan pada alat telepon ini.

Telkom yang saat itu berinsiatif menciptakan telepon umum yang diisi dengan koin, penggunaan telepon koin ini disusul dengan telepon kartu. Hingga awal 1990-an, penggunaan telepon koin dan kartu ini sangat populer dan merambah ke mana-mana.

Telepon umum
info gambar

Namun, seiring bergantinya zaman, telepon umum mulai tersingkirkan oleh penggunaan telepon genggam atau ponsel modern. Hal ini membuat perusahaan Telkom kembali menarik penggunaan telepon umum sebagai komunikasi media komunikasi.

Sumber: liputan6.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KN
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini