Tari Lenggang Nyai, Bukti Perjuangan Seorang Wanita

Tari Lenggang Nyai, Bukti Perjuangan Seorang Wanita

Tari Lenggang Nyai (TMII 2015) ©YouTube

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Jakarta dikenal sebagai kota metropolitan yang memiliki cukup banyak tarian tradisional. Mayoritas masyarakat Jakarta ialah masyarakat dari suku Betawi. Di suku Betawi sendiri, terkenal dengan berbagai kebudayaannya yang sangat ikonik. Misalnya saja tarian Betari.

Tarian Betawi terbentuk dari proses asimilasi berbagai kebudayaan, seperti Melayu, Arab, Cina, Portugis, India, dan sebagainya dengan ciri khas penggunaan suara musik pengiring yang riang, serta gerakan-gerakan tari yang dinamis. Salah satu terkenal asal Betawi ialah Tari Lenggang Nyai.

Tari Lenggang Nyai biasa disebut Tari Lenggang Betawi ciptaan seniman asal Yogyakarta, Wiwik Widiastuti pada tahun 1998. Tarian yang merupakan tarian kreasi baru terinspirasi dari cerita rakyat Nyai Dasimah, sehingga banyak pesan yang digambarkan dalam tarian ini.

Menurut cerita yang ada, dahulu kala Nyai Dasimah adalah seorang wanita cantik dari Betawi yang berada dalam kebingungan untuk memilih pasangan hidupnya. Pada saat itu, ia dihadapkan oleh dua pilihan pria berbeda kebangsaan, yaitu pria Belanda dan pria Indonesia.

Singkat cerita, setelah ia berpikir panjang, Nyai Dasimah pun memilih pria kebangsaan Belanda bernama Edward William. Namun, setelah menikah kehidupan Nyai Dasimah mulai berubah. Ia mendapatkan banyak aturan-aturan dari suaminya hingga Nyai Dasimah merasa terkekang.

Katika Nyai Dasimah merasa hak-haknya sebagai perempuan terampas. Akhirnya, ia memutuskan untuk memberontak dan memperjuangkan kebebasannya. Perjuangan perempuan itulah yang membuat Wiwik Widiastuti terinspirasi dan menciptakan tari kreasi baru ini sebagai tanda untuk mengenang perjuangan Nyai Dasimah, dalam memperjuangkan hak dan kebebasannya sebagai seorang wanita.

Cerita Nyai Dasimah hampir sama dengan cerita R.A. Kartini yang berjuang membangun emansipasi wanita, dan memperjuangkan hak-hak perempuan pada saat itu. Maka, dengan perjuangannya tersebut hak-hak wanita dapat terwujud.

Tari Lenggang Nyai | Foto: @miumosa

Nama Tari Lenggang Nyai sendiri diambil dari kata lenggang yang berarti melenggak-lenggok, dan kata nyai yang diambil dari cerita Nyai Dasimah tersebut.

Saat pertunjukan, gerakan Tari Lenggang sangat lincah dengan menggambarkan keceriaan dan keluwesan gadis Betawi. Tak hanya itu, dalam Tari Lenggang juga menceritakan cerita serta penggambaran karakter Nyai Dasimah.

Kelincahan dalam tari tersebut terlihat dari gerak tubuh, kaki, dan tangan penari yang bergerak secara dinamis. Selain itu, ada juga gerakan dari satu sisi ke sisi lain yang menggambarkan kebingungan Nyai Dasimah pada saat akan mengambil keputusan, dan memilih salah satu dari dua orang pria yang nanti akan menjadi pasangan hidupnya.

Penari Tari Lenggang Nyai biasanya dibalut dengan busana perpaduan unsur budaya Cina dan Betawi, yaitu berwarna terang, seperti warna hijau terang dan warna merah terang. Pada bagian kepala dilengkapi hiasan mahkota identik dengan budaya Cina. Pertunjukkan tarian ini juga diiringi dengan musik tradisional Betawi, yaitu Gambang kromong.

Tarian Lenggang Nyai biasa dipertunjukkan dalam penyambutan tamu penting, acara adat, acara perayaan, dan festival budaya yang diadakan di Jakarta.

Nah, begitulah kesenian Tari Lenggang Nyai asal kota metropolitan Jakarta. Semoga, tarian ini tetap terus dilestarikan, serta dapat menambah pengetahuan Kawan GNFI mengenai kesenian tradisional di Indonesia.*

Sumber : negerikuindonesia.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Mengenang Lukman Niode, Legenda Pemegang Rekor Gaya Punggung Asia Sebelummnya

Mengenang Lukman Niode, Legenda Pemegang Rekor Gaya Punggung Asia

Sejarah Hari Ini (4 Agustus 1956) - Uji Coba Bus Ikarus, Transportasi Baru Jakarta Asal Hungaria Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (4 Agustus 1956) - Uji Coba Bus Ikarus, Transportasi Baru Jakarta Asal Hungaria

Putri Maulida
@putrimaulida

Putri Maulida

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.