Tangan Kiri Bersalaman di Batas Cadas Pangeran

Tangan Kiri Bersalaman di Batas Cadas Pangeran

Patung Pangeran Kornel © Page FB Sumedang Lembur Urang

Jika kita menuju ke Bandung dari Sumedang, kita akan melewati sebuah kawasan berliku yang bernama Cadas Pangeran, sebuah kawasan jalan yang di salah satu sisinya berupa jurang yang di bawahnya terdapat hutan yang cukup lebat, dan di sisi lainnya tebing juga dengan hutan yang lebat. Jalanan itu memiliki tikungan-tikungan tajam dan beberapa tanjakan serta turunan. Jalan Cadas Pangeran yang berada di Kabupaten Sumedang memang tersohor sebagai salah satu jalan yang indah namun juga berbahaya dan memiliki kisah-kisah bernafaskan sejarah masa lalu.

s
Cadas Pangeran dari atas | FB Dony Ahmad Munir

Salah satunya adalah sebuah patung dua sosok lelaki berdiri di Jalan Raya Ciherang, di batas Cadas Pangeran Atas dan Bawah, Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Patung ini istimewa, karena menyimpan cerita heroik keberanian seorang bupati menentang kebijakan Gubernur Jendral kolonial Belanda di awal-awal abad 19. Yang unik, patung tersebut menapilkan sosok lelaki mengenakan topi tricorn berbusana militer lengkap dengan jubah dan pedang, mirip dengan sosok perwira militer Prancis era Napoleon (kalau itu, Belanda dikuasai pasukan Napoleon), nampak menyodorkan tangan kanan, dan disambut jabatan tangan kiri lelaki lainnya berbusana khas Sunda, sementara tangan kanannya memegang gagang keris.

Patung Pangeran Kornel, begitulah masyarakat sekitar menamakannya. Patung tersebut didirikan pada tahun 80-an untuk mengenang keberanian Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX atau dikenal Pangeran Kornel menentang perbudakan HW Daendels, Gubernur Jendral Hindia Belanda (1808-1811), saat pembangunan Jalan Raya Pos, terutama di daerah Cadas Pangeran.

Pangeran Kusumadinata IX dikisahkan tidak tega melihat penderitaan rakyatnya saat pembangunan jalan raya penghubung antara Parakamuncang dan Sumedang. Pengerjaannya sangat sulit karena kondisi medan terjal ditambah kontur tanah sangat keras. Apalagi, Belanda dikenal

brutal memperlakukan para pekerja jalan tersebut. Banyak pekerja tewas kala bekerja membelah jalan.

Saat Gubernur Jendral HW Daendels tersebut datang melakukan inspeksi di Ciherang. Bupati Kusumadinata menyambut. Daendels mengulurkan tangan hendak berjabat salam, dan Pangeran Kornel menyambut dengan tangan kiri. Tangan kanan memegang hulu keris yang telah diputar di pinggang dari belakang ke depan.

s
Gambaran salaman tersebut dalam gambar | IG @mysumedang

Daendels kemudian bertanya mengapa jabat tangannya disambut tangan kiri. Kusumudanita IX kemudian menceritakan kesengsaraan rakyatnya membangun jalan di Cadas Pangeran. Daendeles kemudian menghentikan penggunaan pekerja lokal, dan menggunakan pasukan zeni Belanda sebagai gantinya.

Namun, Daendels rupanya sedang bermuslihat. Beberapa hari kemudian, Gubernur yang sangat kejam dan oleh rakyat jawa dijuluki dengan ‘Mas Galak’ tersebut membawa ribuan pasukan Belanda dengan tujuan untuk menumpas pembangkangan dari Pangeran Kornel dan rakyat Sumedang. Rakyat Sumedang dibawah pimpinan Pangeran Kornel beserta segenap pembesar Sumedang lainnya melawan dengan gigih dan semangat juang yang tinggi tentang penindasan Belanda tersebut. Karena kekuatan Belanda yang tangguh dan kurangnya persenjataan dari rakyat sumedang itu sendiri, akhirnya pemberontakan Pangeran Kornel berhasil dikalahkan. Pangeran Kornel dan ratusan rakyat Sumedang gugur dibantai oleh pasukan Belanda.

Meski cerita ini sudah begitu mengakar di kalangan masyarakat, kisah ini tidak tercatat dalam arsip kolonial Belanda. Menurut sejarawan UI yaitu Djoko Marihandono, dengan melihat prasasti yang menyebut bahwa Cadas pangeran dibuat pada 26 November 1812, dengan adanya itu diduga bahwa yang datang serta mengawasi pembangunan jalan dan bersalaman dengan Pangeran Kornel bukanlah Herman Daendels, karena Daendels sudah meninggalkan Indonesia pada 29 Juli 1811.

Daendels, menurut keputusan Kaisar Napoleon Bonaparte, mengakhiri masa jabatan pada 16 Mei 1811. Dia berlayar dari pelabuhan Surabaya menggunakan kapal menuju Eropa pada 29 Juni 1811. Pada bulan September 1811, Sang Mareskalek diterima Napoleon di Paris.

Pilih BanggaBangga54%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi46%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Resmi! Bank Indonesia Luncurkan QRIS pada HUT RI ke-74 Sebelummnya

Resmi! Bank Indonesia Luncurkan QRIS pada HUT RI ke-74

Ternyata Obat Virus Corona Terinspirasi dari Indonesia Selanjutnya

Ternyata Obat Virus Corona Terinspirasi dari Indonesia

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.