Roro Hoyi, Kisah Cinta yang Hancurkan Mataram

Roro Hoyi, Kisah Cinta yang Hancurkan Mataram
info gambar utama

Kisah tragis Rara Oyi bermula saat Sunan Amangkurat I yang berkuasa pada tahun 1646-1677 berduka karena ditinggal Kanjeng Ratu Malang, lalu meminta dicarikan gadis yang bisa menggantikan permaisuri tercintanya itu.

Sang Prabu pun memanggil menteri dalam, dua orang bernama Nanya Taruna dan Yudi Karti. Sang Raja meminta mereka pergi ke wilayah yang air sumurnya tercium wangi.

"Carilah seorang Wanita yang cantik untuk saya jadikan selir. Tetapi ingatlah pesan saya di mana negara yang engkau datangi itu ciumlah air sumber di sana. Jika air sumber yang engkau cium itu berbau harum, ya disinikah tempatnya Wanita cantik, mutiara perempuan," {Babad Tanah Jawa : 188}

Naya Taruna dan Yudi Karti melaksanakan perintah Sultan, mereka menuju ke Jepara terus ke timur sampai Sura-Baya. Di sana lalu menemukan air yang harum baunya. Naya Taruna dan Yuda Karti lalu menemui orang kepercayaan Pangeran Pekik, bernama Ngabehi Mangun Jaya.

Mereka pun menyampaikan Pesan dari raja, Setelah mendengar keinginan dari utusan kepercayaan Raja Mataram ini, Mangun Jaya pun menawarkan putrinya.

"Ketahuilah menurut saya saya perempuan seluruh negeri ini wajahnya tidak ada yang menyamai anak perempuan saya," {Babad Tanah Jawi : 189}

Rara Oyi sendiri merupakan putri dari Mangun Jaya yang saat itu berkuasa di Sura-Baya. Naya Taruna dan Yuda Karti setelah melihat dara kecil itu, melongo, sangat kagum. Ia pun meminta kedua orang tua Rara Oyi mengantarkannya ke Mataram.

Kemudian mereka membawa gadis belia ini ke kedaton, sang Prabu pun tertarik dengan Rara Oyi. Tapi karena belum waktunya, Sang Prabu pun menyerahkan kepada Ngabehi Wira Reja untuk dirawat sampai siap untuk menikah.

Adipati Anom Mencari Pasangan

Tidak lama sesudah itu, sang Raja memanggil putranya Pangeran Adipati Anom. Sang Raja meminta agar sang pangeran pergi ke Wisma Adipati Cirebon mencari pasangan.

Adipati siap menjalankan perintah lalu berangkat ke Cirebon, disana dirinya pun disambut baik. Adipati Cirebon meminta putrinya menghidangkan makanan. Adipati Anom pun memuji kecantikan gadis itu, namun raut muka yang judes dan sok berani dengan laki-laki, membuatnya mengurungkan niat.

Pada lain waktu, Sang Pangeran sedang berjalan-jalan, singgah di Wira Rejan. Rara Oyi yang sudah menginjak dewasa, rupanya semakin cantik.

Pangeran Adipati, setelah melihat Rara, sangat terkejut, harinya berdebar-debar, panas-dingin badannya. Dirinya pun bertanya kepada Wira Reja, siapa sosok perempuan yang telah merenggut hatinya tersebut.

Setelah mengetahui bahwa Rara Oyi merupakan calon permaisuri Ayahnya, dirinya pun pulang ke rumah lalu berselimut. Semua abdi mengira Pangeran Adipati sedang sakit.

Pangeran Pekik yang merupakan kakek Adipati Anom tidak tega melihat penderitaan cucunya. Dirinya pun meminta kepada Wira Reja agar menyerahkan Rara Oyi untuk menikahkan dengan cucunya.

Awalnya Wira Reja menolak permohonan ini, karena takut murka dari raja. Tapi setelah Pangeran Pekik menyatakan akan bertanggung jawab, Wira Rejan pun akhirnya sepakat.

Murka Raja hingga Rara Oyi Tewas oleh Suaminya

Tidak lama kemudian sang Prabu menanyakan Rara Oyi yang dititipkan kepada Wira Rejan. Wira Rejan melaporkan bahwa putri titipannya itu sudah diambil oleh Pangeran Pekik diberikan kepada Pangeran Adipati Anom.

Sang Raja begitu murka, Pangeran Pekik lalu dibunuh beserta keluarganya, sejumlah empat puluh orang. Wira Reja dibuang ke Pana Raga bersama anak dan Istrinya.

Adapun Pangeran Adipati Anom dipanggil sang Raja, ia diperintahkan untuk membunuh Oyi dengan tangannya sendiri. Jika tidak mau membunuh, Pangeran Adipati Anom tidak diakui sebagai anak.

Pangeran Adipati lalu memangku Rara Oyi lalu ditusuk dengan keris sampai meninggal. Setelah membunuh istrinya, Pangeran Adipati lalu diusir oleh Ayahandanya ke Lipura. Harta kekayaannya habis dijarah. Rumah Kadipaten dibakar habis atas perintah sang Raja.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini