Tradisi Sungkem Sebagai Sembah Bakti Masyarakat Jawa

Tradisi Sungkem Sebagai Sembah Bakti Masyarakat Jawa
info gambar utama

Menurut sebagian orang di beberapa negara, mungkin bersalaman satu sama lain ialah hal yang sudah biasa. Salaman dapat ditemukan di mana saja, dan dapat dilakukan kapan saja. Misalnya saat menyambut rekan tamu di suatu acara, atau saat berpapasan di jalan.

Akan tetapi, beda halnya dengan di Indonesia, khususnya Suku Jawa. Mereka memiliki salaman yang unik dengan sebutan, sungkeman.

Sungkeman diambil dari kata sungkem dalam bahasa Jawa. Pada KBBI, kata sungkem diartikan sebagai sujud, tanda bakti dan hormat. Istilah ini paling tidak digunakan pada masa pemerintahan Kerajaan Kediri.

Hal ini dibuktikan pada penyebutannya dalam kakawin hariwangsa dengan kalimat “...sumungkem ing tilam” atau menelungkup di tikar, dan penyebutan pada masa kerajaan lainnya.

Sungkeman berasal dari Kota Solo. Menurut penjelasan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, Pengangeng Kasentanan Keraton Surakarta, sejarah tradisi sungkeman berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta, dan Kadipaten Pura Mangkunegaran.

Sejarah menyebutkan bahwa, sungkeman massal pertama kali diakukan di era KGPPA Sri Mangkunegara I. Konon, saat itu beliau bersama para punggawanya berkumpul bersama dan saling bermaafan setelah sholat Id dilakukan. Namun, seiring dengan pergolakan yang terjadi di Nusantara pada saat itu, pihak Keraton sendiri tidak bisa leluasa menggelar tradisi sungkeman. Hal ini disebabkan karena, kaum kolonial mencurigai tradisi sungkeman, sebagai pertemuan terselubung melakukan perlawanan terhadap para penjajah.

Bahkan dikisahkan, saat terjadi sungkeman di gedung Habipraya, Singosaren, saat Lebaran di tahun 1930. Belanda nyaris saja menangkap Ir. Soekarno, dan dr. R. Radjiman Widyodiningrat yang merupakan dokter pribadi SISKS Pakubuwono X, Raja Keraton Surakarta. Sehingga, Pakubuwono X yang berada di lokasi tersebut langsung spontan menjawab jika itu bukan aksi penggalangan masa, tetapi ialah tradisi sungkeman saat Lebaran.

Sejak peristiwa itulah, Pakubuwono X justru malah membuka tradisi sungkeman menjadi semacam open house, seperti yang dikenal sekarang.

Di sisi lain, tradisi sungkeman juga memiliki nilai-nilai luhur, seperti kutipan dari sahabatkeluarga.kemdikbud, tradisi sungkeman memiliki nilai-nilai sosio-kultural, serta psikologis yang harus tetap dilestarikan oleh generasi saat ini.

Bakti Bung Karno Kepada Orang Tua | @Arrahmahnews
info gambar

Sebagai sembah bakti

Saat sungkem, orang tua duduk di atas kursi dan kita duduk bersimpuh menundukkan kepala dan menyalaminya. Hal ini diartikan sebagai tanda bakti anak terhadap orang tua.

Tanda kita lemah tanpa orang tua

Dalam makna bahasa jawa, sungkem diartikan sebagai wungkuk. Diibaratkan posisi berdirinya padi saat tengah berbuah. Filosofisnya, yakni sebagai seorang yang semakin tinggi ilmunya akan semakin rendah pula hatinya.

Maka dari itu, dalam sungkem kita diharuskan untuk menunduk dan bersimpuh kepada kedua orang tua, sebagai wujud penggambaran diri yang lemah dan ucapan terima kasih. Bahwa setinggi apapun jabatan kita dan sekuat apapun pribadi kita, semuanya atas didikan orang tua.

Kesuksesan anak ada pada doa orang tua

Saat tradisi sungkem dilakukan, biasanya kita meminta doa restu kepada orang tua atas apa yang akan kita lakukan. Misalnya dalam prosesi pernikahan, saat mempelai wanita dan mempelai pria memohon restu untuk membangun rumah tangga yang harmonis, atau seorang anak yang memohon doa restu pada saat mencari pekerjaan di luar kota dengan harapan supaya diberikan kelancaran, dan kesuksesan saat bekerja

Tanda permohonan maaf

Selain meminta doa restu, sungkeman juga biasa dilakukan sebagai permohonan maaf kepada orang tua. Hal ini dimaksudkan sebelum kita memohon doa, para orang tua sudah memaafkan segala keluputan yang pernah kita perbuat. Sehingga, mereka menjadi ikhlas lahir batin dan penuh dengan ketulusan mendoakan hajat kita.

Aura positif sebagai dampak psikologis

dalam prosesi sungkem, biasanya orang tua akan mengelus kepala si penyungkem. Hal ini menjadi stimulus aura positif melalui sentuhan usapan di kepala anak. Sehingga, kekuatan doa akan lebih mengakar dan menjadi penyemangat bagi anak

Demikianlah sejarah dan makna sungkeman yang berada di Indonesia. Harapannya, semoga nilai-nilai luhur dalam tradisi sungkeman tetap tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia terkhusus Suku Jawa.*

Sumber: sahabatkeluarga.kemdikbud | kaskus.co.id | terakota.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini