Indonesia jadi Salah Satu Studi Kasus Proyek Riset Mitigasi Perubahan Iklim Berbasis Lahan

Indonesia jadi Salah Satu Studi Kasus Proyek Riset Mitigasi Perubahan Iklim Berbasis Lahan
info gambar utama

Apa saja potensi realistis pertanian, kehutanan, dan sektor penggunaan lahan lainnya dalam meningkatkan penyerapan CO2 dari atmosfer? Pertanyaan ini akan dijawab oleh proyek penelitian LANDMARC, yang telah dimulai secara resmi sejak 1 Juli 2020.

Land-based negative emission solutions adalah usaha pengurangan emisi pada penggunaan lahan. Didanai oleh European Commission, 19 mitra konsorsium LANDMARC akan menghabiskan empat tahun ke depan selama 2020-2024 bekerja untuk memperkirakan dampak iklim dari land-based negative emission solutions, misalnya pada bidang pertanian, kehutanan, dan sektor penggunaan lahan lainnya.

Tak hanya itu, dilakukan pula penilaian potensi peningkatan skala regional dan global dari solusi emisi negatif, dan memetakan potensi manfaat dan akibat pada lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Land-based negative emission solutions diharapkan dapat memainkan peran penting dalam aksi iklim dan skenario kebijakan di masa depan. Hingga saat ini, sebagian besar aksi pengurangan dampak iklim berfokus pada penghapusan bahan bakar fosil secara bertahap dan pengurangan emisi gas rumah kaca, contohnya pada industri, listrik, dan transportasi.

Meskipun target zero emission di sektor-sektor ini akan tetap menjadi prioritas selama beberapa dekade mendatang, diperkirakan emisi dari gas rumah kaca tetap ada. Agar dapat memenuhi Persetujuan Paris (Paris Agreement) dan memenuhi target penelitian iklim dunia, kebijakan dan pasar semakin mencari solusi pada emisi negatif berbasis lahan.

Proyek LANDMARC akan meningkatkan pemahaman di sektor tersebut dengan memberikan perkiraan yang lebih baik tentang potensi realistis dari land-based negative emission solutions di sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya. Kegiatan penelitian akan melakukan g abungan teknologi observasi bumi, untuk dapat (lebih baik) memantau dan memperkirakan efektivitas land-based negative emission solutions.

Adapula Serangkaian model simulasi iklim, penggunaan lahan, dan ekonomi untuk memperkirakan dengan lebih baik potensi sebenarnya (menentukan skala) dari land-based negative emission solutions baik dari perspektif bumi maupun manusia.

Selain itu, ada pun pendekatan berbasis ilmu sosial untuk penilaian dampak yang efektif dan keterlibatan dengan para pemangku kepentingan daerah dan regional di 14 negara dan 5 benua yang telah bekerja pada penerapan land-based negative emission solutions.

LANDMARC berkolaborasi dengan sains dan masyarakat

Proyek LANDMARC secara aktif mencari kolaborasi dengan sesama proyek penelitian yang beroperasi di negara dan wilayah studi kami (lihat peta). Kolaborasi dengan mencakup saling menukar atau berbagi data dan informasi observasi bumi (seperti satelit, penginderaan jauh, dan pengukuran in-situ), pengembangan dan pemodelan skenario perubahan iklim dan penggunaan lahan, menilai ketahanan dan sensitivitas iklim dari solusi emisi negatif, serta menilai manfaat dan akibat yang spesifik pada solusi mitigasi berbasis lahan (lingkungan, sosial, ekonomi).

Kemudian akan terlibat pula dengan pemangku kepentingan di daerah dan pusat seperti LSM, pemerintah daerah, himpunan organisasi kehutanan atau pertanian (misalnya menyelenggarakan acara bersama).

Ada 3 negara di Asia, yaitu Indonesia, Vietnam, dan Nepal yang bergabung dengan proyek LANDMARC. Indonesia diwakili oleh perusahan yang berberak di bidang lingkungan, PT Sustainability and Resilience.co (su-re.co) yang berbasis di Bali. su-re.co berkontribusi pada proyek ini dengan melakukan tiga studi kasus di Bali (biogas, kompos berskala kecil dan besar).

su-re.co juga bergabung dalam proyek TIPPING+, yang juga merupakan proyek EC, dan melakukan dua studi kasus di Banten dan Bali. Ketika LANDMARC fokus pada penilaian-penilaian ilmiah, TIPPING+ lebih berfokus pada keterlibatan kebijakan.

su-re.co akan menyelenggarakan workshop tahunan bertema sustainable and resilience selama kedua proyek ini berlangsung untuk keterlibatan para pemangku kepentingan dan penyebaran hasil penelitian.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini