Fiersa Besari: Hargai Kesedihan Pantas Dapatkan Masa Depan

Fiersa Besari: Hargai Kesedihan Pantas Dapatkan Masa Depan
info gambar utama

Siapa tak kenal sosok satu ini? Seorang laki-laki kelahiran Bandung, penulis sekaligus pemusik Indonesia. Ialah Fiersa Besari, yang sudah mulai berkarya sejak 2009 silam dengan memulai kariernya sebagai vokalis sebuah band indie.

Seiring berjalannya waktu, karya-karya Fiersa Besari semakin bertumbuh dan berkembang, serta mulai dikenal oleh banyak orang. Memiliki enam buku dan tiga album tak membuat Fiersa berhenti berkarya sampai di situ. Kini, Fiersa aktif di berbagai platform media sosial dengan beragam konten andalannya, yaitu tentang alam.

Ya, Fiersa yang notabenya pecinta alam memang senang melakukan petualangan ke gunung-gunung yang ada di negeri ini. Bahkan, karena rasa penasarannya dengan ibu pertiwi, Fiersa pernah mengelilingi Indonesia untuk mengobati patah hatinya saat ini. Kisahnya tersebut pun dituangkan ke dalam buku bertajuk Arah Langkah, buku ke-4 Fiersa.

Berbicara tentang gunung, bagi Fiersa, Gunung Rinjani adalah gunung tercantik yang pernah Fiersa kunjungi. Selain itu, adapula gunung lain yang membuat Fiersa terkesan hingga menangis.

“Kalau dari segi terharu, banyak merasakan menangis, dan merenungi nasib di gunung yang menyulitkan saya, itu adalah Gunung Patah di Bengkulu,” tutur Fiersa dalam GoodTalk Live on Instagram pada Jumat (24/7) lalu.

Poster Goodtalk Live on IG | Foto: GNFI
info gambar

Berbagai pengalaman ketika naik gunung adalah momen yang membuat Fiersa begitu mencintai negeri ini. Bukan hanya keindahan alamnya saja yang ia kagum, tapi juga ketika bisa menangis dan juga tertawa di puncak gunung adalah pengalaman berharga bagi Fiersa.

Berbicara tentang Indonesia, Fiersa memiliki pendapat bahwa sebenarnya kalau melihat Indonesia secara keseluruhan, tempat wisatanya, budayanya, dan ramah tamahnya sangat bagus. Namun, ketimpangan juga ada banyak di sini.

“Jika berbicara tentang Indonesia tidak bisa lepas dari rasa sakitnya juga,” kata Fiersa

Fiersa juga menyatakan kalau suatu saat akan tiba di satu titik di mana anak muda tidak akan lagi mudah percaya hoax, tidak mudah termakan berita palsu, dan tidak akan mudah mempercayai apa-apa yang berlandaskan sekadar keyakinan tapi malah membawa disinformasi.

“Saya percaya kita punya jurang pemisah, generasi setelah saya, orang-orang yang tidak akan mudah percaya hoax. Tanpa kita sadari, merekalah yang menyelamatkan orang tua dari informasi tidak jelas,” jelas Fiersa.

Terlepas dari itu semua, Fiersa ingin ke depannya Indonesia dapat dikenal di luar negeri karena faktor pendidikannya. Terkadang semua orang di Indonesia sibuk membanggakan sumber daya alam yang ada, sampai lupa kalau ada sumber daya manusia yang juga tidak kalah penting.

Selain itu, Fiersa juga ingin pendidikan di Indonesia bisa lebih maju, supaya negeri ini bukan hanya untuk mencetak pegawai terbaik, tapi juga untuk menghasilkan pemikir terbaik. Untuk mewujudkan hal tersebut, dukungan dari pihak pemerintah tentu sangat diperlukan.

“Namun itu PR kita bersama bagaimana caranya membuat pendidikan menjadi merata dan semua anak di negeri ini bisa merasakan pendidikan yang menciptakan pemikir-pemikir hebat, bisa menuntun generasi selanjutnya menjadi ke arah yang lebih baik,” gagas Fiersa.

Fiersa Besari, si pecinta alam dan penghasil karya berupa buku dan musik | Foto: suar.grid.id
info gambar

Untuk bisa mencapai hal itu, tentunya anak-anak muda yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa ini perlu untuk memiliki sebuah karakter khas. Menurut Fiersa, yang belum bisa anak muda hargai di negeri ini adalah rasa sedih.

Fiersa selalu percaya bahwa anak-anak muda yang pantas mendapatkan masa depan yang lebih baik adalah anak muda yang bisa menghargai kesedihannya. Baginya, masa lalu bukan untuk dilupakan, tapi untuk dilihat dengan persepsi yang lain, yang tidak menyakitkan.

“Simpanlah rasa sedih ini untuk menciptakan sesuatu dan bergerak dari hal tidak baik menjadi lebih baik. Orang-orang yang memelihara kesedihan di hatinya, memupuknya sedikit dan tidak terlalu banyak adalah orang-orang yang dibutuhkan negeri ini,” tutur Fiersa.

Sebagai seseorang yang mencintai negeri ini, Fiersa tidak bisa bilang bahwa dirinya patriotis. Namun ia selalu merasa bahwa ketika sedang jauh dari kampung halaman (Indonesia), ia selalu merasa kangen dan ada rasa ingin pulang. Karena untuknya, mencintai negeri ini adalah hal yang mesti dilakukan. (des)

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini