Makna Setiap Sudut dan Setiap Helai Bunga Riasan Pengantin Adat Sunda

Makna Setiap Sudut dan Setiap Helai Bunga Riasan Pengantin Adat Sunda
info gambar utama

Salah satu yang menjadi ciri khas pengantin adat Sunda adalah pada riasan mempelai wanitanya, yaitu mahkota khas Sunda yang disebut siger. Tapi tahukah Kawan GNFI kalau sebenarnya ada dua jenis ciri khas riasan pengantin adat Sunda?

Sebenarnya ada pula pengantin wanita yang tidak menggunakan siger. Riasan jenis ini disebut Sunda Putri, sedangkan riasan yang menggunakan siger disebut Sunda Siger. Selain hiasan kepala, ternyata rangkaian bunga yang digunakan oleh dua jenis riasan ini pun berbeda. Bahkan motif batik Sunda-nya pun berbeda.

Berikut penjelasan perbedaan di antara kedua riasan adat Sunda ini.

Sunda Putri

Pengantin Sunda Putri tidak menggunakan siger sebagai hiasan kepala pengantin wanita. Biasanya menggunakan mahkota berukuran kecil yang disematkan di atas sanggul. Mahkota kecil ini disebut dengan Mahkota Gunungan yang berbentuk pohon hayat.

Mahkota Gunungan ini harus membentuk tiga undukan yang melambangkan Cipta, Rasa, dan Karsa, yang dimaknai sebagai dimulainya kehidupan baru berumah tangga.

Layaknya dengan simbol kedudukan tertinggi, bagi pengantin Sunda Putri, Mahkota Gunungan digunakan untuk menjadikan mempelai wanita sebagai Ratu sehari dalam perayaan pernikahannya. Yang dimaknai agar kelak bisa dengan bijakasana dalam menghadapi kehidupan berumah tangga.

Untaian bunga yang digunakan pada riasan Sunda Putri biasanya disebut dengan roncean sedap malam. Sesuai dengan namanya, bunga yang digunakan adalah bunga sedap malam.

Dalam hal pakaian yang digunakan oleh mempelai wanita, biasanya riasan Sunda Putri menggunakan kebaya brokat putih atau biasanya disebut Kebaya Kartini. Untuk model batik atau model samping-nya menggunakan samping lereng eneng.

Sekilas, samping lereng eneng ini bermotif kupu-kupu. Samping lereng eneng ini melambangkan jalan kehidupan setelah menikah yang perjalanannya akan sangat panjang dan penuh rintangan. Motif ini juga akan dikenakan oleh mempelai pria.

Bagi pria motif samping ini digunakan memaknai bahwa pada zaman dahulu ada seorang pria yang hendak melamar seorang gadis. Usaha untuk melamar gadis itu pun harus melewati sebuah lereng yang terjal, jauh, sulit, dan juga berbahaya. Perjuangan pria itu digambarkan oleh perjuangan mempelai pria saat berusaha mengambil hati mempelai wanita.

Sunda Siger

Riasan Sunda Siger atau kerap disebut sebagai Sunda Priangan memiliki ciri khas pada ‘’mahkota’’ pengantin wanita yang lebih besar seperti yang digunakan oleh riasan Sunda Putri. Mahkota itu disebut siger yang memiliki arti sangat mendalam.

Siger biasanya terbuat dari campuran logam yang memiliki berat mencapai satu hingga dua kilogram. Siger ini terinsipirasi dari tokoh Subardha dan Srikandi yang dianggap menjadi contoh dan representasi seorang wanita, karena memiliki sifat pemberani, anggun, cantik, dan disenangi masyarakat.

Bentuk siger menyerupai segitiga yang juga kerap disebut Siger Gunungan. Ini melambangkan hidup yang harus terus memuncak karena hidup akan tetap kembali kepada Yang di Atas atau kiasan untuk Sang Pencipta.

Dalam Kamus Basa Sunda R.A Danadibrata, siger diartikan sebagai mahkota untuk perhiasan kepala pengantin atau disebut wayang wong. Ini merupakan simbol bagi seseorang yang tengah melaksanakan upacara sakral yang akan hidup menyatu dengan pasangan. Siger juga berarti meletakkan kearifan, kehormatan, dan sikap bijak sebagai hal pokok yang harus dijunjung tinggi.

Riasan Sunda Siger biasanya dilengkapi dengan Kelat Bahu atau gelang bahu yang bentuknya mirip dengan siger namun dengan versi yang lebih sederhana dan lebih kecil. Bentuknya pun mengacu pada bentuk gunungan atau berbentuk segitiga seperti pada siger. Pemaknaannya pun sama bahwa ujung perjalanan manusia adalah kepada Sang Pencipta.

Untaian bunga pada riasan Sunda Siger disebut Roncean Melati. Sesuai namanya bunga yang digunakan adalah bunga melati.

Dalam hal pakaian, riasang Sunda Siger tidak mesti berwarna putih seperti pada riasan Sunda Putri. Ini karena semua difokuskan pada siger yang digunakan oleh mempelai wanita. Namun, ada perbedaan pada kain samping yang digunakan.

Riasan Sunda Siger menggunakan Samping Sidomukti yang kerap dinamakan sawitan (sepasang) karena harus digunakan juga oleh mempelai pria. Makna ‘’sido’’ berarti terus-menerus atau ‘’menjadi’’. Sedangkan makna ‘’mukti’’ berarti hidup dalam kebahagiaan dan berkecukupan.

Jadi, sidomukti bermakna sebagai harapan akan masa depan yang baik dan penuh kebahagiaan antarkedua mempelai. Sekilas, motif sidomukti adalah bentuk kupu-kupu.

Makna Setiap Sudut Riasan Pengantin Wanita

Makna Riasan Pengantin Sunda
info gambar

Meski ada perbedaan pada riasan kepala, namun secara keseluruhan kedua riasan tersebut memiliki riasan yang sama pada sudut lainnya. Berikut GNFI jabarkan arti dan makna dari setiap sudut riasan pada pengantin adat Sunda. Bahkan katanya pola setiap bunganya juga memiliki makna yang berbeda, loh.

Kembang Goyang

Terbuat dari logam bermata batu-batuan. Tujuh kembang goyang yang dipasang di atas sanggul mempelai wanita ini memiliki makna rezeki dan sari-sari kebaikan untuk kedua mempelai. Lima buah kembang goyang disematkan mengarah ke depan dan dua buah lainnya mengarah ke belakang. Hal tersebut adalah simbol kecantikan perempuan yang harus terlihat dari arah depan maupun belakang.

Panetep Wajik atau Ngeningan Daun Sirih

Hiasan daun sirih ini dipotong menyerupai bentuk wajik pada kening mempelai wanita. Hal ini dipercaya sebagai penolak bala dari berbagai musibah dan kejahatan yang bersifat magis. Ada pula yang mengartikannya sebagai janji setia kepada suami, atau kedewasaan pada diri perempuan yang akan melepas masa lajang dan akan hidup menjalankan bahtera rumah tangga.

Kembang Tanjung

Ini merupakan riasan berbentuk pola seperti hati atau belakangan ada yang berbentuk seperti kupu-kupu kecil, yang terdapat pada bagian belakang mahkota wanita. Susunan enam pasang kembang tanjung yang disematkan memberi makna kesetiaan mempelai perempuan kepada pasangannya.

Roncean Melati dan Roncean Sedap Malam

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, roncean ini biasanya menjuntai pada sisi kanan dan kiri mempelai wanita. Pada sisi kanan terdapat lima roncean yang panjang menjuntai, sedangkan yang kiri terdapat tiga roncean yang lebih pendek.

Selain roncean, ternyata ada juga beberapa rangkaian-rangkaian bunga yang dipasang di kepala pengantin wanita. Rangkaian bunga yang dipasang ini disebut mangle.

Mangle ini juga dibagi dalam beberapa bagian yaitu mangle pasung, mangle susun, mangle sisir bintang, mayang sari, ronce bawang sebungkul, dan tutup sanggul rambang melati. Tentu saja masing-masing memiliki makna yang berbeda.

Mangle Pasung: Dipasang dengan dasar berupa pinti yang menyerupai bando dan dipasang di sekeliling sanggul. Pinti menyimbolkan kesucian seorang gadis.

Mangle Susun: Untaian bunga yang memanjang di belakang telinga sebelah kanan. Panjangnya mangle susun menyimbolkan rencana pekerjaan rumah tangga yang telah disusun dengan rapih.

Mangle Sisir Bintang: Hiasan bunga berbentuk bintang yang dipasang di bagian kanan dan kiri sanggul. Mangle sisir bintang memiliki makna simbol harapan seperti indahnya malam yang bercahaya di tengah kegelapan malam.

Mayang sari: Merupakan untaian bunga pendek yang dipasang di belakang telinga sebelah kiri. Mayang sari memiliki makna spiritual yang mendeskripsikan harapan agar tidak ada perselisihan di dalam rumah tangga.

Ronce Bawang Sebungkul: Satu rangkaian bunga panjang yang disematkan pada bagian belakang telinga kanan dan kiri. Panjangnya ronce bawang sebungkul yang dipasang sama panjang untuk menggambarkan keseimbangan dalam hidup.

Tutup Sanggul Rambang Melati: Untaian melati yang berbentuk lebar seperti jala. Makna dari tutup sanggul rambang melati adalah makna seorang perempuan yang harus pandai menabung untuk masa depan.

Makna Setiap Sudut Riasan Pengantin Pria

Makna Riasan Pengantin Sunda
info gambar

Jas Buka Prengwadana

Pakaian yang digunakan oleh mempelai pria ini memberikan makna kebijaksanaan kaum pria yang mampu membimbing anggota keluarganya. Jas ini sebenarnya perpaduan antara baju koko dan baju pangsi. Baju koko dilambangkan dengan bersih dan suci, sedangkan baju pangsi konon menjadi simbol kejantanan pria.

Bendo

Penutup kepala yang dipakai mempelai pria ini bermakna bahwa kedudukan pengantin pria sebagai kepala rumah tangga adalah dengan mengayomi seluruh anggota keluarganya. Bendo ini sekilas mirip dengan blangkon khas Jawa. Yang membedakan hanya motif batik yang digunakan.

Keris

Disematkan di area pinggang mempelai pria sebagai senjata yang melambangkan kehidupan keluarga agar terhindar dari bahaya. Bagi masyarakat Sunda zaman dahulu, keris merupakan lambang pusaka yang mempunyai unsur yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan. Selain itu juga juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran.

Ternyata riasan adat Sunda sangat detil dan kaya akan makna, ya. SIapa Kawan GNFI yang akan menikah menggunakan adat Sunda? Jangan lupa syarat utamanya yang penting dipenuhi, ya! Harus ada dulu pasangannya.

--

Sumber: Bridestory.com | Mancode.id | Penjelasan Mengenai Pakaian Pernikahan Sunda Priangan (2019), UNIKOM, Nur Rizqa Ramadhanty

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini