Menengok Kampung “Orang Laut” di Wakatobi

Menengok Kampung “Orang Laut” di Wakatobi

Kampung Bajo Mola disebut kampung terapung karena dibangun di atas laut © Larakuti

Topografi Wakatobi banyak menyajikan keindahan alam yang menakjubkan, tak terkecuali dunia air yang dimilkinya. Salah satu potret keindahan yang ada di laut Wakatobi adalah kampung terapung yang berisikan suku Bajo di mana rumah-rumah penduduk suku Bajo dibangun di atas air dengan dasar bebatuan karang. Suku Bajo disebut sebagai “Orang Laut” atau lebih sering dikenal dengan manusia “Gipsy Sea” karena mereka lahir, besar dan hidup di laut serta suku Bajo memiliki ilmu dan pengetahuan navigasi laut yang sangat maju yangbermodalkan bintang.

Suku Bajo tidak hanya berada di Wakatobi, namun tersebar di berbagai titik di Indonesia dari Sulawesi, Papua hingga Nusa Tenggara Timur serta sebagian kecil ada yang berada di Filipina dan Malaysia. Tersebarnya suku Bajo di berbagai daerah disebabkan karena cara hidup suku Bajo di masa lalu yang sering berpindah-pindah atau nomaden menggunakan perahu atau sampan. Kini, suku Bajo hidup menetap dengan membangun rumah di atas laut yang dangkal. Suku Bajo merupakan suku laut, yang mana menggantungkan hidupnya dari laut dan memiliki kehidupan yang tak pernah jauh dari laut oleh sebab itu istilah “Orang Laut” tepat disematkan kepada suku Bajo.

Kampung Bajo Mola Wakatobi | Foto : Twitter

Kampung Bajo atau yang biasa disebut Kampung Terapung merupakan salah satu pilihan yang disediakan di Wakatobi. Pemerintah setempat menjadikan Kampung Bajo sebagai Wisata Kampung Bajo atau Kampung Bajo Mola untuk menambah destinasi wisatawan yang berkunjung ke Wakatobi. Meskipun berada di atas laut, posisi Kampung Bajo tidak berada jauh dari daratan. Rumah-rumah di Kampung Bajo dulunya dibangun dengan desain rumah panggung yang menggunakan kayu sebagai penyangga antara bangunan ke dasar laut. Namun, kini rumah-rumah tersebut dibangun di atas timbunan karang dan terhubung dengan jembatan yang terbuat dari kayu. Jembatan kayu tersebut yang menghubungkan Kampung Bajo ke daratan.

Tak hanya menyajikan pemandangan laut yang menentramkan hati, namun wisata Kampung Bajo juga memberikan nuansa kearifan lokal yang diberikan oleh penduduk setempat. Anak-anak kampung Bajo tidak segan mengajak wisatawan yang berkunjung untuk bermain bersama dan tentunya mengabadikan momen dengan berfoto, ibu-ibu setempat mengajak para wisatawan untuk memakai ramuan yang terbuat dari beras, kunyit dan rempah-rempah lainnya di wajah mereka sebagai masker wajah. Ramuan atau bedak beras tersebut biasa digunakan oleh penduduk setempat ketika beraktifitas di laut, terutama bagi mereka yang hendak mencari ikan di siang hari. Bedak beras tersebut merupakan ramuan yang digunakan untuk mengurangi dampak sengatan cahaya matahari yang mengenai wajah agar tidak terasa panas. Dengan menggunakan bedak beras tersebut, wajah dapat terasa lebih sejuk.

Bedak Dingin merupakan salah satu ramuan kecantikan perempuan Bajo | Foto : Pesona Travel

Tidak berhenti dengan memakaikan masker alami khas Kampung Bajo, ibu-ibu penduduk Kampung Bajo pun mengajak wisatawan untuk masak bersama warga Kampung Bajo dengan cara tradisional. Kawan GNFI yang berkunjung ke Kampung Bajo dapat menutup perjalanan di sore hari dengan golden sunset, karena Kampung Bajo merupakan salah satu tempat terbaik untuk menikmati sunset di Wakatobi.

Bagi Kawan GNFI yang ingin mengunjungi Kampung Bajo, Kawan GNFI dapat melakukan perjalanan laut selama 1,5 jam dengan menggunakan speedboat dari Wanci. Sesampainya di sana, Kawan GNFI dapat mencicipi beragam khas hidangan laut yang tentunya akan selalu membuat ketagihan.


Catatan kaki: iNews | pesona.travel

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Masyarakat Samin dan Saminisme Sebelummnya

Masyarakat Samin dan Saminisme

3 Tips Public Speaking Agar Anak Anda Makin Percaya Diri Selanjutnya

3 Tips Public Speaking Agar Anak Anda Makin Percaya Diri

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

Salam. Panggil saja Widi.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.