Ibadah Didalam Kapal, Kenapa Tidak?

Ibadah Didalam Kapal, Kenapa Tidak?

Masjid H. Soenarto, tempat ibadah menyerupai kapal asal Semarang | foto: kampusnesia.com

Masjid H. Soenarto adalah tempat ibadah dengan arsitektur yang menyerupai kapal pesiar. Bangunan tersebut kini berdiri di Jalan Pawiyatan Luhur, Bendan Dhuwur, Semarang. Tak hanya unik keberadaannya juga menawarkan lanskap pemandangan indah kota Semarang.

Kampus Politeknik Bumi Akademi Pelayaran Niata Indonesia (Akpelni) | foto: potlekpelni.ac.id

Masjid unik H. Soemarto dibangun pada lingkungan kampus Politeknik Bumi Akademi Pelayaran Niata Indonesia (Akpelni) di Semarang. Dilansir dari rri.co.id, Wakil Direktur III bidang ketarunaan dari Akpelni, Fakhrurrozi menjelaskan, dibangunnya masjid tersebut didorong oleh keprihatinan jajaran pegurus institusinya terkait belum adanya tempat ibadah yang memadai bagi para taruna.

Para taruna dari Akpelni | foto: kampusnesia.com

Taruna Akpelni sendiri berjumlah lebih dari seribu orang dengan mayoritas pemeluk agama islam. Sebelum adanya masjid tersebut umumnya mereka melakukan ibadah secara bergantian pada mushola yang terbilang kecil.

Mengenal bangunan Masjid H. Soenarto

Kapal putih yang berada di masjid tersebut memiliki ukuran 59 x 10 meter dengan tinggi sekitar 20 meter. Bangunan tersebut terdiri dari empat lantai yang dapat menampung lebih dari seribu orang.

Ada perbedaan fungsi pada bagian dalam masjid kapal tersebut. Lantai satu hingga tiga diperuntukkan bagi mereka yang ingin beribadah, sehingga pada ruangannya disediakan beberapa kran untuk wudhu.

Sedangkan untuk lantai empat digunakan sebagai ruang navigasi yang serupa dengan kapal asli. Beberapa detail peralatan pun dapat ditemukan pada lantai tersebut, seperti kemudi kapal, penunjuk arah, sekoci, tabung hingga pelampung. Kelengkapan tersebut bertujuan agar para taruna dapat memanfaatkannya untuk belajar.

Selain sebagai tempat ibadah dan belajar para taruna, sebenarnya tempat ini juga memungkinkan orang yang berkunjung untuk menikmati pemandangan bagian bawah dan atas kota Semarang. Pada petang hari, masjid kapal yang dibangun di bukit lingkungan Akpelni tersebut juga memanjakan mata lewat padatnya pemukiman dan uniknya tol Krapayak-Jatingelah yang disandingkan dengan gemerlap lampu kota yang beraneka warna.

Sebagai tempat ibadah tentu Masjid H. Soenarto terbuka bagi siapa saja yang ingin melakukan kewajibannya, namun keluar masuknya orang pada lingkungan tersebut tidak bisa sembarangan. Hal tersebut dilakukan agar keadaannya tetap kondusif bagi para taruna. Kedatangan rombongan pun hanya dilayani hanya pada akhir pekan.

Pembangunan Masjid

Bangunan yang menghabiskan waktu pembangunan selama 13 bulan tersebut menghabiskan biaya yang cukup besar dengan total biaya RP 10,9 Milyar. Biaya tersebut didapatkan dari dana alumni Akpelni yang dihimpun oleh Yayasan Wiyata Dharma dan kantong pribadi H. Soenarto.

Pada juli 2018 sempat dilakukan rapat pembangunan masjid didalam kampus. Awalnya tidak ada rencana untuk membangun masjid berbentuk kapal, hanya ada kesepakatan membangun masjid berkubah seperti pada umumnya. Namun hal tersebut akhirnya berubah untuk memberikan ciri khas Akpelni sebagai institusi pendidikan pelayaran, serta agar dapat menjadi wadah belajar pada taruna.

Ide membuat masjid kapal sendiri diakui datang dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Wiyata Dharma, Soenarto. Tak hanya menjadi penyumbang terbesar pembangunan masjid, ia pun merupakan alumni Akpelni Semarang angkatan V tahun 1969.

Sebagai apresiasi atas kontribusinya dalam pembangunan masjid kapal tersebut, nama pengusaha pelayaran asal Mantingan, Jepara itu akhirnya diabadikan sebagai nama tempat ibadah tersebut. Bangunan tersebut pun telah diresmikan sejak (12/9/19).

Pada Tribunnews.com Soenarto juga menerangkan bahwa keberadaan masjid kapal tersebut menjadi pengingat bahwa Semarang merupakan salah satu pusat maritim Indoensia. Ia lebih lanjut menjelaskan hal tersebut terlihat dengan awal pembangunan pendidikan pelayaran di Indonesia pada masa Belanda yang dilakukan di Makasar dan Semarang.

Sumber : gatra.com | tribunnews.com | rri.co.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pujan Kesanga Sebagai Perlindungan Diri Kepada Sang Hyang Widhi Sebelummnya

Pujan Kesanga Sebagai Perlindungan Diri Kepada Sang Hyang Widhi

7 Gunung yang Menjadi Bagian dari 7 Keunikkan Kota Tomohon Selanjutnya

7 Gunung yang Menjadi Bagian dari 7 Keunikkan Kota Tomohon

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.