Catatan Migrasi Muslim Tionghoa ke Nusantara

Catatan Migrasi Muslim Tionghoa ke Nusantara
info gambar utama

Pada buku Yingyai Shenglan dan Xi Yang Fan Guo Zhi menjelaskan bahwa semua orang-orang Tionghoa dari Guangzho dan Quanzhou di Majapahit, mengimani Islam. Walau demikian, Mah Hwang dan Gong Zhen (Penulis abad ke-5) sama-sama sepakat bahwa para Tionghoa-Muslim bisa berada di sana karena "kabur". Bedanya, pada buku Yingyai Shenglan memakai uang, sedangkan buku Xi Yang Fan Guo Zhi menyebutnya "kabur".

Hubungan Tionghoa dengan Nusantara sudah terjalin sejak Dinasti Han Timur (25-220 M). Kala itu, Cina mengimani Nusantara "Yetiao". Dicatat, pertama kali dalam jilid 6 kitab han akhir yang dikompilasi Fan Ye (398-445 M), pada bulan 12 tahun ke-6 pemerintahan Kaisar Shun (131 M) negeri Yetio mengirim utusan dan mempersembahkan upeti kepada dinasti Han Timur.

Sinolog Prancis, Paul Pelliot (1878-1945) dalam "Deux iteineraires de chine en Inde a la fin du VIIIe siecle" (Dua Rute dari China ke India pada Akhir Abad VIII) yang termuat di Bulletin de I'Ecole francaise d'Extreme-Orient Vol.4, No, 1/2 (Janvier-Juin 1904) menyatakan bahwa "Yetiao" adalah transkip dari "Jap-div" yang tak lain dan tak bukan adalah pelafalan ringkas "Yavadvipa" (Jawa Dwipa).

Relasi Nusantara-Cina terus terpelihara sampai Islam masuk ke China pada waktu dinasti Tang (618-907) berkuasa. Saat itu, trayek utama orang-orang Arab atau Persia menuju Cina adalah jalan darat melalui Asia Tengah dengan menunggangi unta.

Maka dari itu, muslim awalnya lebih terkosentrasi di daratan Cina barat laut, terlebih Chang'an (kini kota Xi'an) yang notabene ibu kota. Namun, menurut Nova Basuki dalam Historia.id, adanya pemberontakan yang terjadi di Cina Barat Laut membuat banyak imigran yang terputus jalan pulangnya. Bahkan, ada yang lebih dari 40 tahun, hingga sudah beristri dan beranak.

Menurut Zizhi Tongjian jilid 232, bagi yang ingin pulang atau hendak ke Cina, hanya punya dua opsi yaitu lewat wilayah Kekhaganan Uighur di Mongolia, atau jalur laut. Jalur laut kemudian menjadi jalan yang banyak dipilih.

Pusat pemerintah Kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Al-Mansur (754-775 M) dipindahkan ke Baghdad yang notabene daerah pesisir. Dengan begitu, kaum migran Muslim yang dulunya menumpuk di Chang'an, mulai bergeser ke wilayah pinggir pantai di Cina bagian timur semacam Guangzhou. Mereka ditempatkan di wilayah khusus yang dikenal dengan sebutan fanfang, distrik komunitas asing.

Mengarungi Laut Cina Selatan Menuju Jawa

Para penduduk Muslim dari Chang'an kemudian mengarungi Laut Cina Selatan menuju Jawa atau Sumatera yang strategis berkat Selat Malaka. Jika era Dinasti Tang adalah awal mula migrasi Tionghoa ke luar negeri, sebagaimana dinyatakan Li Changfu dalam Sejarah Migrasi Cina, maka pasca pemberontakan Huang Chao inila tonggak sejarah dimulainya migrasi Muslim dari Tionghoa ke Nusantara.

Walau demikian, komposisi Tionghoa-Muslim kemungkinan besar tak sebanding dengan jumlah orang-orang Arab atau Persia. Sebab, di masa dinasti Tang, Tionghoa-Muslim masih dalam tahap pembentukan. Perdagangan maritim diteruskan oleh dinasti Yuan (1271-1368 Masehi) setelah Dinasti Song ditaklukan total oleh orang-orang Mongol itu. Saudagar-saudagar Arab atau Persia pun makin intens berdatangan.

Menjelang akhir pemerintahan Dinasti Yuan, terjadi konflik besar berlatar kepentingan ekonomi antara kaum Sunni dan Syi'ah di Quanzhou. Kerusuhan tersebut bernama Ispah. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Masjid-masjid dan kuburan-kuburan pun diporak-porandakan dalam kekacauan yang berlangsung gegap gempita selama 10 tahun (1357-1366 Masehi).

Bagi yang ingin menyelamatkan diri, kabur ke Nusantara lagi-lagi menjadi pilihan ideal. Sejak zaman Sriwijaya, sebagaimana dicatat Zhu Yu (960-1279 M) dalam cerita dari Pingzhou jilid 2, Nusantara memang dijadikan tempat memperbaiki kapal, bongkar muat barang dagangan, dan berkumpulnya perdagang-pedagang dari Cina yang akan ke Timur Tengah atau sebaliknya.

Di antara para pelanggar haijin yang kabur ke Nusantara adalah Shi Jinqing, saudagar asal Guangdong. Dirinya disebut sebagai orang yang berjasa melaporkan Chen Zuyi, yang merupakan pedagang pelanggar haijin dari Guangdong, merompak kapal-kapal yang melintas di perairan Palembang, kepada Cheng Ho.

Berdasarkan laporan Shi Jinqing sebagaimana diungkap oleh Catatan Fakta Ming (Ming Shilu) bagian "Catatan Fakta Kaisar Yongle" (Taizong Shilu) jilid 71, armada Cheng Ho membunuh lebih dari 5.000 orang komplotan, membakar 10 kapal, menawan 7 kapal, dan merampas 2 stempel perunggu (lambang kekuasaan) Chen Zuyi.

Berkat jasanya tersebut, masih menurut Yingyai Shenglan dan Xi Yang Fan Guo Zhi, Dinasti Ming kemudian mengangkat Shi Jinqing sebagai duta pasifikasi di komunitas Tionghoa di Palembang.

Belakangan, putri Shi Jinqing yang bernama Shi Dajie alias Nyai Gede Pinatih menjadi perempuan pertama di Nusantara yang menjadi pejabat syahbandar di Gresik. Dialah pengasuh Raden Paku dan penyokong finansial Giri Kedaton.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini