Sejarah Hari Ini (24 September 1526) - Sultan Suriansyah, Raja Banjar Pertama yang Peluk Islam

Sejarah Hari Ini (24 September 1526) - Sultan Suriansyah, Raja Banjar Pertama yang Peluk Islam
info gambar utama

Sultan Suriansyah adalah Raja Banjar pertama yang memerintah pada 1520-1540 (salah satu sumber Belanda menyebutkan sejak 1500).

Sebelumnya, ia bernama Pangeran Samudera atau lengkapnya Pangeran Jaya Samudera.

Ia adalah putera dari Puteri Galuh Beranakan (Ratu Intan Sari) yaitu puteri dari Maharaja Sukarama dari Kerajaan Negara Daha.

Nama ayahnya adalah Raden Mantri Alu, keponakan Maharaja Sukarama.

Nama "Suriansyah" sendiri sering dipakai sebagai nama anak laki-laki suku Banjar.

Pada 24 September 1526 atau pada tanggal 6 Zulhijjah 932 Hijriah, Pangeran Samudera memeluk agama Islam.

Gelar Sultan Suryanullah (Matahari Allah) diberikan seorang Arab yang pertama datang ke Banjarmasin, beberapa waktu setelah Pangeran Samudera diislamkan utusan Kesultanan Demak.

Masa kepemimpinan Sultan Suriansyah merupakan masa awal perkembangan Islam di Kalimantan.

Tanggal ia menjadi mualaf lalu dijadikan Hari Jadi Kota Banjarmasin.

Gedung Sultan Suriansyah di Banjarmasin.
info gambar

Nama Sultan Suriansyah terus dikenang sampai sekarang.

Beberapa bangunan di Kota Banjarmasin kita bisa menjumpai namanya, dari mulai gedung serba guna, rumah sakit umum daerah, sampai masjid.

Untuk yang disebutkan terakhir, Masjid Sultan Suriansyah yang terletak di Komplek Makam Sultan Suriansyah di Kecamatan Banjarmasin Utara pinggir Sungai Kuin - anak Sungai Barito, dinilai sebagai masjid tertua di Kalimantan Selatan karena didirikan pada masa pemerintahan sang sultan.

Masjid Sultan Suriansyah, tertua di Pulau Kalimantan.
info gambar

Sekitar 400 meter atau lima menit dari masjid tersebut, makam Sultan Suriansyah juga menjadi salah satu tempat yang bernilai sejarah.

Pada waktu diadakan pemugaran (1889/1990 - 1990-1991), diketahui bahwa cungkup makam didirikan di atas pondasi dari bata merah yang terdiri atas lima lapis.

Batu bata merah inilah yang membuat ia juga dijuluki Panembahan Batu Habang (Habang/Abang berarti merah) atau Susuhunan Batu Habang.

---

Referensi: Kebudayaan.Kemdikbud.go.id | I.G.N. Anom, Sri Sugiyanti, Hadniwati Hasibuan, "Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I" | Mansyur, "Bandjarmasin Tempo Doeloe: Sketsa Kecil dari Bingkai Masa Lalu" | Ter Lands-drukkerij, "Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, Volume 23,Masalah 1;Volume 52"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini