Sejarah Hari Ini (30 Agustus 1735) - Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen Berdiri di Batavia

Sejarah Hari Ini (30 Agustus 1735) - Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen Berdiri di Batavia
info gambar utama

Seorang saudagar kaya Hindia Belanda yang mempunyai jabatan di perusahaan dagang Vereenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Justinus Vinck, memiliki tanah berhektar-hektar di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1700-an.

Sejumlah lahan di Batavia dimiliki Vinck, dua di antaranya ada di daerah Weltevreden dan Tanah Abang.

Vinck mendapatkan hak memiliki tanah tersebut setelah membelinya dari pewaris anggota Dewan Hindia Belanda Cornelis Chastelein, Johan Francois de Witte van Schooten, dengan harga 39 ribu ringgit pada 1733.

Melihat kemajuan ekonomi di Batavia, Vinck yang mempunyai bakat bisnis lalu membangun pasar di dua tempat berbeda itu.

Surat izin pun keluar dari pemerintah di mana sesuai peraturan pasar yang didirikan Vinck wajib buka sesuai hari yang ditentukan.

Berikut kalimat pemberian izin dua pasar yang diumumkan dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie (Lembaran Negara) tahun 1735:

''Verguning werd verleend onder de voorwaarde, dat sal moeten werden nagekomen het geene ten opstige van de lasten belooft werd. Maar, doordien het rekest van Vink verloren is geraakt, kan niet meer worden nagegaan, waaruit de beloofde lasten hebben bestaan. De markten zouden gehouden worden des maandags op Weltevreden en des Zaturdags,,aan den weg en hoogte van Tanah Abang en campong Dima. De opziener van het afkomende beestial werd gemagtigd op die markten, evenals op die te Meester-Cornelis, de te koop gebragte buffels to brandmerken. De Tanah Abangsche passer moest aan het land Tanah Abang geattacheert blyven.''

Terjemahan bebasnya:

''Surat izin ini diberikan kepada pemohon untuk mendirikan dua pasar di atas tanah miliknya, dengan ketentuan dapat ditinjau kembali bila ada kekeliruan. Mengingat surat permohonan Vink hilang maka sulit menelusuri ketentuan-ketentuan yang telah dilimpahkan kepadanya. Ketentuan lain mengatakan, pasar diselenggarakan hari Senen untuk pasar Weltevreden, hari Sabtu untuk pasar yang akan dibangun di bukit Tanah Abang dan Kampung Dima (juga disebut Kampung Lima). Kepada mantri pasar diberikan kekuasaan untuk mengawasi perdagangan ternak seperti halnya di pasar Jatinegara ternak harus dicap bakar. Pasar Tanah Abang harus dibangun tetap di wilayah Tanah Abang.''

Para penjual di Pasar Senen sekitar abad 19-20.
info gambar

Kedua pasar diresmikan bersamaan pada 30 Agustus 1735.

Pasar Weltevreden atau sebutan lainnya Vinck Passer (Pasar Vinck) lantas menjadi sering dipanggil Pasar Senen karena dibuka hanya pada hari Senen.

Lain lagi dengan pasar satunya, meskipun dibuka pada hari Sabtu, Pasar Tanah Abang tetap sering dipanggil sesuai dengan nama lokasi tempatnya berdiri.

Pada 1751, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jacob Mossel, merevisi peraturan waktu pembukaan pasar.

Kedua pasar buka dua hari dalam sepekan, Pasar Tanah Abang selain Sabtu juga buka pada hari Rabu, sementara Pasar Senen ditambahkan buka pada hari Jumat.

Sesuai peraturan, kedua pasar tidak boleh menjual barang dagangan yang sama.

Pada awalnya, Pasar Senen menjual komoditas sayuran, sementara Pasar Tanah Abang kebagian menjual tekstil.

Selain tekstik, Pasar Tanah Abang juga dikenal tempatnya menjual hewan ternak.

Para pedagang ternak menggunakan bukit Tanah Abang sebagai tempat persinggahan dan penggembalaan ternak yang kebanyakan hewan kambing.

Penjualan hewan ternak di tempat ini laris manis karena banyaknya orang Arab gemar mengonsumsi kambing lalu memilih bermukim di Tanah Abang.

Potret Pasar Senen sekitar awal abad ke-20. Tampak transportasi kereta kuda sado dan mobil hilir mudik.
info gambar

Tak hanya lapak untuk menjual, dua tahun kemudian Justinus Vinck juga membuka jalan dan jembatan yang menghubungkan kedua pasarnya.

Aksesnya meliputi Kampung Lima, Jembatan Prapatan, sampai Simpang Senen dan Kramat.

Inilah jalan pertama yang menghubungkan timur dan barat Jakarta.

Dari dibangunnya jalan tersebut memudahkan transportasi darat yang biasa mengangkut barang dagangan, yakni pedati sebuah transportasi kuno yang ditarik sapi atau kerbau.

Trem listrik di Stasiun Tanah Abang.
info gambar

Pada masa-masa berikutnya, Pasar Tanah Abang dan Senen tetap menjadi tempat yang penting di Batavia.

Ketika teknologi sudah maju pada abad 19, kedua tempat tersebut menjadi lebih mudah dijangkau dengan jaringan transportasi berbasis rel, yakni trem dan kereta api.

---

Referensi: Staatsblad van Nederlandsch-Indie tahun 1735 | Tim Majalah Intisari, "Batavia: Kisah Jakarta Tempo Doeloe" | Alwi Shahab, "Saudagar Baghdad dari Betawi"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini