Seblak, Si Pedas Pemikat Lidah

Seblak, Si Pedas Pemikat Lidah
info gambar utama

Teksturnya yang kenyal dan rasanya ynag unik membuat kuliner yang satu ini memiliki banyak penggemar. Dengan teksturnya yang kenyal ini seblak sangat nikmat ketika disantap ketika dalam kondisi yang masih hangat atau panas. seiring dengan perkembanganya seblak juga disajikan dengan berbagai bahan tambahan seperti telur, sosis, irisan sayur, bakso, seafood, dan lainya.

Ilustrasi krupuk yang biasa digunakan untuk seblak | Foto: selerasa.com
info gambar

Selain variasi seblak karena isian yang dimilikinya, seblak biasanya juga dibedakan nerdasar tingkat kepedasan yang dimilikinya. Dalam pembuatanya seblak biasanya menggunakan beberapa jenis bumu seperti bawang merah, bawang putih, kencur, cabe rawit, kunyit, dan penyedap rasa. Bumbu yang khas dan menjadi karakteristik dari seblak ini adalah kencur.

Bumbu-bumbu tersebut kemudian ditumis bersama dengan krupuk mentah yang telah di rendam semalaman atau disiram air panas sehingga memiliki tekstur yang kenyal. Selain bumbu kencur yang menjadi ciri khas, ciri khas lain dari penggunaan seblak adalh kerupuk yang direbus sehingga memiliki tekstur yang kenyal, yang menambah kenikmatan tersendiri pada kuliner seblak ini.

Seblak sendiri dikenal sebagai makanan khas dari Kota Kembang Bandung. Tetapi menurut beberapa sumber menyebut bahwa seblak ini sendiri berasal dari Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah. Di Desa sumpiuh sendiri hidangan seblak ini sudah ada sejak tahun 1940-an.

Seblak dengan toping ceker | Foto: beautynesia.id
info gambar

Akan tetapi di Desa Sumpiuh sendiri seblak tidak disebut dengan seblak tetapi disebut dengan krupuk godog. Krupuk yang digunakan sebagai krupuk godog sendiri di Desa Sumpiuh adalah kerupuk udang yang direbus sehingga memiliki tekstur kenyal yang mirip dengan seblak.

Selain di Desa Sumpiuh, hidangan serupa juga di Cianjur yang sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan. Hidangan serupa yang dimiliki oleh Cianjur ini kala itu menjadi hidangan alternatif bagi masyarakat yang memiliki kondisi ekonomi menengah ke bawah.

Sumber: cnnindonesia.com | merdeka.com | pegipegi.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini