Payakumbuh, Kampung dengan Puluhan Jenis Rendang

Payakumbuh, Kampung dengan Puluhan Jenis Rendang

Kampung Rendang Payakumbuh © Suara.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Siapa yang tidak tahu rendang, kuliner Indonesia khas dari Minangkabau yang mendunia ini. Meskipun kuliner ini sangat populer sebagai makanan khas Nusantara, tetapi banyak pula yang menganggap daging sapi merupakan bahan utama satu-satunya dalam pembuatan rendang.

Ternyata jika Kawan GNFI berkunjung ke Kampung Rendang yang berlokasi di kota Payakumbuh, anggapan tersebut akan segera terpatahkan. Kenapa? Yuk kita simak ulasannya.

Kampung Rendang di kota Payakumbuh, Sumatera Barat, memiliki puluhan varian rendang yang menarik, sehingga dapat dikembangkan menjadi kekayaan kuliner daerah. Sampai saat ini terdapat 30 varian rendang dengan berbagai macam bahan. Bahkan terdapat beberapa bahan yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita, bahwa bahan tersebut dapat diolah menjadi bahan baku rendang.

proses pembuatan rendang menggunakan alat tradisional | foto : pesonaindonesia

Berbagai rendang yang siap untuk disajikan antara lain, rendang telur, daging sapi, daging, suir, paru, ayam, suir ayam, ubi, suir itik, jamur basah, jamur kering, jamur kriuk, jengkol, jantung pisang, dan daun singkong.

Varian lainnya yaitu rendang belut, ikan tuna, pakis, pare, cubadak, daging, tumbuk, paru basah, jagung, ikan lele, ikan nila, ikan gabus, dan udang.

Berbagai varian rendang tersebut dapat dijumpai di Industri kecil menengah yang terdapat di Kampung Rendang. Di Kampung ini sekiranya terdapat 12 pengusaha rendang rumahan dengan berbagai produk, di antaranya yaitu Rendang Riri, Rendang Erik, Rendang Indah, Rendang Nan Keke, Rendang Yen, dan Rendang Yolanda.

Kampung Rendang ini berlokasi di Jalan Tan Malaka Lampasi, pinggir kota Payakumbuh, semakin menguatkan kota tersebut sebagai sentra produk rendang. Selama ini kota Payakumbuh memang terkenal sebagai pusat wisata kuliner di Sumatera Barat. Umumnya, wistawan lokal terbanyak berasal dari Padang panjang dan Bukit tinggi, karena lokasinya berdekatan.

Selain untuk membeli oleh-oleh, keberadaan Kampung Rendang ini diharapkan menjadi daya tarik tersendiri dalam hal wisata kuliner. Maka dari itu, di Kampung tersebut banyak gerai yang menjual produk rendang dengan memasak langsung di tempat penjual, sehingga wisatawan bisa menyaksikan secara langsung proses pembuatan makanan khas Sumatera Barat tersebut.

salah satu produk hasil olahan rendang di Kampung Rendang | Foto : Pesonaindonesia

Di Kampung Rendang ini, berbagai jenis rendang dimasak dengan cara tradisional yaitu merka lebih memilih menggunakan tungku serta kayu bakar, dibandingkan menggunakan kompor gas modern.

Selain dipercaya menyumbang rasa yang lebih nikmat dan khas dibandingkan menggunakan alat masak yang modern, hal tersebut juga dapat memberikan pengalaman tersendiri bagi para wisatawan yang datang berkunjung ke kota Payakumbuh.

Dilansir dari Tempo.co Pakar kuliner Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito, pernah mengungkapkan masakan rendang terbagi atas belasan jenis.

“Dari bahannya saja, rendang terbagi atas 19 macam”, ujar Murdijati.

Beberapa diantaranya adalah rendang sapi, rendang ayam, rendang ikan, rendang telur, rendang udang, rendang cumi-cumi. Adapun rendang sapi dapat dikelompokkan lagi dalam rendang paru, limpa, dan babat.

Wow, banyak sekali yah jenis rendangnya. Kawan GNFI tertarik dengan rendang yang mana?


Catatan kaki: PesonaIndonesia | Tempo.co

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna Sebelummnya

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna

Hampir 1,5 Abad Menghilang, Kadal Aneh ini Muncul Lagi di Danau Toba Selanjutnya

Hampir 1,5 Abad Menghilang, Kadal Aneh ini Muncul Lagi di Danau Toba

Asriyati .
@asriyati

Asriyati .

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.