Ario Suryo, Berjuang Melawan Jepang dan Sekutu dari Kursi Kepemerintahan

Ario Suryo, Berjuang Melawan Jepang dan Sekutu dari Kursi Kepemerintahan
info gambar utama

Kawan GNFI pasti tahu, di Indonesia setiap tanggal 10 November dikenal sebagai Hari Pahlawan Nasional. Tanggal tersebut dijadikan hari spesial untuk mengenang para pejuang yang bertempur melawan Belanda dan sekutu Inggris di Surabaya. Peristiwa tersebut menjadi yang pertama kalinya bagi pasukan Indonesia bentrok dengan pasukan asing pascaproklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.

Banyak tokoh yang terlibat dalam peristiwa 10 November. Sebut saja yang maju di medan pertempuran ialah Sutomo - atau lebih dikenal dengan panggilan Bung Tomo - dan Mayjen Sungkono.

Selain Bung Tomo dan Sungkono yang berperan mengkomandoi para pemuda yang berjuang di garis depan, juga ada yang berjuang di balik layar, yakni Ario Suryo. Menjabat di pemerintahan, Suryo memberikan andil besar dalam mengobarkan semangat arek-arek Suroboyo lewat sambungan radio. Keberaniannya menentang penjajahan bahkan sudah ia perlihatkan sejak zaman pendudukan Jepang di Tanah Air.

Keturunan Orang yang Bekerja di Kepemerintahan

Raden Mas Tumenggung Ario Suryo (ejaan lama: Soerjo) dilahirkan di Magetan, Jawa Timur, pada 9 Juli 1895. Pada peristiwa Pertempuran Surabaya, ia bukanlah tokoh militer seperti Bung Tomo dan Sungkono, melainkan Gubernur Jawa Timur (Jatim) pertama. Meskipun

Ayah Suryo bernama Raden Mas Wiriosumarto yang menjabat sebagai ajun jaksa di Magetan. Sementara itu, ibunya bernama Raden Ayu Kustiah yang merupakan adik perempuan Raden Ronggo Kusnodiningrat, Bupati Madiun pada waktu itu.

Suryo memulai pendidikan sekolahnya di Tweede Inlandsche School (TIS) atau "Sekolah Ongko Loro" di Magetan. Ia kemudian dipindahkan ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS, sekolah dasar khusus bangsawan pribumi). Setelah lulus dari HIS, Suryo dikirim oleh orang tuanya ke Opleidings School Voor Inlandsche (Bestuurs) Ambtenaaren (OSVIBA atau OSVIA) yakni sekolah pendidikan kepamongprajaan untuk anak-anak Indonesia. Saat itu ia mengikuti OSVIBA di Madiun dan selesai pada 1918. Ia kemudian ditempatkan di Ngawi sebagai gediplomeerd Inlandsche bestuurs ambtenaar (GAIB) yaitu pegawai pamong praja setingkat di bawah camat.

Ario Suryo bersama keluarga besarnya.
info gambar

Pada tahun 1923, Suryo memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan di Politie School (Sekolah Polisi) di Sukabumi, Jawa Barat. Beberapa tahun kemudian (1930), Suryo mendapat kesempatan belajar untuk memperluas dan meningkatkan pengetahuannya tentang ilmu pemerintahan dan kepamongprajaan selama dua tahun di Bestuurschool atau Bestuursacademie di Batavia (Jakarta). Pada tahun 1933, Suryo dipindahkan lagi menjadi wedana di Porong, Sidoarjo.

Pada tahun 1938, Suryo kembali ke Magetan untuk menduduki jabatannya sebagai bupati Magetan. Suryo dikenal sebagai seorang bupati yang berani dan tegas. Sikapnya selalu terbuka dan bersifat melindungi sehingga ia sangat dicintai oleh rakyat Magetan.

Berani Memimpin Rakyat pada Zaman Jepang

Pada waktu tentara Jepang menyerbu dan menduduki tanah air, Suryo masih menjabat bupati Magetan. Pada waktu itu banyak rakyat yang ketakutan. Kota Magetan sunyi senyap. Orang-orang takut keluar rumah, apalagi anak-anak gadis dan kaum wanita, tetapi Suryo sebagai pemimpin pantang terlihat takut dan selalu mengusahakan agar rakyatnya juga jangan takut kepada tentara Jepang.

Di tengah situasi tersebut, Suryo tetap berani setiap pagi sengaja berjalan-jalan di sekitar alun-alun Magetan. Suryo tidak sendiri, ia melakukannya bersama istrinya. Bukan tanpa alasan keduanya melakukan hal tersebut. Suryo berharap dengan memunculkan diri di tengah pusat kota yang sedang diduduki Jepang membuat rakyat Magetan tahu bahwa bupati mereka masih ada dan tidak kabur meninggalkan mereka, sehingga rakyat tidak perlu takut.

Rakyat Magetan yang awalnya takut akhirnya tersadar setelah melihat bupati mereka berada di tengah-tengah mereka. Banyak rakyat yang mulai berani keluar rumah untuk menjalankan tugas kewajiban mereka sehari-hari. Rakyat Magetan menaruh kepercayaan kepada Suro sebagai bupati mereka yang terkenal berani membela rakyatnya. Hal ini pun diketahui dan sangat dihargai oleh para pembesar militer Jepang.

Namun, sebelum menaruh rasa hormat, anggota militer Jepang pernah bentron dengan Suryo. Konon pada masa pendudukan Jepang saat itu, Suryo yang sedang menjabat sebagai bupati Magetan kedatangan tamu seorang perwira Jepang. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba si perwira Jepang yang datang bareng ajudannya itu marah-marah dengan bahasa Jepang yang tidak dimengerti oleh Bupati. Sambil marah, si perwira menghunuskan pedangnya.

Lukisan Ario Suryo.
info gambar

Suasana menjadi tegang karena militer Jepang terkenal dengan kekejamannya. Namun, Suryo tetap tenang. Seolah tak mau kalah, dengan suara lantang ia melontarkan bahasa Jawa yang kemungkinan besar tidak dimengerti si perwira. ''Tanpa sebab musabab dan tanpa memberi salam kau datang dan marah. Saya tidak bersalah dan saya tidak takut,'' kata Suryo sebagaimana diceritakan kembali dalam buku Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional, Volume 2 yang dihimpun Departemen Sosial RI. Perwira Jepang itu terdiam, menyarungkan pedangnya kembali, lalu melangkah meninggalkan kantor bupati.

Sikap dan ketegasan itu menimbulkan kekaguman pada kalangan tentara Jepang. Suryo pun menjabat sebagai syucokan atau Residen Bojonegoro pada 10 November 1943. Jabatan syucokan yang dipegangnya saat itu sama dengan gubernur, tetapi daerah kekuasaannya sama dengan karesidenan. Pada waktu itu tidak banyak orang Indonesia yang menduduki jabatan seperti yang dipangku tokoh pejuang ini.

Pada waktu pemerintah pendudukan Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Suryo terpilih sebagai anggota yang diangkat oleh pemerintah pendudukan Jepang karena jabatannya sebagai syucokan Bojonegoro. Selepas proklamasi kemerdekaan RI, Suryo menjabat gubernur Jawa Timur. Ia turut mengobarkan semangat para pejuang dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Gubernur Jawa Timur Pertama pada Situasi Perang

Saat kemerdekaan Suryo diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur. Pada 25 Oktober 1945, Inggris yang menjadi sekutu Belanda mendarat di Surabaya di bawah kepemimpinan Brigadir Aubertin Walter Sothern (AWS) Mallaby meminta agar Suryo datang ke kapal untuk berunding. Namun, Suryo menolak dengan alasan Inggris harus menghargai pemerintah Indonesia yang berdaulat. Saat itu Inggris menuntut agar orang Indonesia yang memiliki senjata menyerahkannya kepada Inggris dan menyita mobil-mobil preman. Sore harinya para pemuda menyerang pos-pos pertahanan Inggris, Mallaby berjanji tidak akan melucuti pemuda, tetapi janji itu dilanggarnya sendiri. Para pemuda melawan dan pertempuran berlangsung sampai Mallaby tertembak mati.

Pada 8 November 1945 Suryo menolak datang ke kantor Mansergh, karena dalam surat undangan tertulis Tuan RMTA Suryo dan tidak menyebut Gubernur Suryo. Inggris diminta harus menghormati pemerintah Indonesia. Namun kemudian, Inggris mengultimatum penduduk Surabaya agar segera menyerahkan senjata api selambat-lambatnya tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi dengan ancaman akan menggerakkan kekuatan darat, laut dan udara untuk menguasai Surabaya.

Infografik Ario Suryo.
info gambar

Pada 9 November 1945 malam Suryo berpidato di radio agar rakyat tetap tenang menunggu hasil perundingan Menlu Ahmad Subarjo dengan Inggris yang ternyata gagal. Akhirnya rakyat sepakat untuk menolak ultimatum Inggris. Puncak ketegangan pun terjadi pada 10 November 1945. Surabaya diserang dari darat, laut maupun udara. Suryo lantas memindahkan pemerintahan ke Mojokerto kemudian ke Malang.

''Berulang-ulang telah kita katakan, bahwa sikap kita ialah lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum,'' tegas Suryo.

Tewas di Tangan PKI dan Menjadi Pahlawan Nasional

Pada Juni 1947, Suryo diangkat menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) di Yogyakarta. Jabatannya lalu naik menjadi Ketua Dewan menggantikan Ahmad Wiranatakusumah yang jatuh sakit. Kariernya di kepemerintahan tampak lancar, tetapi sedihnya usianya di dunia tidak lama. Suryo meninggalkan dunia dengan cara yang nahas.

Bermula pada 18 September 1948, Partai Komunias Indonesia (PKI) sedang melakukan pemberontakan di Madiun dan berhasil menguasai beberapa kota lain. Pemerintah pun turun tangan meskipun kekacauan masih belum tertangani seluruhnya. Dalam kondisi seperti itulah, Suryo pada 9 November 1948 berangkat dari Yogyakarta menuju Madiun. Ia bermaksud menghadiri peringatan 40 hari meninggalnya adiknya yang dibunuh orang-orang PKI.

Sejumlah sahabat, termasuk Wakil Presiden Mohammad Hatta, meminta agar Suryo mengurungkan maksudnya. Namun, Suryo ngotot pada pendiriannya. Tanda-tanda kurang baik terlihat. Baru saja tiba di luar Kota Yogya, ban mobilnya pecah. Sesudah itu mobil kehabisan bensin. Suryo terpaksa dua kali kembali ke kota untuk menambal ban dan untuk mengisi bensin. Meski teman-temannya mengatakan bahwa itu pertanda buruk, Suryo tidak mempercayainya.

Patung Gubernur Suryo di Ngawi.
info gambar

Suryo tiba sore hari di Surakarta/Solo. Sudiro - yang kelak menjadi Gubernur/Wali Kota Jakarta - yang saat itu menjabat wakil residen Surakarta menahan Suryo supaya bermalam dan perjalanan diteruskan esok hari. Suryo melanjutkan perjalanannya ke Madiun pagi-pagi sekali. Di Desa Gendingan, sekali lagi diperingatkan supaya Suryo tidak meneruskan perjalanan. Namun, peringatan itu juga diabaikan.

Di Desa Bogo, Kedunggalar, Ngawi, mobil Suryo berpapasan dengan sisa-sisa gerombolan PKI. Pada saat itu pula dari arah Madiun datang mobil yang ditumpangi oleh Komisaris Besar (Kolonel) Polisi M Duryat dan Komisaris (Mayor) Polisi Suroko dalam perjalanan ke Yogyakarta. Kedua mobil itu diperintahkan berhenti oleh gerombolan PKI yang dipimpin Maladi Jusuf.

Suryo, Duryat, dan Suroko diperintahkan turun dari mobil. Mereka dibawa ke hutan. Di tempat inilah Gubernur Suryo dan dua orang lainnya itu dihabisi PKI.

Pada 13 November, jenazah Suryo ditemukan penduduk di Kali Kakah, Dukuh Ngandu, Desa Bangunrejo, Kedunggalar, Ngawi. Jenazahnya dievakuasi dan dibawa ke Madiun untuk dimakamkan di Sawahan, Desa Kepolorejo, Magetan, kampung istrinya. Banyak kalangan bersedih dan mengecam pembunuhan itu sebagai sesuatu yang seharusnya tak dilakukan kepada sosok yang sangat berjasa kepada Indonesia, terutama saat memimpin Jawa Timur di tengah peperangan melawan tentara Inggris pada Oktober-November 1945.

Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah RI menganugerahkan gelar pahlawan nasional pada 1964. Setelah itu, namanya pun disematkan pada beberapa landmark kota, seperti jalan dan patung. Salah satunya Patung Gubernur Suryo di Ngawi, kota tempat ia terakhir kali mengembuskan napas.

---

Referensi: Kominfo.Magetan.go.id | Depdikbud, "Tokoh-tokoh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Volume 1" | Sri Sutjiatiningsih, "Gubernur Suryo, Pahlawan Nasional" | Departemen Sosial RI, "Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional, Volume 2"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini