Jakob Oetama, Mata Kompas Jurnalisme Indonesia

Jakob Oetama, Mata Kompas Jurnalisme Indonesia
info gambar utama

Surat kabar nasional Indonesia, harian Kompas, tidak bisa lepas dari dua sosok pendirinya, Peter Kanisius Ojong dan Jakob Oetama. Keduanya sukses menerbitkan surat kabar yang berimbang, kredibel, independen, dan diterima oleh segala lapisan masyarakat.

Setelah P.K. Ojong wafat pada 31 Mei 1980, kendali Kompas sepenuhnya dipegang oleh Jakob Oetama. Selepas ditinggal Ojong, akhirnya Jakob menyetir bagian editorial dan bisnis sekaligus. Di tangan Jakob, Kompas terus memberi kabar walaupun terkadang dihadang situasi politik yang panas.

Tekun, ulet, dan pekerja keras, kecemerlangan Jakob membuat Kompas terus berkibar sebagai media populer di Indonesia. Meskipun mengaku pengetahuan bisnisnya nol, tetapi Jakob sanggup mengembangkan Kompas menjadi lebih besar dengan bidang usaha yang bervariatif, mulai dari media massa cetak maupun daring, toko buku, percetakan, penerbitan, radio, hotel, lembaga pendidikan, bentara budaya, penyelenggara acara, stasiun televisi, hingga universitas. Semuanya itu kemudian terhimpun dalam satu nama yakni grup Kompas Gramedia (KG).

Harian Kompas terbitan 6 September 1971.
info gambar

Dipandang sukses sebagai pengusaha, nyatanya Jakob lebih suka dibilang jurnalis. ''Wartawan adalah profesi, tetapi pengusaha karena keberuntungan,'' begitulah kata Jakob menunjukkan sisi rendah hatinya.

Sederhana, jujur, penuh integritas, dengan semangat humanisme tinggi lewat karyanya. Dari situ tak ayal Jakob Oetama seolah menjadi "mata kompas", sebuah sosok penuntun dan pedoman bagi jurnalisme di Indonesia.

Masa Kecil Pas-pasan

Jakob Oetama aslinya bernama Jakobus Oetama. Ia lahir di Desa Jowahan, yang berjarak 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 27 September 1931. Jakob adalah putra pertama dari 13 bersaudara pasangan Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo dan Margaretha Kartonah. Oleh saudara-saudaranya, dia lebih akrab dipanggil "Mas To".

Sandiyo, sang ayah, adalah seorang pensiunan guru yang sempat menjadi Kepala Sekolah Rakyat (SR) Kanisius yang letaknya tak jauh dari Candi Borobudur. Sang ayah menjadi guru setelah lulus dari Normaalschool di Ambarawa yang letaknya sekitar 40 kilometer dari Magelang. Ia merupakan sosok ayah yang mengajarkan kedisiplinan tinggi kepada anak-anaknya.

Mungkin Jakob dewasa dikenal sebagai konglomerat media. Namun, seperti orang berada kebanyakan, kesuksesan tidak digapai dengan instan dan tidak semuanya lahir dari keluarga yang disuapi sendok perak. Kesederhanaan lebih mengisi masa-masa kecil Jakob.

Potret Jakob Oetama ketika menjabat sebagai kepala editor Kompas.
info gambar

''Hidup ya pas-pasan, ya sekadar bisa hidup wajar, cukup dan tak berlebihan," kata Jakob Oetama pada acara talkshow bertajuk Jakob Oetama: The Living Legend di Hotel Santika, Jakarta, pada 2011 silam. ''Bagi saya hidup adalah perjuangan, dan pergulatan karena itu perlu belajar," ungkapnya seraya menyebut sosok ibu berperan penting dalam membentuk karakter hidupnya.

Sang ibu, Kartonah, merupakan seorang ibu rumah tangga biasa. Perkara kedekatan emosi, Jakob lebih dekat dengan ibunya. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang adiknya, I. Hendroatmodjo, Jakob selalu menuruti apa yang dikatakan oleh ibunya. "Ibu saya sering berdoa, dan hidupnya sangat penuh pengorbanan karena rajin berpuasa dan sabar," imbuhnya.

Ambisi Awal, Pastor dan Guru

Semua anak memiliki cita-cita, tidak terkecuali Jakob Oetama. Menjadi pastor adalah salah satu cita-cita Jakob kecil. Pikiran itu terlintas berkat kedekatannya dengan seorang pastor rekan ayahnya.

Jakob kecil mengenyam pendidikan dasarnya dalam model asrama, yakni di Sekolah Rakyat (SR) dan SMP Pangudi Luhur, Boro, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Asrama ini dikelola oleh para bruder—rohaniwan Katolik—dari Kongregasi Congregatio Fratrum Immaculatae Conceptionis (FIC). Letaknya kurang lebih 20 km ke arah selatan dari Candi Borobudur, Magelang. Pendidikan dalam bentuk asrama ini menanamkan pada Jakob kebiasaan membaca buku dan adat istiadat kesopanan.

Karena berkeinginan menjadi pastor, ia kemudian masuk ke seminari menengah, sekolah calon pastor setingkat SMA di Yogyakarta dan lulus dari seminari menengah pada 1951. Jakob kemudian melangkah ke jenjang seminari tinggi. Namun, hanya tiga bulan di seminari tinggi, Jakob memutuskan keluar. Ada cita-cita lain yang terbayang dalam benaknya. Ia ingin menjadi seorang guru seperti sang ayah. ''Jadi guru, cita-cita yang pernah muncul bersamaan dengan cita-cita mau jadi pastor,'' curhat Jakob dalam buku Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama karya St Sularto.

Jakob kemudian merantau ke Jakarta dan menjadi guru SMP di beberapa sekolah. Awalnya mengajar di SMP Mardi Yuwana, Cipanas, Jawa Barat, kemudian pindah ke Sekolah Guru Bagian B (SGB) di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ia lalu pindah lagi ke SMP Van Lith di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada tahun 1954-1956.

Terpikir Menjadi Sejarawan

Sambil mengajar SMP, Jakob mengikuti kuliah Sekolah Guru B-1 Ilmu Sejarah dan lulus tahun 1956. Setelah lulus ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta dan selesai pada tahun 1959. ''Kepedulian Pak Jakob terhadap permasalahan sosial politik yang terjadi di masyarakat terdorong oleh latar belakang beliau yang mencintai dan menguasai ilmu sejarah,'' jelas yang tertera dalam Jakob Oetama: The Living Legend yang dihimpun Corporate Human Resources Gramedia.

Saat lulus B-1 Sejarah dengan nilai rata-rata 9, Jakob mendapat rekomendasi dari gurunya, Pastor van den Berg SJ, untuk mendapat beasiswa di University of Columbia, Amerika Serikat. Jakob pun berharap ia bisa mendapat gelar doktor dan menjadi sejarawan atau dosen sejarah. Namun, tawaran ini tidak begitu saja ia terima. Pasalnya, keinginan untuk menjadi guru mulai goyah, sebab ia mulai berpikir untuk menjadi seorang wartawan.

Potret Jakob Oetama muda.
info gambar

Di tengah kebimbangan itu, Jakob berjumpa dengan Pastor J.W. Oudejans, OFM. Sang pastor menanyakan perihal masa depan karier Jakob. Mendengar jawaban Jakob ingin menjadi dosen, Pastor Oudejans lalu berkata, ''Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak.''

Salah satu kesimpulan yang muncul di benak Jakob kala itu adalah baik guru maupun wartawan keduanya sama-sama mengajar. Yang membedakan adalah perkara wilayah jangkauan, dosen untuk mahasiswa sementara wartawan untuk masyarakat. Untuk menambah keahliannya dan bidang jurnalistik dan komunikasi, Jakob akhirnya berkuliah di Jurusan Komunikasi Massa Fakultas Sospol Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ia selesaikan pada 1961.

Merintis Kompas dengan Modal Minim

Suatu ketika pada bulan April tahun 1961 di Yogyakarta, Jakob bertemu dengan P.K. Ojong, yang menawarinya untuk membuat majalah baru. Kala itu, Jakob berada pada tahun akhir kuliahnya di UGM. Pertemuan dengan Ojong ini akhirnya memantapkan langkah Jakob menjadi seorang wartawan.

Jakob bersama Ojong kemudian mendirikan majalah bulanan Intisari yang terbit pertama kali pada bulan Agustus 1963. Kantor pertama Intisari berada di Jl. Pintu Besar Selatan 86-88, di dekat Stasiun Jakarta Kota. Jakob lalu melepaskan diri dari pekerjaan di majalah Penabur.

Dua tahun berselang, pada tahun 1965, dengan dukungan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono, Frans Seda, serta Fransciscus Conradus Palaunsuka, Jakob dan Ojong ikut mendirikan harian Kompas. Nama harian "Kompas" diberikan sendiri oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Sukarno, setelah Frans Seda yang saat itu merupakan anggota kabinet, melaporkan rencana pendirian harian itu kepada Soekarno. Saat itu, nama harian yang hendak dipublikasikan adalah Bentara Rakyat, tetapi Sukarno punya nama yang dirasanya lebih baik. ''Aku akan memberi nama yang lebih bagus… Kompas! Tahu toh apa itu Kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba,'' kata orang nomor satu Indonesia itu kepada Frans Seda.

Infografik Jakob Oetama.
info gambar

Kompas terbit pertama kali pada hari Senin, 28 Juni 1965. Mengutip dari Tempo, Jakob pernah bercerita ihwal perjuangannya mendirikan Kompas. Bermula dari 5.000 oplah, Jakob bersama rekannya P.K. Ojong hanya mengantongi modal Rp 150 ribu plus mesin ketik pinjaman. Jakob menjadi Pemimpin Redaksi Kompas sejak pertama kali terbit hingga tahun 2000.

Jurnalisme Makna

''Reportase faktual yang memisahkan fakta dan opini ini berkembang sebagai reportase interpretasi, reportase yang mendalam, yang investigatif dan yang komprehensif. Reportase yang bukan sekadar fakta menurut urutan kejadiannya, bukan fakta secara linier, melainkan fakta yang mencakup. Disertai latar belakang, proses dan riwayatnya. Dicari interaksi tali-temalinya. Diberi interpretasi atas dasar interaksi fakta dan latar belakangnya. Ditemukan variabel-variabelnya. Dengan cara itu berita bukan sekadar informasi tentang fakta. Berita sekaligus menyajikan interpretasi akan arti dan makna peristiwa,'' jelas Jakob ketika meraih gelar doktor honoris causa (HC) di bidang komunikasi dari UGM pada 2003 silam.

Jurnalisme bagi Jakob bukanlah profesi sembarangan, bukan sekadar mengorek fakta dan memunculkannya ke permukaan. Namun menurutnya, jurnalisme harus diketahui dulu latar belakang, riwayat, dan prosesnya, serta hubungan kausal ataupun hubungan interaktif. Setelah mengetahui makna, dan tahu duduknya perkara, pencarian dan pendekatan solusi, perlu dipaparkan dengan pendekatan yang bermuatan keadilan, persamaan, serta pembelaan kepada yang lemah dan kepada yang banyak.

Menurut Jakob, berlaku suatu jurnalisme yang memiliki objektivitas yang subyektif. Subyektif artinya secara serius, secara jujur, secara benar, secara profesional mencoba mencari tahu secara selengkap-lengkapnya, mengapa peristiwa itu terjadi dan apa arti dan maknanya. Cara kerja jurnalisme yang ber-obyektivitas subyektif bukan saja terikat dan wajib mematuhi kode perilaku dan kode kerja wartawan, tapi juga ada hal-hal lain yang perlu dimiliki wartawan secara individual, secara kolegial dan secara bersama dalam lembaga tempat mereka bekerja.

Oleh karena itu, pencarian makna lewat karya jurnalistik tidak berhenti sampai sekadar laporan, tetapi juga disertai laporan komprehensif yang berusaha memaparkan seluruh persoalan berikut aneka macam latar belakang, interaksi, serta prosesnya.

Berkarya demi Banyak Orang

Nilai-nilai falsafah atau sikap batin jurnalistik dalam diri Jakob sangatlah menonjol. Sosoknya sederhana, jujur dan penuh integritas, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan segala persoalannya, sehingga membuatnya menjadi orang langka di lingkungan media saat ini. Tidak ada rasa egois, Jakob berkarya demi banyak orang. Harapannya Kompas yang didirikan dan dikembangkannya menjadi perusahaan yang mensejahterahkan bagi orang-orang bekerja di dalamnya.

"Pak Jakob pernah bercerita, Kompas itu ladang Tuhan. Ladang itu bukan milik saya," ungkap Sindhunata, pastor pemimpin misa arwah mendiang Jakob Oetama pada Kamis (10/9/2020). ''Ia belum berhenti gelisah sejauh Kompas belum benar-benar menjadi koran yang bisa ikut membangun bangsa. Ia gelisah, sejauh karyawan-karyawannya belum sejahtera seperti yang diimpikannya,'' kata Sindhu.

Selain karena kepribadiannya, ia juga mencolok dengan kemampuannya dalam berkarya baik lewat tulisan, pemikiran, dan penghargaan. Salah satu penghargaan yang diraihnya ialah Penghargaan Achmad Bakrie XVII pada tahun 2019. Jakob Oetama dinilai bisa mengembangkan sistem jurnalisme yang memungkinkan bertahan pada masa pemerintahan otoriter.

Jakob Oetama
info gambar

Jakob Oetama berpulang pada usia 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9) pukul 13.05 WIB. Ia dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading sejak 22 Agustus. Sebelumnya ia masuk rumah sakit dalam keadaan kritis dan mengalami gangguan multiorgan. Kondisi Jakob Oetama sempat membaik di tengah perawatan. Namun, karena faktor usia dan penyakit komorbid, kondisi Jakob Oetama memburuk dan akhirnya meninggal dunia. Sehari setelahnya, ia dimakamkan dalam tata cara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang dipimpin mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.

---

Referensi: Kompas.com | Kompas.id | Tribunnews.com | Tempo | St Sularto, "Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini