Dua Tahun Lagi, Bali akan Punya LRT

Dua Tahun Lagi, Bali akan Punya LRT
info gambar utama

Indonesia memastikan Bali akan memiliki moda transportasi kereta cepat ringan (Light Rapid Transit/LRT) dalam 1,5 hingga 2 tahun ke depan. Pembangunan proyek akan melibatkan investor asal Korea Selatan Korea Rail Network Authority (KRNA) dan organisasi Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND). MOU sudah ditandatangani keduanya dengan PT Nindya Karya (Persero), perusahaan BUMN konstruksi yang menjalankan usaha dibidang Jasa Konstruksi, Engineering Procurement Construction (EPC) dan Investasi.

Proyek yang menelan US$400 juta atau hampir Rp5 triliun tersebut akan dikerjakan seruas dengan jalan dari Kuta menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai sepanjang 4,75 kilometer (Km). Selain ketiga instansi, proyek ini juga merupakan hasil kerja sama dengan PT Angkasa Pura I (AP I).

Kepala Dinas Perhubungan Bali IGW Samsi Gunarta mengatakan, rencana tersebut kini sudah dalam tahap studi kelayakan. Rencananya, proyek ini akan groundbreaking atau peletakan batu pertama pada pertengahan tahun 2020. Untuk tahap pertama yang akan dikerjakan adalah rute Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga ke Jineng, Badung. Total panjangnya yakni sekitar 5 kilometer.

Samsi menambahkan, ada dua alternatif jalur dalam proyek ini, yakni di bawah tanah dan di atas. Untuk daerah-daerah yang pembebasan lahannya sulit kemungkinan akan dibangun di bawah tanah.

Dalam jangka panjang, proyek LRT ini rencananya akan menyambung hingga Singapadu dan Ubud, Gianyar atau sejauh 30 kilometer. Rencana dibanguannya LRT ini adalah untuk mengurai kemacetan di sekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai. Selain untuk mengakomodir pergerakan penumpang, LRT dibangun agar Bali memiliki moda transportasi yang handal dan tingkat kemanan yang baik.

Korea Selatan tak hanya hadir sebagai investor dalam pembangunan proyek tersebut melainkan ikut serta sebagai kontraktor proyek tersebut. Teknologi moda transportasi ini pun rencananya bakal didatangkan langsung dari Negeri Gingseng tersebut.

Sumber : CNN INdonesia | Kompas | Detik Finance

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini