Diaspora Arab di Indonesia: Siapa, Kapan, dan Bagaimana

Diaspora Arab di Indonesia: Siapa, Kapan, dan Bagaimana
info gambar utama

Orang Arab Indonesia atau "Jama'ah" adalah salah satu komunitas diaspora terbesar di Indonesia. Mereka tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dengan konsentrasi di wilayah pantai utara Jawa, dan pantai timur Sumatera (Al Qurtuby, 2017).

Keberadaan diaspora Arab secara jelas menambah keberagaman sosio-kultural masyarakat Indonesia. Kata "Jama'ah" sendiri berasal dari beberapa hal yang menjadi ciri khas mereka, yaitu salah satu pengaruh yang terbesar dari komunitas Arab di Indonesia adalah agama Islam.

Kata "Jama'ah" menjadi kutipan atau simbol bahwa rujukan Islam mereka ada Islamnya "Ahlussunnah wal jama'ah" dan makna "Jama'ah" juga dapat berarti sifat komunitas ini yang bersatu, berserikat, dan berkumpul yang lekat konotasinya dengan "berjama'ah atau bersama-sama".

Sejarah

Foto: nusantarainstitue.com
info gambar

Kontak antara nusantara dengan Arab setidaknya sudah ada sejak sebelum abad ke-10 (Boxberger, 2002). Pedagang dari Arab berperan dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia. Walaupun kontak sudah lama, namun imigrasi orang Arab ke nusantara (dan Asia Tenggara pada umumnya) baru meningkat secara signifikan pada akhir abad ke-19 (Boxberger, 2002).

Pada tahun 1920, dalam rangka melakukan diferensiasi dan stratifikasi sosial masyarakat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda, orang Arab dimasukkan dalam kategori Vreemde Oosterlingen atau Timur Asing yang menempatkan mereka dalam posisi di atas orang asli Indonesia, namun di bawah orang Eropa secara hukum.

Selain itu, pemerintah kolonial juga melakukan “segregrasi” pemukiman orang imigran Arab dengan orang asli melalui pembentukan “Kampung arab”. Orang Arab memerlukan “visa khusus” apabila melakukan perjalanan keluar dari kampung Arab (de Jonge, 1993). Seakan menjadi pelengkap, kebiasaan menyebut diri mereka jama'ah berasal dari sejarah isolasi dan segregrasi ini.

Walaupun adanya kebijakan divide et impera ini, dalam perkembangannya, national consciousness akan bangsa Indonesia juga masuk ke dalam pemikiran komunitas Arab Indonesia. Salah satunya dapat dilihat melalui beberapa tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang merupakan bagian dari komunitas ini.

Seperti Abdurrahman Baswedan sebagai jurnalis yang menjadi pahlawan terbentuknya dan menasionalkan bahasa indonesia, serta Faradj Martak yang menghibahkan rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 kepada Bung Karno yang kemudian dijadikan tempat proklamasi.

Komunitas Arab Indonesia sebagai Diaspora

Foto: Wikipedia
info gambar

Diaspora merujuk kepada komunitas dengan budaya berbeda yang berada di tengah masyarakat lain yang lebih banyak jumlahnya dan dengan budaya yang berbeda. Dalam diaspora, suatu kelompok masyarakat pembentuk diaspora masih melaksanakan kebudayaan asli mereka dan with varying degree masih memiliki ikatan batin yang dengan wilayah asal mereka (Davies dalam Gueron & Spevacek, 2008) (Gueron & Spevacek, 2008).

Walau hal ini bukan berarti mereka tidak memiliki loyalitas kepada wilayah dan entitas politik di tempat yang mereka tinggali sekarang. Beberapa penyebab umum diaspora ada pada aspek ekonomi (e.g. economic opportunities yang lebih tinggi di negara lain) dan aspek sosio-politik (e.g. persekusi karena perbedaan budaya, agama, pandangan politik, dan lainnya).

Komunitas Arab Indonesia mayoritas berasal dari tanah Hadramaut di Yaman. Ini yang menyebabkan istilah Hadrami menjadi istilah catch all bagi seluruh komunitas Arab-Indonesia.

Sebelum abad ke-19, orang Arab Hadrami telah memiliki budaya berlayar ke berbagai wilayah di area Samudera Hindia. Namun pada abad ke-19, emigrasi orang Hadrami meningkat drastis ke Asia Tenggara–termasuk ke Indonesia– karena berbagai faktor.

Beberapa di antaranya adalah meningkatnya jaringan transportasi dan ekonomi di Samudera Hindia seiring meningkatnya hegemoni Inggris, instabilitas politik di wilayah asal emigran, dan kondisi alam yang masih sulit sehingga mempersulit pertanian.

Mayoritas orang Hadrami yang beremigrasi adalah economic migrant, walaupun sebagian kecil lagi ada yang beremigrasi untuk kepentingan penyebaran agama Islam. Selain itu, mayoritas dari emigran ini tetap berhubungan dengan keluarga mereka di Hadramaut dan berkeinginan untuk pulang saat pensium. Namun, sebagian lagi memilih untuk hidup dan berkeluarga di tanah tujuan (Boxberger, 2002).

Aspek Budaya Komunitas Arab Indonesia

Bahasa menjadi hal menarik yang tak kalah penting untuk dibahas. Bahasa mereka terinspirasi dari profil mereka sebagai orang Arab, bahasa daerah tempat mereka tinggal, dan bahasa Indonesia yang "menjembatani" bahasa mereka dengan masyarakat secara luas.

Mereka biasa menggunakan bahasa ini kepada komunitas mereka saja, namun tidak jarang mereka perkenalkan pula kepada orang-orang non-Arab terdekat mereka yang dalam kesehariannya bersama mereka.

Salah satu contoh penggunaan bahasa mereka dari Jama’ah yang ada di Surabaya,"Ana Harman yukkul, bah, juk ana. Mangan sego sambel ndak papa." Yang artinya, "Saya ingin makanan, bro, saya lapar. Makan sego sambel (nasi sambal khas Surabaya) juga boleh."

Selain bahasa, terdapat aspek budaya yang mencolok dari komunitas Arab Indonesia. Kaum Hadrami di Indonesia umumnya terbagi atas dua komunitas berdasarkan nasabnya, yaitu Syech dan Ba'aluwiy. Ba'aluwiy adalah komunitas Hadrami yang lebih pada posisi terpandang dan dipercaya memiliki nasab terhubung langsung ke Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi Wa sallam ataupun dari Ali bin Abi Thalib (sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW).

Contoh dari marga-marga komunitas Ba’aluwiy adalah Syihab, Asegaf, dan Al Jufri. Sementara itu, beberapa contoh dari marga-marga komunitas Syech adalah Baswedan, Martak, dan Baraja.

Nasab yang jauh lebih dekat dengan Rasulullah SAW umumnya direpresentasikan oleh komunitas Ba’aluwiy yang berpakaian jauh lebih Arab, dan menggunakan panggilan yang lebih khusus untuk memanggil sesama (e.g. Habib). Cenderung berbeda dengan komunitas Syech yang pakaiannya dan cara panggilan terhadap sesama yang lebih mendekati dengan budaya masyarakat setempat.

Dalam hal pernikahan, komunitas Arab Indonesia masih memiliki komunalisme dan kinship yang cukup kuat dengan adanya dorongan untuk melakukan intra-marrying sesama komunitas Arab, terlebihnya pada komunitas Ba’aluwiy dibandingkan komunitas Syech. Pada acara pernikahan pula, biasanya dipertunjukkan Tarian Samar.

Dalam aspek agama dan pendidikan pada umumnya orang Arab Indonesia melaksanakan ajaran Islam yang lebih ortodox dibandingkan orang dari banyak etnis lainnya di Indonesia. Tendensi untuk menjalankan ritual beragama yang lebih ortodhox umumnya terdapat pada komunitas Syech dibandingkan komunitas Ba’aluwiy yang umumnya melakukan shalawatan dan qasidahan.

Aspek agama yang kuat ini menyebabkan keutamaan pendidikan agama–baik secara formal maupun informal– dalam orang Arab Indonesia pada umumnya. Berhubungan dengan aspek agama, umumnya orang Arab Indonesia sering menggunakan pakaian gamis sebagai pakaian sehari-hari yang bisa disebut sebagai “pengganti pakaian adat” seperti etnis-etnis lain di Indonesia.

Komunitas Arab Indonesia atau Jama’ah atau orang Hadrami terlepas dari wilayah asal mereka, hanyalah sebagian kecil dari banyaknya etnis dan budaya yang ada di Indonesia. Walaupun asal mereka secara geografis berbeda drastis dengan mayoritas etnis di Indonesia, namun ini bukan berarti mereka diekslusi total dari konsep kebangsaan Indonesia.

Sesungguhnya yang membuat setiap etnis di Indonesia sebagai bagian dari bangsa Indonesia bukanlah pada bahasa asli, etnis, agama, dan ras, namun keyakinan di dalam hati atas nasionalisme Indonesia.

Referensi: Al Qurtuby, S. (2017). ARABS AND "INDO-ARABS" IN INDONESIA: HISTORICAL DYNAMICS, SOCIAL RELATIONS AND CONTEMPORARY CHANGES. International Journal of Asia Pacific Studies, 13(2), 45-72 | Boxberger, L. (2002). ON THE EDGE OF EMPIRE: Hadhramawt, Emigration, and the Indian Ocean, 1880s–1930s. Albany: State University of New York Press | Davies, R. (2007). Reconceptualising the Migration-Development Nexus: Diasporas, Globalisation and the Politics of Exclusion. Third World Quarterly, 28(1), 59-76 | de Jonge, H. (1993). Discord and Solidarity among the Arabs in the Netherlands East Indies, 1900-1942. Indonesia(55), 73-90 | Gueron, J., & Spevacek, A. M. (2008). DIASPORA-DEVELOPMENT NEXUS: THE ROLE OF ICT. USAID KNOWLEDGE SERVICES CENTER (KSC).

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini