Ragam Makanan Tradisional dari Rumput Laut

Ragam Makanan Tradisional dari Rumput Laut

Ilustrasi hasil rumput laut yang dimiliki Indonesia | foto: kkp.go.id

Indonesia merupakan negara yang luas perairannya cukup besar. Rumput laut sebagai salah satu bagian dari ekosistem laut pun menjadi salah satu komoditas besar yang ada di negara ini. Berbagai olahan makanan pun dihasilkan termasuk kuliner tradisional.

Makanan tradisional yang berasal dari rumput laut sendiri berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Urap Latoh

Urap Latoh yang biasa dimakan dengan nasi | foto: detik.com

Maknan ini adalah olahan rumput laut asal Rembang, Jawa Tengah. Latoh sendiri merupakan sebutan untuk rumput laut di kawasan tersebut. Bentuknya yang bulat-bulat kecil berkantong air menyebabkannya sering disebut sebagai anggur laut. Sebelum dicampurkan degan bumbu urap, latoh cukup dicuci terlebih dahulu.

Lat

Lat yang umumnya dijual denngan harga lima belas ribu per-piring | foto: tempo.co

Makanan ini adalah kuliner tradisional yang biasa dikonsumsi penduduk asli Maluku tenggara, terutama oleh warga Kepulauan Kei. Serupa dengan urap latoh, jenis rumput laut yang dipakai pada maknan ini pun sama. Cara memasaknya pun hanya dengan dicuci dan dicampur dengan kelapa parut, jeruk, bawang merah dan cabai merah.

Bulung

Bulung khas Bali | foto : kintamani.id

Bulung adalah makanan tradisionaal asal Bali yang berasal dari rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii. Rumput laut yang dalam keadaan segar berwarna hjau gelap kemerahan tersebut memiliki bentuk memanjang degan diameter sekitar 1 hingga 5 milimeter.

Ada dua jenis bulung yang bisa ditemui di Bali, yang pertama adalah bulung buni. Untuk membuat makanan yang banyak ditemui di daerah Pantai Serangan ini kita hanya cukup menyiramnya dengan air panas lalu mencampurnya dengan parutan kelapa, lengkuas, jahe, serai, air jeruk limau dan ditambahkan taburan kacang tanah goreng atau kedelai goreng.

Yang kedua adalah bulung rambut kuah pindang. Untuk membuatnya rumput laut diolah menjadi dua warna yaitu hijau yang diperoleh dari hasil rendaman kapur sirih selama setengah jam dan putih yang diperoleh dari penjemuran berulang selama beberapa hari.

Kedua jenis rumput laut tersebut direbus dalam air selama sepuluh menit lalu ditiriskan. Saat disajikan rumput laut diberi garam, kelapa parut dan perasan jeruk limau. Tak lupa rumput laut disiram dengan kuah pindang yang dihasilkan dari air rebusan ikan yang dicampur dengan daun salam dan dicampur pula dengan olahan bumbu dari garam, jahe dan cabai rawit besar yang diulek kasar.

Karangan

Karangan yang cocok dijadikan cemilan | foto: tuguwisata.com

Karangan adalah makanan olahan rumput laut yang berasal dari Bantul, Yogyakarta. Walaupun keberadaannya sudah mulai langka karena sulitnya mendapatkan bahan dasar dan lamanya proses pembuatan, santapan ini masih bisa ditemukan di beberapa pasar tradisional seperti Pasar Turi, Pasar Celep dan Pasar Ngangkruksari.

Rumput laut yang dipakai sebelumnya dijemur dibawah matahari, hasilnya pun bisa bertahan hingga tiga tahun. Selanjutnya rumput laut tersebut dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel kemudian direbus di dalam air asam selama kurang lebih tiga jam. Selama itu pula rebusan terus diaduk dan diberi pewarna agar menarik. Karangan yang sudah siap biasanya dimakan dengan botok yang terbuat dari kelapa parut dan biji mlanding atau petai Cina.

Lawar Rumput Laut

Ayam lawar yang memiliki bumbu serupa dengan lawar rumput laut|foto: masakandapurku.com

Jenis makanan ini berasal dari Flores Timur. Proses pembuatannya diawali dengan pembersihan yang kemudian direbus dalam air panas dan diiris kecil-kecil. Selanjutnya hasil irisan tersebut dimasukan dalam wadah plastik dan dicampur dengan cuka atau jeruk nipis.

Rumput laut yang sudah tercampur kemudian diberikan irisan tomat dan kemangi. Ada juga yang dicampur dengan kelapa parut namun biasanya tidak dicampur dengan cuka atau jeruk nipis. Setelah satu jam didiamkan, lawar rumput laut pun siap untuk dihidangkan. Umumnya mkanan tersebut disantap dengan jagung titi atau nasi.

sumber : tempo.co | yogyes.com | travellingyuk.com | cendananews.com | indonesiakaya.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

5 Tempat Hangout di Bandung yang Wajib Kamu Datangi Sebelummnya

5 Tempat Hangout di Bandung yang Wajib Kamu Datangi

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu Selanjutnya

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.