Sarat Nuansa Romantis, 5 Tarian Nusantara Ini Lambangkan Kisah Asmara Dua Sejoli

Sarat Nuansa Romantis, 5 Tarian Nusantara Ini Lambangkan Kisah Asmara Dua Sejoli
info gambar utama

Kawan GNFI perlu mengetahui bahwa sebuah kisah romantika antara dua sejoli tak hanya sebatas ditampilkan pada dunia seni peran belaka. Melainkan juga dapat divisualisasikan dalam bentuk kesenian lain, seperti seni tari.

Sejatinya di Indonesia sendiri yang mana telah tersohor sebagai negeri yang kaya akan budaya, visualisasi sebuah kisah dalam tarian memanglah sudah lumrah terjadi. Sebab jika ditelisik lebih jauh, hakikat seni tari adalah mengkombinasikan antara gerakan dan musik dengan tujuan untuk menyampaikan makna tertentu kepada para audiens.

Kisah asmara dua pasangan kekasih tersebut dikemas dengan gerakan indah yang penuh sarat akan makna serta filosofi yang mendalam. Sehingga, tarian tersebut kerap mengundang decak kagum dari para audiens.

Tari Karonsih dari Jawa Timur

Ilustrasi tarian karonsih | Foto: gramho.com
info gambar

Banyak orang yang mengetahui bahwa pulau Jawa memiliki beragam kisah cinta indah melegenda. Di antaranya kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan, Jaka Sekar dan Rara Anteng, serta Ken Arok dan Ken Dedes. Adapun dalam tari Karonsih juga mengangkat sebuah kisah asmara yang tak kalah romantis.

Diketahui, kata “Karonsih” sendiri diambil dari bahasa Jawa, yaitu kekaron atau sakloron tansah asih yang memilki arti keduanya saling mengasihi dalam cinta.

Menurut sejarahnya, tari Karonsih ini melambangkan kisah cinta antara Dewi Sekartaji atau biasa disebut Putri Galuh Candra Kirana dengan suaminya, Panji Asmara Bangun. Dikisahkan dalam tarian tersebut bahwa Panji Asmara Bangun tengah melakukan penyamaran dengan cara meninggalkan kraton, guna mengetahui keadaan Kerajaan Kediri yang sebenarnya serta melihat ketulusan cinta oleh Dewi Sekartaji.

Tak tinggal diam, sang istri, Dewi Sekartaji lalu berupaya untuk mencari keberadaan suaminya tersebut. Setelah mengetahui bahwa Dewi Sekartaji begitu mencintainya, akhirnya Panji Asmara Bangun memutuskan untuk kembali ke kraton.

Sesampainya Panji Asmara Bangun di kraton, Dewi Sekartaji merasa kesal karena selama ini ketulusan cintanya telah diragukan. Panji Asmara Bangun yang tengah didera jutaan rindu kepada istrinya terus merayu Dewi Sekartaji dengan tak berhenti menari sembari memberikan istrinya setangkai bunga. Akhirnya, Dewi Sekartaji pun luluh dan memeluk suaminya, Panji Asmara Bangun.

Tari Karonsih biasanya ditampilkan pada saat pesta pernikahan dengan mengusung adat Jawa. Tarian ini dibawakan setelah kedua mempelai duduk di pelaminan. Adapun, terselip sebuah harapan jika tari Karonsih ini dibawakan di pesta pernikahan, kisah sang pengantin akan berakhir indah seperti halnya kisah asmara Dewi Sekartaji dan Panji Asmara Bangun.

Tari Lalayon dari Maluku Utara

Ilustrasi tarian lalayon | Foto: indonesiakaya.com
info gambar

Tari Lalayon atau tari Lala berasal dari Halmahera timur. Kata “Lala” sendiri diambil dari ucapan dzikir yang berbunyi LailahaillaAllah (tiada Tuhan selain Allah).

Dahulu, pernah terjadi suatu peristiwa pada keluarga mubalig yang menyebabkan terenggutnya anak dan istri dari mubalig tersebut. Sehingga sang mubalig mencoba untuk bangkit dengan berdzikir di tepi pantai.

Lalu, ia dihampiri oleh burung laut yang seraya membantunya dalam mencari ikan di laut. Bersamaan dengan itu, terdengarlah suara dahan kayu yang saling bergesekan, membuatnya hampir mirip dengan suara biola. Sejak saat itulah cikal bakal munculnya tarian Lala dalam budaya masyarakat Gamrange.

Tari Lalayon harus ditarikan secara berpasang-pasangan, sebab makna dan pesan yang terkandung dalam tarian ini adalah untuk menyampaikan rasa kasih dan cinta terhadap orang tersayang. Adapun irama Melayu yang mendayu-dayu juga turut serta mengiringi setiap gerakan indah dari tari Lalayon ini.

Biasanya, tari Lalayon ditampilkan pada acara formal baik di pesta pernikahan, maupun perayaan adat. Santer dikenal sebagai tarian yang melambangkan kisah romantis antara dua sejoli, ternyata tarian ini juga dapat bermakna religius sebagai ungkapan tanda syukur atas berkah dan anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan YME pada kehidupan selama ini.

Dalam pementasan tari Lalayon, terdapat beberapa pasangan yang terdiri dari penari pria dan wanita. Mereka secara bersamaan memasuki pelataran tari yang dipentaskan, tak lama keduanya pun saling bertukar pandang dengan tatapan manis nan menawan. Setelah itu, para penari pria melakukan gerakan tarian yang seakan-akan seperti menggoda penari wanita, yang kemudian oleh para penari wanita dibalas dengan senyuman yang hangat.

Selanjutnya, para pasangan penari akan menari dengan gerakan yang berputar-putar seolah mereka sedang bercengkerama antara satu dan yang lain. Tak jarang penonton yang melihat pertujukan tari tersebut akan terkesima dengan setiap gerakan yang dibawakan oleh para penari yang sarat akan makna cinta dan kasih sayang.

Yang lebih membuat bangga lagi adalah generasi muda di Maluku yang ikut andil dalam melestarikan tari Lalayon ini. Bahkan, mereka juga sangat mendukung tari Lalayon untuk senantiasa dibawakan dalam berbagai jenis acara.

Tari Tumatenden dari Sulawesi Utara

Ilustrasi Tari Tumatenden | Foto: negerikuindonesia.com
info gambar

Tari Tumatenden adalah tarian yang diangkat berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di Minahasa, Sulawesi Utara. Alkisah zaman dahulu ada seseorang bernama Mamanua yang terkenal rajin dan ulet dalam mengolah perkebunan miliknya.

Pada suatu hari Mamanua pergi ke kaki gunung Temporok yang bernama Klabet. Di tempat itu, ia tak sengaja bertemu dengan kesembilan bidadari cantik yang tengah mandi di sebuah kolam.

Tiba tiba, ia mendapati bahwa para kesembilan bidadari cantik mencuri hasil kebun miliknya. Lalu, timbul niat jahat dari diri Mamanua untuk mengambil salah satu selendang yang digunakan bidadari untuk terbang. Rupanya selendang yang Mamanua ambil adalah milik bidadari yang paling bungsu, yaitu Lamalandung.

Hingga pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menikah. Tak lama setelah itu mereka dikarunia seorang anak yang bernama Walansendow. Seiring berjalannya waktu, Lamalandung meninggalkan sang suami beserta anak dikarenakan suatu hal yang krusial.

Mamanua yang tengah dirundung kesedihan mencoba untuk membuat kolam dengan harapan para bidadari dapat turun lagi dari kahyangan. Kolam tersebut dinamakan Tumatenden yang juga menjadi nama khas dari tarian romantis, tari Tumatenden.

Kawan GNFI, tari Tumatenden biasanya ditarikan oleh 7 atau 9 penari wanita, dan seorang penari pria. Pada saat pertunjukan tari ini, penari pria memakai kostum petani, sementara para penari wanita memakai kostum bidadari yang anggun lengkap dengan selendang untuk menari. Mengisahkan kisah romantik antara rakyat pribumi dengan bidadari dari kahyangan, tari Tumatenden ini sering dipentaskan dalam pernikahan adat, upacara adat dan festival budaya daerah.

Tari Lenggok Mak Inang dari Sumatera Utara

Ilustrasi tari lenggok mak inang | Foto: sumateradances.com
info gambar

Tari Lenggok Mak Inang merupakan tarian tradisional melayu yang berasal dari Tanjungbalai, Sumatera Utara. Tari ini menceritakan perjalanan kisah cinta antara dua hati hingga berlangsung ke pelaminan.

Tari Lenggok ditarikan oleh dua orang penari yang terdiri dari pria dan wanita. Kedua penari tersebut memperagakan gerakan lengkap mulai dari kisah saat mereka pertama kali bertemu, hingga mereka saling jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk sehidup- semati dalam ikatan suci pernikahan.

Tarian ini biasa dibawakan oleh masyarakat Maluku Utara pada upacara maupun acara-acara adat. Dalam penyelenggaraan upacara maupun acara adat di Maluku Utara ini dimana juga dapat berfungsi sebagai ajang untuk berkumpul bersama, termasuk para muda-mudi yang sedang dalam fase mencari pasangan hidup. Adapun proses dalam mencari jodoh inilah yang kemudian memprakarsai lahirnya gerakan-gerakan yang indah dalam tari Lenggok Mak Inang ini.

Tari Bopureh dari Kalimantan Barat

Ilustrasi tari bopureh | Foto: indonesiakaya.com
info gambar

Sedikit berbeda dari kisah cinta yang terkandung pada tarian-tarian sebelumnya, kisah cinta dari tari Bopureh ini berakhir dramatis sebab terhalang oleh perbedaan adat antara dua insan manusia.

Pada budaya suku Dayak yang mendiami wilayah Kalimantan Barat terdapat sebuah pantangan untuk tidak menikahi seseorang yang berlainan suku. Awal kemunculan tari Bopureh adalah sebagai bentuk visualiasasi dari sebuah puisi yang bertemakan kisah kasih tak sampai.

Dalam bahasa Jankang, Bopureh memiliki arti silsilah. Tarian ini mengisahkan kisah romantis yang berujung sedih dimana seorang pemuda dari suku Dayak Jangkang yang jatuh cinta pada seorang dara Kanayan yang berbeda adat.

Tari ini biasanya dibawakan oleh sekitar 10 penari yang terdiri dari 8 penari yang berperan sebagai pelengkap dan sisanya yang berperan sebagai pasangan kekasih. Kostum yang dipakai oleh tiap penari pun sangatlah totalitas.

Mulai dari pakaian adat milik suku Dayak Kalimantan barat yang sebagian telah dimodifikasi, dan tak ketinggalan mahkota burung tingang yang menjadi simbol kebanggaan penari pria suku Dayak Kalimantan Barat.

Saat pementasan, para penari wanita membentuk formasi lingkaran dengan satu penari pria sebagai pusatnya. Selain itu juga terdapat properti kain warna-warni yang digunakan sebagai simbolisasi atas keberagaman suku Dayak yang ada.

Namun, dibalik indahnya kain warna-warni yang menyimbolkan keberagaman tersebut, tersimpan sebuah makna tersirat akan kisah asmara antara dua sejoli yang tak mungkin bisa bersatu akibat dilanda perbedaan suku.

Nah, itu dia 5 daftar tarian khas nusantara yang mengangkat tema romantis dalam kisah cinta antara dua sejoli. Sangat inspiratif dan menarik, bukan?*

Sumber : Infobudaya.net | Indonesiakaya.com | NegerikuIndonesia.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini