Berharap pada Kesaktian Digitalisasi

Berharap pada Kesaktian Digitalisasi
info gambar utama

Pandemi corona telah banyak mengubah tatanan sosial dibanyak hal. Bukan hanya berkutat pada perilaku hidup yang semakin sehat, namun lebih banyak lagi aspek yang mengalami perubahan. Dari mulai aspek kegiatan ekonomi, pendidikan, keagamaan dan cara pandang orang terhadap tekhnologi, terutama teknologi digital.

Pada perkembangan awal teknologi digital internet ini, banyak yang menganggap sebagai teknologi yang tidak bisa dimanfaatkan oleh semua orang. Sebagian dari mereka menganggap bahwa teknologi ini hanya akan dirasakan oleh sebagian kecil kelompok terutama mereka yang bekerja dikantoran dan bersinggungan langsung dengan teknologi komunikasi.

Setidaknya itulah pandangan orang tua saya dan teman-temannya di kampung nun jauh dipelosok Jawa Barat ketika minum teh selepas melaksanakan kerja bakti membersihkan saluran air. Pada saat itu, internet belum dikenal luas. Jangankan internet, televisi berwarna pun dikampung itu masih dikatakan sebagai barang mewah.

Itu terjadi sekitar tahun awal 2000-an. Mereka beranggapan bahwa teknologi internet itu sama seperti teknologi pesawat terbang yang hanya dirasakan oleh mereka yang bisa menikmati perjalanan dengan pesawat terbang. Asal mula bapak saya mengenal istilah internet adalah ketika ada mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di kampung kami. Saya juga ingat betul bahwa si mahasiswa itu berasal dari jurusan Matematika.

Kembali pada pandemi corona sebagai pijakan utama dalam tulisan ini. Melalui mewabahnya virus menjengkelkan sekaligus mematikan ini, kita seperti sedang diajari cara memanfaatkan teknologi internet dan segala perangkat pendukungnya. Setelah 20 tahun semenjak bapak saya mengatakan bahwa internet sebagai teknologi yang tak bisa dinikmati oleh semua orang termasuk bapak saya, terbantahkan.

Minimal ketika musim mudik kemarin pada moment lebaran keluarga kecil kami tidak bisa mudik, maka internet telah bisa kami manfaatkan. Video call atau bertatap muka dengan bantuan aplikasi yang ada kami bisa saling menyapa, bahkan bisa melihat dengan jelas keriputnya lening dan leher orang tua saya. Pun kami bisa melihat gigi bapak saya yang kebanyakan sudah undur diri. Dan itu menjadi bahan bercandaan anak saya yang baru berusia 6 tahun.

Kami bisa melakukan tatap muka dengan saudara saya yang berada di Jambi, Bandung dan Semarang yang nasibnya sama dengan saya tidak bisa mudik. Dari tempat berbeda kami bisa melakukan obrolan sambil bisa melihat satu sama lain. Kami bisa menyaksikan kondisi rumah kakak saya yang berantakan dengan mainan anaknya. Begitu pula ibu saya bisa menyaksikan anak saya yang wajahnya semakin bundar karena gemuk.

Pada tarap yang lebih luas, pemanfaatan teknologi digital ini disinyalir bisa dijadikan sebagai mesin penggerak ekonomi pasca COVID-19 ditaklukan. Analisis ini cukup berdasar. Justifikasi pada analisis ini bisa dilihat dari berhasilnya teknologi internet dalam menjembatani proses belajar mengajar, proses kegiatan usaha dan berbagai pelayanan baik oleh pemerintah maupun swasta pada saat wabah covid tengah melanda.

Ketika pembatasan kegiatan sosial dengan berbagai istilah diberlakukan oleh pemerintah yang kemudian memaksa setiap kegiatan masyarakat mentaatinya, maka internet menjadi sebuah solusi. Internet telah digunakan dalam seminar jarak jauh yang kemudian terkenal dengan istilah webinar ataupun e-learning bagi para peserta didik. Bukan hanya belajar, ujian juga telah dilakukan secara online/daring dengan menggunakan jaringan internet. Sehingga pendapat yang mengatakan bahwa teknologi digital mampu mempelopori kebangkitan ekonomi bisa diterima.

Spesifikasi kegiatan ekonomi dan sosial yang bisa dengan masif memanfaatkan teknologi digital tentu tidak semua bidang. Misalnya sektor pariwisata tidak bisa secara penuh memanfaatkan ini. Pokok dari pariwisata adalah berpindahnya sesorang dari tempat tinggalnya menuju ke objek wisata. Perpindahan ini tidak bisa dilakukan dengan hanya menggunakan teknologi digital. Perpindahan fisik adalah inti dari kegiatan wisata. Sehingga dengan adanya mobilitas ini bisa dimanfaatkan oleh semua stakeholder yang berkaitan dengan kegiatan ini. Dari mulai sektor transportasi, perdagangan baik kecil maupun besar, sub sektor akomodasi/perhotelan dan selanjutnya adalah sub sektor hiburan/pertunjukan sebagai daya tarik.

Meski telah muncul aktifitas berwisata secara virtual, namun hanya sebatas melihat secara visual saja tanpa bisa merasakan kondisi sebenarnya. Pun dengan wisata virtual tidak bisa melibatkan sektor lain terlibat. Pengguna wisata virtual tidak dapat menikmati makanan khas dimana objek tersebut berada dengan segala atribut suasananya. Begitu pula kegiatan lainnya sebagai support sector yang justru bisa menggerakan ekonomi masyarakat.

Mungkin yang bisa dilakukan dengan teknologi digital pada sektor pariwisata hanya sebatas kemasan promosi dan membuka kanal kampanye diberbagai platform aplikasi sosial. Selain itu bisa juga dimanfaatkan dalam hal reservasi dan pembaruan informasi sehingga bisa secara lebih luas bisa diakses oleh masyarakat tak terbatas. Ini merupakan salah satu keunggulan tekhnologi digital yaitu menjadikan dunia sebagai unboundaries area (dunia tanpa sekat).

Pada kegiatan ekonomi lainnya teknologi ini bisa memberikan efisiensi. Perusahaan bisa menerapkan prinsip kerja WFH (Work From Home) seperti yang selama ini dijalankan pada saat pemberlakuan PSBB. Prinsip WFH ini tentu akan mengurangi biaya overhead perusahaan. Misalnya biaya listrik, biaya telpon, alat tulis dan biaya trasnportasi karyawan. Meski begitu memang WFH ini tidak bisa diterapkan pada semua bidang pekerjaan. Bagi sektor yang membutuhkan tatap muka dan fisik dokument tentu tidak tepat. Misalkan customer service atau teller pada industri perbankan dan sejenisnya. Atau bagi sektor pelayanan dasar yang diselenggarakan oleh pemerintah yang masih mensyaratkan adanya tatap muka. Namun meski demikian dengan tekhnologi digital ini pelayanan yang selama ini membutuhkan tatap muka dan dokumen fisik bisa secara bertahap dilakukan secara digital.

Kesimpulannya adalah dengan pandemi COVID-19 ini telah membuka mata kita bahwa tekhnologi digital bisa diandalkan dalam menghadapi tatanan hidup yang baru. Pengurangan frekuensi tatap muka bisa dilakukan dengan bantuan tekhnologi digital.

Semua sektor kegiatan bisa memanfaatkannya dengan porsi yang tentu tidak sama, tergantung dari kebutuhan. Melalui digitalisasi ini pecegahan setiap penyakit sejenis corona bisa dilakukan dengan lebih mudah karena masyarakat sudah terbiasa dengan physical distancing, prinsip WFH, E-Learning dan e-commerce. Sehingga teknologi digital ini benar-benar bisa dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat baik nun jauh di pelosok negeri maupun di kota besar.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini