Mamapas Lewu, Tahun Baruan Ala Palangka Raya

Mamapas Lewu, Tahun Baruan Ala Palangka Raya

Tradisi Mamapas Lewu © Pariwisata Kotim/Youtube.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Biasanya, kalau tahun baru itu identik dengan perayaan, keramaian, petasan dan semarak kembang api, ternyata ada perayaan lain yang jauh lebih khidmat nih. Perayaan menyambut pergantian tahun ini dikemas secara tradisional dan berbudaya.

Palangka Raya, sebuah kota yang terletak di provinsi Kalimantan Tengah. Selain menjadi ibu kota di provinsi tersebut, Palangka Raya juga dikenal sebagai daerah yang sangat menghargai keberagaman.

Kota yang memiliki luas wilayah sekitar 4 kali lebih besar dari Jakarta ini, acap kali disebut sebagai salah satu kota terluas di Indonesia.

Tak hanya itu, warga Palangka Raya juga memiliki banyak adat istiadat yang menarik untuk digali. Contohnya tradisi mamapas lewu dan mampakanan sahur. Tradisi itu biasanya dilaksankan ketika akhir tahun datang, dan menyambut pergantian tahun baru.

Mamapas lewu merupakan sebuah manifestasi kehidupan orang Dayak, dalam melaksanakan tatanan kehidupan. Seperti satu kesatuan, dan kebersamaan interaksi sosial.

Tujuan pelaksanan tradisi mamapas lewu dipercaya untuk membersihkan kota Palangka Raya dari gangguan musibah, baik yang berasal dari manusia ataupun roh jahat.

Tradisi Mamapas Lewu | Foto: Borneonews.co.id

Mamapas lewu juga dilambangkan sebagai perayaan silahturahmi antarumat beragama dan perwujudan kerukunan masyarakat yang ada di Palangka Raya.

Nah, kalalu mampakanan sahur dianggap sebagai kekuatan yang ada di langit, yaitu Ranying Hattala Langit (Tuhan yang Maha Esa). Kekuatan dan kemampuan supranatural ini dianggap ada di bumi, di langit, di bawah bumi dan di air (Tumbang Sahur Bagarantung Langit Tundung Parapah Baratupang Hawun)

Kedua tradisi di atas, disinambungkan sebagai koneksi antara makhluk hidup terhadap Tuhan. Rasa syukur dan perlindungan dituang dalam tujuan pelaksanaan acara tersebut.

Kegiatan ini pun sudah mulai dilirik oleh para pelancong dalam negeri ataupun mancanegara, karena unik dan istimewa.

Harap dan salam untuk Tanah Air hanyalah tetap lestari budayanya dan semakin bangga masyarakatnya dalam memillikinya. Setuju, Kawan GNFI?

Referensi: Tagar.id | borneonews.co.id | id.wikipedia.org

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Perkenalkan. Ini "Dadali", Drone Pengangkut Manusia Karya Anak Bangsa Sebelummnya

Perkenalkan. Ini "Dadali", Drone Pengangkut Manusia Karya Anak Bangsa

Pawai Hadrat di Kaimana, Tradisi Rayakan Idulfitri Tanpa Sekat Selanjutnya

Pawai Hadrat di Kaimana, Tradisi Rayakan Idulfitri Tanpa Sekat

Raka Nugraha
@rakanugraha

Raka Nugraha

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.