Kisah Burung Garuda, Bebaskan Sang Ibu hingga Jadi Lambang Negara

Kisah Burung Garuda, Bebaskan Sang Ibu hingga Jadi Lambang Negara
info gambar utama

Garuda dalam khasanah sejarah nusantara muncul dalam berbagai mitologi yang diajarkan dalam agama Hindu. Garuda merupakan burung gagah perkasa yang merupakan tunggangan dari Dewa Wisnu.

Garuda digambarkan memilki tubuh berwarna emas, berwajah putih, dan bersayap merah. Paruh serta sayapnya seperti elang, tapi tubuhnya seperti manusia. Garuda memiliki tubuh yang besar, bahkan bisa menutupi cahaya matahari yang menyinari bumi. Kisah burung Garuda ditemukan dalam kitab Mahabrata, tepatnya bagian pertama, yaitu Adiparwa.

Diceritakan bahwa Garuda merupakan anak dari Begawan Kasyapa. Begawan ini memiliki dua istri, yaitu Sang Kadru dan Sang Winata. Setelah sekian lama menikah, kedua istri Begawan Kasyapa tidak memiliki seorang anak.

Akhirnya Kasyapa memberikan 1000 telur kepada sang Kadru dan 2 telur untuk Winata. Tak lama kemudian telur Kadru menetas menjadi 1000 naga. Sementara, dua telur Winata tak kunjung menetas.

Merasa malu, Winata akhirnya memecah satu telur tersebut. Keluarlah seekor burung kecil yang belum sempurna bentuknya, cacat tak berkaki, diberi nama Aruna yang kelak dikisahkan menjadi kusir Dewa Matahari atau Surya. Sementara satu telur lagi dijaganya baik-baik oleh Winata.

Suatu hari, Winata kalah bertarung dengan Kadru. Kadru yang curang membuat Winata harus menjadi budak dari 1000 ekor naga. Lalu, setelah sekian lama telur yang dirawat oleh Winata pun menetas menjadi burung bernama Garuda.

Sebagai anak yang berbakti kepada ibunya, Garuda sangat marah atas kelicikan para naga yang telah membuat kebohongan besar atas diri Winata. Dengan kemarahan yang meluap, Garuda menyerang para naga.

Berkat memiliki kekuatan yang seimbang, pertempuran tersebut berlangsung dalam waktu yang lama. Karena pertarungan yang lama, para Naga bersedia memberikan pengampunan kepada Winata asal Garuda bisa membawa air kehidupan milik dewa.

Akhirnya sang Garuda menyanggupi permintaan itu dan pergi ke khayangan untuk mendapatkan air kehidupan. Saat perjalanan menuju khayangan, Dewa Wisnu pun bertanya alasan burung besar itu pergi ke khayangan.

Setelah dijelaskan, Dewa Wisnu pun berjanji akan memberikan air kehidupan dengan syarat Garuda mau menjadi tunggangannya. Setelah diberi air kehidupan, Garuda pun kembali untuk membebaskan ibunya.

Namun, sebelum diberi kepada para Naga, air kehidupan yang ditaruh diatas alang-alang itu diambil oleh Dewa Indra. Saat diambil, percikan masih tersisa di atas alang-alang, para Naga pun berebut hingga membelah lidahnya.

Semangat Garuda Jadi Inspirasi Lambang Negara

Formasi lambang negara dan bendera merah putih | Foto: wajibbaca.com
info gambar

Pada 10 Januari 1950, dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hadjar Dewantoro, M A Pallauppesy, Moh Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka sebagai anggota.

Panitia ini bertugas untuk menyeleksi usulan untuk rancangan lambang negara yang nantinya akan dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Menteri Penerangan, Priyono kemudian mengumumkan hasil sayembara perancangan lambang negara yang diikuti banyak peserta, dengan dua kandidat untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah, yaitu rancangan Sultan Hamid II dan Muhammad Yamin.

Merujuk keterangan Muhammad Hatta dalam "Bung Hatta Menjawab", pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan adanya pengaruh dari Jepang.

Setelah rancangan terpilih, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sultan Hamid II terus melakukan dialog intensif untuk menyempurnakan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".

Bung Karno pun pertama kali memperkenalkan lambang negara pada khalayak umum pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indies Jakarta. Lambang tersebut terus disempurnakan hingga 20 Maret 1950 didapatlah bentuk final dari lambang negara.

Soekarno pun memerintahkan pelukis Dullah, untuk melukis hasil penyempurnaan final lambang Garuda Pancasila dengan menambah skala ukuran dan tata warna. Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia dan desainnya tidak berubah hingga sekarang.

Kegigihan Garuda dalam membebaskan ibunya dari belenggu perbudakan inilah yang kemudian diadopsi oleh para Founding Father. Garuda bermakna sebagai simbol pembebasan ibu pertiwi dari belenggu perbudakkan dan penjajahan.

Dengan lambang Garuda yang gagah perkasa, para pendahulu berharap Indonesia akan menjadi bangsa besar yang bebas dalam menentukan nasib dan masa depannya sendiri.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini