UI, ITB, dan UGM Kembangkan Ventilator untuk Pasien Covid-19

UI, ITB, dan UGM Kembangkan Ventilator untuk Pasien Covid-19

Ventilator Portabel © ITB

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Penyebaran Covid-19 kini semakin luas dan jumlah pasien positif kian meningkat signifikan. Hal tersebut mengakibatkan kebutuhan akan Ventilator semakin meningkat, terlebih untuk Rumah Sakit Rujukan dan Rumah Sakit Darurat Corona.

Sejumlah Perguruan Tinggi Indonesia, diantaranya UI, ITB, dan UGM sedang mengembangkan pembuatan Ventilator untuk membantu pengobatan pasien positif Covid-19.

Ketua Tim Ventilator UI, Basari, menyatakan bahwa ada sekitar 70-an distributor ventilator yang dapat memasok 231 jenis/tipe Ventilator Impor untuk Indonesia. Namun, dengan kondisi pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia, terjadi keterbatasan stok ventilator impor tersebut.

"Sementara belum ada ventilator lokal produksi asli Indonesia yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri,” ujar Basari dikutip dari laporan Tempo.

Dengan kondisi ini, maka perlu dilakukan pengembangan Ventilator dalam waktu cepat, dengan material yang mudah di dapat, dan harga produksi yang terjangkau.

Dilansir oleh Tempo, Dekan FKUI, Ari Fahrial Syam, menyatakan bahwa, "Tim ini (Ventilator UI) fokus pada Ventilator Transport, karena beberapa hal; ketersediaan sparepart lokal lebih banyak, PDP dan pasien positif COVID-19 yang mengalami gagal napas, membutuhkan ventilator transport untuk perjalanan dari rumah ke rumah sakit, serta mode ventilasi yang dapat diatur.”

Selain UI, ITB juga turut mengembangkan Ventilator Portabel untuk pasien Covid-19. ITB berkolaborasi dengan YPM Salman ITB dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran mengembangkan ventilator yang dapat digunakan dengan mudah oleh tenaga medis.

Tim yang diketuai oleh Dr. Syarif Hidayat, Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), tersebut kini tengah mengembangkan purwarupa produk ventilator darurat yang diberi nama Vent-I (Ventilator Indonesia).

“Vent-I adalah alat bantu pernapasan bagi pasien yang masih dapat bernapas sendiri (jika pasien Covid-19 pada gejala klinis tahap 2), bukan diperuntukkan bagi pasien ICU,” ujar Jam’ah Halid selaku Manajer LPP Salman dikutip dari laman resmi ITB.

Tim dosen UGM merancang ventilator portabel untuk pasien Corona. Foto: Humas UGM
Tim dosen UGM merancang ventilator portabel untuk pasien Corona. Foto: Humas UGM

Selanjutnya, Tim Dosen UGM juga sedang mengembangkan ventilator untuk pasien Covid-19 bekerja sama dengan Toyota dan industri lokal di Yogyakarta. Dalam pengembangannya tim ini menggandeng rekan sejawat dokter UGM dan Rumah Sakit Sarjito.

"Tim DTETI di bawah koordinasi Dr. Eka Firmansyah, dan DTMI di bawah koordinasi Dr. Adhika Widyaparaga melakukan riset terapan dan rapid prototyping ventilator. Riset DTETI sampai tanggal 2 April telah mengasilkan prototype ventilator yang dapat diatur volume tidal, frekuensi aspirasi, dan rasio inhale/exhale. Sedang disiapkan sensor feedback dari pasien sehingga bisa otomatis menyesuaikan kondisi dan kebutuhan pasien," dikutip dari laman resmi UGM.

Untuk realisasainya Ventilator yang dikembangkan oleh kampus-kampus terbaik Indonesia ini memang akan lebih efektif dan cepat lagi jika dibarengi dengan pendampingan dari industri.

Khususnya dalam teknis pembuatan Ventilator untuk sekala besar dengan standar bahan baku dan proses produksi yang terstandarisasi.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Paledang, Lamafa, dan Cerita Perburuan Paus yang Direstui Greenpeace Sebelummnya

Paledang, Lamafa, dan Cerita Perburuan Paus yang Direstui Greenpeace

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk? Selanjutnya

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk?

Indah Gilang  Pusparani
@indahgilang

Indah Gilang Pusparani

http://www.indahgilang.com

1 Komentar

  • Dinar Dirmanto

    Masya Allah.. semoga terus menjadi kebaikan yang bermanfaat.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.