Mamapas Lewu, Tahun Baruan Ala Palangka Raya

Mamapas Lewu, Tahun Baruan Ala Palangka Raya
info gambar utama

Biasanya, kalau tahun baru itu identik dengan perayaan, keramaian, petasan dan semarak kembang api, ternyata ada perayaan lain yang jauh lebih khidmat nih. Perayaan menyambut pergantian tahun ini dikemas secara tradisional dan berbudaya.

Palangka Raya, sebuah kota yang terletak di provinsi Kalimantan Tengah. Selain menjadi ibu kota di provinsi tersebut, Palangka Raya juga dikenal sebagai daerah yang sangat menghargai keberagaman.

Kota yang memiliki luas wilayah sekitar 4 kali lebih besar dari Jakarta ini, acap kali disebut sebagai salah satu kota terluas di Indonesia.

Tak hanya itu, warga Palangka Raya juga memiliki banyak adat istiadat yang menarik untuk digali. Contohnya tradisi mamapas lewu dan mampakanan sahur. Tradisi itu biasanya dilaksankan ketika akhir tahun datang, dan menyambut pergantian tahun baru.

Mamapas lewu merupakan sebuah manifestasi kehidupan orang Dayak, dalam melaksanakan tatanan kehidupan. Seperti satu kesatuan, dan kebersamaan interaksi sosial.

Tujuan pelaksanan tradisi mamapas lewu dipercaya untuk membersihkan kota Palangka Raya dari gangguan musibah, baik yang berasal dari manusia ataupun roh jahat.

Tradisi Mamapas Lewu | Foto: Borneonews.co.id
info gambar

Mamapas lewu juga dilambangkan sebagai perayaan silahturahmi antarumat beragama dan perwujudan kerukunan masyarakat yang ada di Palangka Raya.

Nah, kalalu mampakanansahur dianggap sebagai kekuatan yang ada di langit, yaitu Ranying Hattala Langit (Tuhan yang Maha Esa). Kekuatan dan kemampuan supranatural ini dianggap ada di bumi, di langit, di bawah bumi dan di air (Tumbang Sahur Bagarantung Langit Tundung Parapah Baratupang Hawun)

Kedua tradisi di atas, disinambungkan sebagai koneksi antara makhluk hidup terhadap Tuhan. Rasa syukur dan perlindungan dituang dalam tujuan pelaksanaan acara tersebut.

Kegiatan ini pun sudah mulai dilirik oleh para pelancong dalam negeri ataupun mancanegara, karena unik dan istimewa.

Harap dan salam untuk Tanah Air hanyalah tetap lestari budayanya dan semakin bangga masyarakatnya dalam memillikinya. Setuju, Kawan GNFI?

Referensi: Tagar.id | borneonews.co.id | id.wikipedia.org

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini