Mengenal Profesor Lukis ''Tanah dan Air'' dari Makassar

Mengenal Profesor Lukis ''Tanah dan Air'' dari Makassar
info gambar utama

Namanya Arifin, tapi lebih tenar dengan panggilan Zaenal Beta atau Daeng Beta, kawan. Meski usianya saat ini menginjak 60, namun ia masih mahir menggurat kertas bertabur lempung basah dengan sebuah garis-garis spontan dan tegas dengan hanya menggunakan bilah bambu kecil.

Hasilnya, sebuah lukisan elok ia hasilkan dengan tak sampai 10 menit dari kombinasi kertas, tanah lempung, dan air tadi. Dalam perbincangannya dengan penulis, ia pernah bilang jika melukis lempung butuh kecepatan dan ketelitian sebelum lempung dalam lembaran kertas itu mengering.

Jika lempung itu terlanjur mengering, maka ia mengakalinya dengan usapan air agar kembali basah. Tak heran, lukisannya dijuluki seni lukis tanah dan air.

"Melukis dengan tanah liat harus fokus dan diutamakan diselesaikan dalam sekali garis, harus tegas dan jangan ragu-ragu," jelas pria yang menyenangi dunia seni lukis sejak sekolah dasar (SD) itu, dan menghabiskan setengah usia hidupnya untuk menjadi pelukis lempung.

''Kurang lebih 36 tahun saya menjadi pelukis tanah liat dengan berbagai jenis gambar.''

Bahkan, Zaenal hanya butuh waktu dua menit untuk melukis sebuah rumah adat Suku Toraja, Tongkonan. Padahal, ia melukis Tongkonan tanpa contoh potret atau foto, namun lebih mengandalkan ingatannya sebagai putra tanah Celebes.

Ia bilang, gambar bentuk dan lekukan rumah Tongkonan, sudah menempel dalam ingatannya sejak ia kecil. Pendek kata, sudah hafal luar kepala, tak perlu pikir panjang.

Sebuah profesi yang tak gampang dan tentu menghasilkan mahakarya yang menawan. Tentu ini beda dengan metode melukis dengan media pasir yang belakangan juga menjadi salah satu profesi lukis alternatif.

Pria jebolan sekolah menengah pertama (SMP) yang tinggal di Kota Makassar ini kemudian bercerita soal profesinya sebagai pelukis lempung/tanah liat yang ia tekuni selama puluhan tahun di Studionya di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan.

Ya memang, jika kawan GNFI mengunjungi benteng yang cukup populer di Kota Makassar itu, kawan bakal menemui sebuah ruangan mirip aula yang banyak terpampang lukisan berbahan lempung. Itulah studio Zaenal.

Tapi jangan harap studio itu sepi mirip galeri-galeri, karena banyak sekali pegunjung yang secara langsung belajar melukis lempung di sana, tentunya dengan pengawasan langsung dari Zaenal. Para pengunjung yang belajar lukis lempung itu usianya beragam, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa.

Pengunjung dari mancanegara, alias Bule adalah yang paling getol belajar melukis lempung. Bahkan mereka berani seberang pulau demi belajar lukis lempung, cerita Zaenal.

Meski begitu, Zaenal tak mematok tarif dari pembelajaran lukisan itu. Ia senang jika banyak orang ingin belajar dan menjadi bisa seperti dirinya. Tapi ya itu tadi, bagi yang ingin belajar harus rela berkotor-kotor belepotan lempung.

''Ilmu itu datang dari Tuhan, dan kita, sebagai manusia, tak boleh pelit,'' tandasnya merendah.

Metode melukis nan unik

Bilah bambu kecil yang ia gunakan pun ia temukan pertama kali secara tak sengaja. Zaenal mengaku sempat frustrasi karena tak dapat menggunakan kombinasi kanvas dan kuas secara maksimal pada media lempung basah dan kertas.

Hingga suatu ketika saat berusia 20 ia melihat guratan lempung di atas kertas bisa menjadi ciri khas dan membangun karakter lukisannya. Dari situlah timbul ide untuk menggunakan media kertas, tanah, dan bambu sebagai penopang imajinasi gambarnya.

Warna cokelat muda yang menjadi warna dominasi ketika tanah bercampur air, memiliki nilai dan keunikan tersendiri di matanya. Baginya, lempung memiliki tekstur yang unik, terlebih mengering dan terkena pantulan cahaya.

Lain dengan bilah bambu, Zaenal mengaku juga mampu membuat gambar melalui media yang sama hanya dengan menggunakan jari. Soal bahan dasar lempungnya juga tak sembarang. Ia mengatakan mencari bahan tanah liat di berbagai daerah di Sulawesi Selatan untuk menemukan beberapa karakter warna yang beragam.

Zaenal beda mendemo lukis lempung
info gambar

Gelar kehormatan dari Affandi

Meski tampil sederhana dan tak seperti seniman lukis kebanyakan yang terlihat nyentrik, namun siapa sangka pelukis kenamaan Indonesia, Affandi--almarhum, menyebutnya layak mendapatkan gelar profesor lukis.

Ia menceritakan, bahwa pada 1986 ketika ia memamerkan karya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Saat itu Affandi datang dan terpukau dengan teknik lukis Zaenal yang berbahan dasar lempung, bukan cat kanvas. Usai menakar hasil lukisan Zaenal, Affandi langsung memberikan gelar padanya sebagai profesor lukis Indonesia.

Bagi Affandi, teknik lukis Zaenal cukup sulit dan langka. Tak mudah menggurat sebuah gambar dalam kondisi lempung yang cenderung cepat mengering dalam media kertas.

"Ia mengatakan itu karena sebelumnya belum pernah menemukan pelukis dengan karakter unik seperti saya, yakni menggunakan tanah liat."

Tak heran jika karya-karya Zaenal acapkali ditemui di galeri Taman Ismail Marzuki sejak 1986. Lain itu, karyanya juga menghiasi galeri pameran di belahan benua lain, sebut saja di Eropa (Prancis dan Belanda), Amerika Serikat, dan Kanada, serta pada beberapa galeri di Australia.

Tema perahu pinisi zaenal beta
info gambar

Perkenalkan budaya Makassar ke mata dunia

Karya-karya Zaenal yang menggambarkan nilai budaya khas Sulawesi Selatan, seperti lukisan perahu Pinisi, senja, rumah arsitektur Bugis-Makassar, atau pemain sepak raga, cukup banyak menghiasi dinding-dinding hotel berbintang di Makassar.

Meski bernilai mahal, namun bagi kawan yang ingin membawa pulang karya lukisan Zaenal cukup merogoh kocek Rp150 saja. Cukup murah untuk sebuah karya seni langka yang pendalamannya dilakukan lebih dari seperempat abad.

Walau demikian, para kolektor seni pun menghargai hasil lukisan Zaenal tak semurah itu, kawan. Beberapa kolektor yang memintanya melukis dengan tema tertentu pun menebusnya dengan harga fantastis. Rata-ratanya Rp25 juta untuk sebuah lukisan di atas kertas A4.

Hingga pada akhirnya, Zaenal ingin setiap orang bisa memiliki hasil karyanya, sekaligus ikut menghargai budaya Sulawesi Selatan.

''Saya ingin mengenalkan kepada setiap orang dan kepada dunia, bahwa di Indonesia ada pelukis lempung,'' pungkas pria kelahiran Makassar, 19 April 1960 itu.

Gimana kawan? Layak dikoleksi bukan?

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini